Showing posts with label Mancanegara. Show all posts
Showing posts with label Mancanegara. Show all posts

Saturday, 4 April 2020

Bahkan Xi Jin Ping Tolak Rakyatnya Pulang, 208 WNA Asal China Tertahan di Bandara Soetta


DEMOKRASI.CO.ID - Ditengah Virus Corona mewabah di Indonesia, pemerintah China membuat kebijakan yang mengejutkan.

Otoritas China tidak menzinkan warga negaranya yang berada di Indonesia untuk kembali ke negaranya.

Akibatnya, ratusan warga asal China sempat tertahan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Jumlahnya sekira 208 orang yang akan terbang menggunakan pesawat Charter Garuda Indonesia GA-8900 tujuan Guangzhou, China, Jumat (3/4/2020) kemarin.

Hal itu buntut dari kembali menyebarnya Virus Corona di China.

Padahal, paspor mereka telah menerima cap clearance oleh Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta.

Namun, cap clearance atau tanda keluar dari negara Indonesia tersebut dibatalkan oleh pihak Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta menyusul adanya pembatalan penerbangan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Bandara Soekarno-Hatta, Saffar Muhammad Godam pun membenarkan informasi tersebut.

"Benar, bahwa pada tempat dan waktu tersebut telah dilakukan pembatalan keberangkatan terhadap 208 warga negara Tiongkok," ujar Godam saat dikonfirmasi, Sabtu (4/4/2020).

WNA China yang gagal pulang ke negara asalnya tersebut terdiri dari 205 orang penumpang dewasa dan tiga orang infant (bayi).

Godam membenarkan, pembatalan kepulangan ratusan WNA China tersebut karena tidak mendapat persetujuan dari Otoritas Pemerintah China. [*]

"Informasi sementara terakit pembatalan penerbangan yang sedianya mengangkut mereka (WNA China) karena belum mendapat persetujuan dari otoritas Pemerintah China," jelas Godam.

Sebagai informasi, seluruh penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta sudah dihentikan sejak 5 Februari 2020 karena pandemi Virus Corona atau Covid-19.(*)

Wakil Presiden Barcelona Positif Corona


DEMOKRASI.CO.ID - Wakil presiden Barcelona Jordi Cardoner dinyatakan positif terjangkit virus corona atau Covid-19.

Sebagaimana diberitakan Marca, Jordi Cardoner dinyatakan positif meski tidak menunjukkan gejala. Saat ini, ia sedangkan menjalani pemulihan.

Cardoner dilaporkan menjadi anggota ketiga yang dinyatakan positif corona.

Sebelumnya ada Direktur Medis Barcelona Ramon Canal dan dokter tim Josep Antoni Gutierrez.

Hingga saat ini, belum ada laporan pemain yang terjangkit virus corona. Pasalnya, Barcelona mengirim semua pemain mereka pulang sejak 13 Maret lalu.

Sementara itu, para pemain Barcelona dilaporkan sepakat untuk memotong gaji sebesar 70 persen di tengah pandemi virus corona.

Adapun pemotongan gaji dilakukan untuk membantu mengurangi beban klub agar karyawan lainnya menerima gaji penuh.

Diketahui, selama pandemi virus corona, klub-klub di Eropa kehilangan pendapatan yang biasa didapat dari tiket penonton hingga hak siar setelah kompetisi dihentikan sementara. [pojoksatu]

Lockdown Di Malaysia, Khairudin Harahap Bagikan Bantuan Untuk TKI


DEMOKRASI.CO.ID - Pengusaha asal Indonesia di negeri jiran, Khairudin Harahap, berinisiatif membagikan bantuan kepada TKI dan TKW Indonesia yang tinggal di bedeng-bedeng di sekitar proyek pembangunan di Kuala Lumpur.

Bantuan yang dibagikan Khairudin Harahap berupa beras dan mie instan yang diperkirakan cukup untuk kebutuhan selama tujuh hari.

Sampai hari Sabtu ini (4/4) Khairudin Harahap telah membagikan 413 paket bantuan. Hari Senin yang mendatang (6/4), ia akan kembali membagikan bantuan kepada 305 TKI dan TKW lainnya.

Kepada Kantor Berita Politik RMOL yang menghubunginya Sabtu sore melalui telepon, pria kelahiran Padang Sidempuan, Sumatera Utara, tahun 1958 ini mengatakan, dirinya merasa terpanggil untuk menyelamatkan TKI yang tentu kesulitan di saat Malaysia melakukan Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) atau Movement Control Order (MCO) secara nasional sejak tanggal 20 Maret lalu.

Khairudin Harahap sempat kuliah di Jakarta sebelum di tahun 1983 mengadu nasib ke Kuala Lumpur. Ia menekuni bisnis biro perjalanan. Kini, Angkola Travel & Tour Sdn. Bhd. yang didirikan dan dikelolanya terbilang sukses.

“Ada informasi yang saya dengar TKI di bedeng-bedeng ini sudah betul-betul tidak punya bahan makanan lagi. Maka kami antar semampu kami,” ujar Khairudin Harahap.

Sudah tujuh hari ia melakukan operasi kemanusiaan ini. Semua bantuan yang dibagikannya berasal dari perusahaan travel yang dipimpinnya.

“Ini seperti sedekah. Karena selama ini banyak TKI yang membeli tiket dari kami,” ceritanya lagi.

Walau sudah lama tinggal di negeri jiran, tetapi Kharudin Harahap masih cinta Indonesia. Dia belum menukar passportnya. Statusnya di Malaysia adalah Permanent Resident.

Kini ia adalah Penasehat PDI Perjuangan di Malaysia. Dalam pemilihan presiden tahun lalu dia juga menjadi Penasehat Utama Tim Kampanye Joko Widodo dan Marif Amin. Sebelum di PDIP, dia pernah juga aktif di Golkar.

Kharudin Harahap menambahkan, ada aturan yang membatasi pergerakan hingga maksimal 10 kilometer dari tempat tinggal. Itu sebabnya, ia tidak bisa membantu TKI yang tinggal di luar radius 10 kilometer.

“Untuk saudara-saudara kita yang berada di luar jangkauan saya, saya berharap ada pengusaha Indonesia lain yang mau membantu,” kata Khairudin Harahap.

Menurutnya, ada banyak pengusaha asal Indonesia yang telah sukses. Kalau semua bahu membahu memberikan bantuan seperti yang dia lakukan, maka akan semakin banyak TKI yang dapat dibantu di masa “lockdown” akibat penyebaran virus corona ini.

“Saya harapkan kalau ada pengusaha Indonesia yang sukes di Malaysia, tolong bantu kawan-kawan yang berada 10 kilometer dari tempat mereka. Bikin konsep seperti yang kami buat. Ada banyak yang sukses. Kalau bersatu semuanya berkurang penderitaan TKI di Malaysia,” kata Khairudin Harahap lagi.

Kemarin (Jumat, 3/4), Kementerian Luar Negeri Malaysia telah meminta agar Kedutaan Besar negara sahabat di Kuala Lumpur memperhatikan nasib warganegara masing-masing.

Khairudin Harahap mendengar kabar akan datang 60 ribu paket bantuan untuk TKI di Malaysia.

“Tolong dipercepat kedatangannya. Sudah 17 hri TKI kita tidak bekerja dan tidak ada bantuan makanan,” demikian Khairudin Harahap. [rmol]

Sehari Nyaris 1.500 Pasien Corona Meninggal di AS, Swedia Dianggap Santuy


DEMOKRASI.CO.ID - Amerika Serikat mencatat nyaris 1.500 kematian pasien virus corona dalam waktu 24 jam. Ini merupakan jumlah kematian harian yang tertinggi di dunia sejak pandemi virus corona dimulai.

Menurut data yang dirilis Johns Hopkins University seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/4/2020), sebanyak 1.480 kematian tercatat antara Kamis (2/4) pukul 20.30 waktu setempat hingga Jumat (3/4) pada jam yang sama. Dengan demikian, sejauh ini korban jiwa akibat virus corona di AS telah mencapai 7.406 orang.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (4/4/2020):

Swedia mendapat sorotan luas karena kebijakan lunaknya dalam menghadapi pandemi virus corona, yang telah mencapai lebih dari 6 ribu kasus di negeri makmur itu.

Pemerintah Swedia yang memiliki jaminan sosial yang kuat, beberapa pekan terakhir ini dituding oleh sejumlah pihak, baik internasional maupun dalam negeri, telah mempertaruhkan nyawa warganya dengan tidak mengambil langkah-langkah yang tegas untuk mencegah penyebaran virus corona.

Namun hal ini dibantah pemerintah Swedia. "Tidak, ini bukan bisnis seperti biasanya di Swedia," kata Menteri Kesehatan Lena Hallengren kepada media-media internasional seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/4/2020).

Swedia hingga kini tidak menerapkan lockdown seperti banyak negara lainnya. Negara Nordik itu hanya mengeluarkan sejumlah imbauan dan menyerukan warga untuk "masing-masing bertanggung jawab" dan mengikuti panduan.

Rekor Dunia, AS Catat Nyaris 1.500 Kematian Virus Corona dalam Sehari

Amerika Serikat mencatat nyaris 1.500 kematian pasien virus corona dalam waktu 24 jam. Ini merupakan jumlah kematian harian yang tertinggi di dunia sejak pandemi virus corona dimulai.

Menurut data yang dirilis Johns Hopkins University seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/4/2020), sebanyak 1.480 kematian tercatat antara Kamis (2/4) pukul 20.30 waktu setempat hingga Jumat (3/4) pada jam yang sama. Dengan demikian, sejauh ini korban jiwa akibat virus corona di AS telah mencapai 7.406 orang.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah mengingatkan tentang dua pekan mendatang yang sangat menyakitkan, seraya mengimbau seluruh warga AS untuk bersiap menghadapi hari-hari sulit ke depan.

138 Petugas Medis Malaysia Positif Corona, Tapi Bukan karena Tangani Pasien

Sebanyak 138 pekerja medis dari Kementerian Kesehatan Malaysia telah dinyatakan positif terinfeksi virus.

Namun Dirjen Kementerian Kesehatan Malaysia, Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan bahwa, tak satu pun petugas medis tersebut terinfeksi karena menangani pasien COVID-19 di bangsal-bangsal atau unit perawatan intensif (ICU) di fasilitas-fasilitas medis milik Kementerian Kesehatan.

Dikatakan Noor Hisham, sebagian besar dari petugas medis yang terkena virus corona itu terkait dengan resepsi pernikahan.

"58 Kasus (42 persen) terkait dengan resepsi pernikahan yang dihadiri orang-orang yang juga menghadiri tabligh akbar di Sri Petaling," ujar Noor Hisham pada pers seperti dilansir kantor berita Malaysia, Bernama, Sabtu (4/4/2020).

Pasien Virus Corona di Spanyol Dirawat di Hotel Bintang Lima

Sebuah ambulans yang mengangkut tiga pasien virus corona, tiba di sebuah hotel bintang lima di kota Barcelona, Spanyol. Ketiga pasien yang tadinya dirawat di rumah sakit itu, disambut oleh direktur hotel.

"Selamat pagi! Bagaimana kabar Anda? Saya Enrique Aranda dan saya mungkin pekerja non-medis pertama yang Anda lihat dalam beberapa hari," ujar Aranda, direktur hotel Melia Sarria, seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/4/2020).

"Beberapa pasien yang datang, berpikir bahwa mereka dibawa keluar rumah sakit untuk dibiarkan meninggal, banyak orang ketakutan. Saya mencoba membuat mereka melupakan itu semua," tutur Aranda yang mengenakan masker dan sarung tangan.

Hanya butuh waktu tiga hari untuk mengubah hotel bintang lima itu menjadi sebuah klinik khusus pasien COVID-19. Di hotel mewah ini, para pasien disambut oleh tim perawat yang mengenakan pakaian pelindung.

Pesan PM Australia untuk Pengunjung: Ini Saatnya Pulang ke Negara Asal

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengatakan bahwa kini tiba saatnya bagi para pemegang visa kunjungan dan pelajar internasional untuk kembali ke negara-negara asal mereka.

Hal ini disampaikan Morrison di tengah krisis pandemi virus corona yang melanda dunia, tak terkecuali Australia.

Usai rapat Kabinet Nasional pada Jumat (3/4) waktu setempat, Morrison mengatakan bahwa mereka yang berada di Australia dengan beragam visa dan tak bisa menghidupi diri mereka sendiri, maka "ada alternatif bagi mereka untuk kembali ke negara asal mereka".

"Pada saat seperti ini, jika Anda adalah pengunjung di negara ini, ini saatnya Anda pulang," kata Morrison.(dtk)

AS Diterpa Wabah Virus Corona, Trump Salahkan Obama


DEMOKRASI.CO.ID - Presiden AS Donald Trump menyalahkan pendahulunya, Barack Obama, setelah mereka diterpa oleh wabah virus corona.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, awak media menanyakan mengapa pemerintah terkesan lambat dalam menanggapi patogen yang menyebabkan penyakit Covid-19 itu.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Trump langsung menumpahkannya kepada pemerintahan masa Obama yang dianggap tidak siap menghadapi wabah.

"Rak kami kosong. Kami tidak punya amunisis maupun suplai kepada medis," kilahnya sebagaimana diwartakan BBC Jumat (3/4/2020).

Dia juga mengaku mewarisi "tes rusak". Tidak dijelaskan apa yang dimaksud oleh presiden 73 tahun itu, maupun tes apa yang diwariskan.

"Saya selalu tahu bahwa wabah adalah hal terburuk yang akan segera datang," terang pemimpin yang berasal dari Partai Republik itu.

Berdasarkan data dari Universitas John Hopkins, saat ini korban meninggal karena pandemi virus corona di AS mencapai 7.406 orang.

Dilansir AFP, data itu diperoleh setelah Negeri "Uncle Sam" mengonfirmasi 1.480 kasus kematian sejak pukul 20.30 Kamis (2/4/2020) hingga Jumat eaktu yang sama.

Catatan dalam 24 jam itu menjadi kasus mortalitas terburuk secara global sejak patogen itu terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019.

Pernyataan Trump itu muncul setelah Obama, yang berkuasa antara 2009-2017, melontarkan kicauan yang menyiratkan sindiran kepada suksesornya itu.

"Kita telah melihat berbagai konsekuensi mengerikan dari mereka yang mengabaikan peringatan dari wabah ini," kata Obama dikutip USA Today.


Mantan presiden dari Partai Demokrat itu menuturkan, dia memberikan sindiran kepada mereka yang tidak mengindahkan adanya perubahan iklim.

"Kami semua, terutama generasi muda, harus menuntut pemerintah berbuat lebih di segala level," terang eks pemimpin berusia 58 tahun itu.

Lebih lanjut, Trump menekankan pandemi virus corona ini tidak akan memengaruhi Pilpres AS yang akan berlangsung November mendatang.

Dia mengabaikan ide agar pemilih mengirimkan balot suara mereka melalui pos, dari pada harus datang ke tempat pemilihan.

"Harusnya Anda datang secara bangga ke bilik dan memberikan suara Anda. Bukan malah mengirimkannya melalui pos," cetus dia.

Dia mengklaim, memercayakan pemilihan kepada sistem pos bisa memberikan berbagai implikasi. Termasuk keyakinan bahwa pemilih bisa berbuat curang. [kompas]

Ketua IMF: Kondisi Dunia Sekarang Resesi, Lebih Buruk dari Krisis 2008


DEMOKRASI.CO.ID - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada Jumat (3/4/2020) memperingatkan resesi yang lebih buruk daripada krisis keuangan global pada 2008.

"Kita sekarang dalam resesi, jauh lebih buruk daripada krisis keuangan global," kata Georgieva pada Jumat dalam konferensi pers bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mencatat "dua krisis" - krisis kesehatan dan ekonomi - disebabkan oleh wabah COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah IMF.

Georgieva seperti dikutip Antara menekankan bahwa menyelamatkan nyawa dan melindungi mata pencaharian harus berjalan seiring ketika Virus Corona menyapu seluruh dunia.

Menurut WHO, lebih dari satu juta kasus COVID-19 yang telah dikonfirmasi telah dilaporkan, termasuk lebih dari 50.000 kematian.

Untuk mengakomodasi lonjakan ini, IMF mengerahkan total kapasitas keuangan satu triliun dolar AS, kata Georgieva, menekankan bahwa "kami bertekad untuk menggunakan sebanyak yang diperlukan dalam melindungi ekonomi."

Memperhatikan bahwa hampir 90 miliar dolar telah keluar dari pasar negara berkembang, bahkan lebih dari skala yang terlihat selama krisis keuangan global 2008, Georgieva mengatakan IMF memobilisasi bantuan pembiayaan darurat ke negara-negara emerging markets dan negara-negara berkembang, yang terpukul keras oleh pandemi.

Lebih dari 90 negara telah mengajukan permintaan kepada IMF untuk pembiayaan darurat, kata Georgieva, menyerukan negara-negara ini untuk memprioritaskan penggunaan pembiayaan guna membayar pekerja kesehatan, memastikan fasilitas kesehatan berfungsi dengan baik, serta mendukung orang-orang dan perusahaan yang rentan.

Dia memperingatkan gelombang kebangkrutan dan PHK akan membuat pemulihan semakin sulit.(*)

Rekor Dunia, AS Catat Nyaris 1.500 Kematian Virus Corona dalam Sehari


DEMOKRASI.CO.ID - Amerika Serikat mencatat nyaris 1.500 kematian pasien virus corona dalam waktu 24 jam. Ini merupakan jumlah kematian harian yang tertinggi di dunia sejak pandemi virus corona dimulai.

Menurut data yang dirilis Johns Hopkins University seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (4/4/2020), sebanyak 1.480 kematian tercatat antara Kamis (2/4) pukul 20.30 waktu setempat hingga Jumat (3/4) pada jam yang sama. Dengan demikian, sejauh ini korban jiwa akibat virus corona di AS telah mencapai 7.406 orang.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah mengingatkan tentang dua pekan mendatang yang sangat menyakitkan, seraya mengimbau seluruh warga AS untuk bersiap menghadapi hari-hari sulit ke depan.
Ini akan menjadi dua pekan yang sangat menyakitkan, sangat, sangat menyakitkan," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.

"Saya ingin semua warga Amerika bersiap untuk hari-hari sulit yang ada di depan," imbuh Trump.
Deborah Birx, koordinator respons coronavirus Gedung Putih bahkan menyatakan bahwa kisaran 100 ribu hingga 240 ribu kematian karena virus corona bisa terjadi di AS, meski dengan upaya-upaya mitigasi yang telah dilakukan saat ini.

"Tidak ada vaksin atau terapi ajaib. Hanya perilaku, masing-masing perilaku kita diterjemahkan menjadi sesuatu yang mengubah perjalanan pandemi virus ini selama 30 hari ke depan," ujar Birx.

Di seluruh dunia, setidaknya 1.082.470 kasus infeksi virus corona telah dilaporkan di 188 negara dan wilayah di seluruh dunia sejak wabah ini dimulai pada Desember 2019 lalu. Hingga kini sebanyak 57.474 kematian di dunia telah dilaporkan.

Italia menjadi negara dengan jumlah korban jiwa terbesar di dunia, dengan mencatat 14.681 kematian. Diikuti kemudian oleh Spanyol yang telah mencatat 10.935 kematian.(dtk)

Friday, 3 April 2020

Pemilik Usaha Di Arab Yang Terdampak Wabah Covid-19 Tidak Perlu Pusing, Raja Salman Menjamin Gaji Karyawan Selama Tiga Bulan


DEMOKRASI.CO.ID - Arab Saudi mengeluarkan kebijakan paket ekonomi terbaru yang ditujukan untuk membantu mengatasi dampak keuangan akibat wabah virus corona.

Raja Salman memahami kondisi perusahaan yang diterjang krisis akibat dari pandemi Covid-19 yang panjang ini.

Ia meminta pemerintah menanggung 60 persen gaji pegawai di Arab Saudi selama periode tiga bulan yang jumlahnya mencapai 9 miliar riyal atau Rp 40 triliun.
Kantor berita Saudi Press Agency melaporkan dana sebesar itu digunakan untuk membantu 1,2 juta pekerja di perusahaan-perusahaan yang terkena dampak wabah virus corona.

Mekanisme bantuan disesuaikan dengan ketentuan dalam sistem asuransi pengangguran (SANID). Di antaranya, 100 persen bantuan untuk perusahaan Saudi di berbagai fasilitas yang memiliki lima pegawai atau kurang dari itu. Lalu bantuan 70 persen bantuan untuk perusahaan yang memiliki pekerja Saudi lebih dari lima orang.

Sehingga majikan atau pemilik usaha terbebas dari kewajiban membayar gaji pada para pekerja selama periode kompensasi. Selama itu pula perusahaan dilarang mengharuskan pegawainya bekerja terkait wabah virus corona.

“Perusahaan-perusahaan yang saat ini dalam kesulitan dan mempertimbangkan akan memecat karyawannya akibat wabah, sekarang dapat mengajukan ke pemerintah untuk menanggung 60 persen gaji pekerja selama tiga bulan mendatang, sebesar 9.000 riyal (Rp 40 juta) per bulan" terang Menteri Keuangan Saudi Mohammed Al Jadaan.

Al Jadaan juga berterima kasih pada Raja Salman akan keluarnya kebijakan tersebut.

Ia mengimbau kepada perusahaan-perusahaan swasta agar melindungi para pekerja serta mencari cara menghindari pemecatan selama masa kompensasi.

“Sebanyak 1,2 juta warga Saudi akan menikmati kebijakan baru itu dan komite di bawah otoritas keuangan akan menilai dukungan dan memantau kebijakan itu jika perlu diperpanjang setelah tiga bulan,” ungkap Al Jadaan.

Dia menjelaskan, bantuan itu akan dimulai pada April dengan pembayaran pertama ke perusahaan pada 3 Mei.

Pemerintah Saudi memperpanjang jam malam di beberapa wilayah pada Kamis (2/4). Kota suci Makah dan Madinah sekarang menerapkan jam malam 24 jam, bertambah dari 15 jam per hari sebelumnya.

Hingga hari ini, Sabtu (4/4) Saudi mencatat angka kasus sebanyak 1.885 dengan jumlah kematian mencapai 21 orang.(rmol)

Takut Bawa Corona, Warga Nepal Bawa Batu Protes Kehadiran Warga Indonesia


DEMOKRASI.CO.ID - Warga di sebuah desa di Nepal memprotes keberadaan 13 warga negara Indonesia (WNI) di masjid mereka. Warga mengaku khawatir orang-orang asing itu membawa virus corona.

Dalam foto-foto yang diunggah Reuters, Kamis (2/4), terlihat warga melakukan protes sambil membawa batu di depan Masjid Jami di desa Imadol, Mahalaxmi, Nepal.

Foto lainnya memperlihat adu argumen yang berujung saling pukul antara dua orang di depan masjid.

Masjid itu terlihat telah dijaga oleh polisi. Keterangan foto Reuters menyebut, aksi protes digelar karena ketakutan warga akan virus corona yang dibawa orang asing.

Dikutip dari media Nepal, Khabarhub, ada 13 WNI yang berada di masjid tersebut. Walikota Mahalaxmi, Rameshwor Shrestha, mengatakan polisi yang mengantarkan para WNI itu ke masjid tersebut.

"Mereka tiba di Kathmandu dari Saptari. Polisi membawa mereka ke masjid itu tanpa memberi tahu kami," kata Shrestha.

Tidak diketahui kondisi kesehatan para WNI. Namun mereka telah dipindahkan ke tempat karantina virus corona di Desa Godavari karena masjid tak memiliki fasilitas tersebut.

Walikota Godavari, Gajendra Maharjan, mengatakan fasilitas karantina mereka bisa menampung hingga 50 orang. Sejauh ini di Nepal hanya ada 6 penderita virus corona.

Belum diketahui identitas dan keperluan para WNI itu di Nepal. Namun ada beberapa WNI anggota Jemaah Tablig di negara-negara tetangga Nepal seperti India dan Pakistan yang kini tengah menjalani karantina virus corona.

Di Pakistan, ada 4 WNI Jemaah Tablig yang positif terjangkit corona.(*)

Kenapa warga rohingya diusir dari negaranya

  Warga Rohingya telah mengalami pengusiran dan diskriminasi di Myanmar selama beberapa dekade. Konflik terhadap etnis Rohingya bersumber da...