Showing posts with label Dunia Hewan. Show all posts
Showing posts with label Dunia Hewan. Show all posts

Sunday, 8 January 2023

10 ULAR BERBISA PALING MEMATIKAN DI INDONESIA

 


10 ULAR BERBISA PALING MEMATIKAN DI INDONESIA


Ular adalah jenis hewan reptil yang banyak tersebar di wilayah Indonesia dan diantara jenis reptil berbahaya lainnya, ular berbisa adalah yang paling sering dijumpai berkeliaran disekitar tempat tinggal manusia. Karena ada banyak jenis ular berbisa yang sangat berbahaya bagi manusia, Jadi sebaiknya kita mewaspadai jika kita berhadapatan dengan ular berbisa paling mematikan ini yang jika tidak ditangani secepatnya dapat mengakibatkan kematian bagi manusia.


Apa saja ular berbisa paling mematikan di Indonesia? Ikuti penjelasannya di bawah ini.


10. Ular Picung



Ular Picung (Rhapdhopis subminiatus) adalah salah satu jenis ular Natricidae yang memiliki bisa sangat mematikan. Ular ini hidup dan berkelana di tempat-tempat lembab atau sekitar sumber air seperti sungai, rawa-rawa atau kolam. Ular yang dapat memiliki panjang hingga 1,3 meter ini juga banyak ditemukan disekitar persawahan atau perkebunan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.


Panjang ular Picung dapat mencapai 1,3 meter dengan kepala berwarna kehijauan atau hijau zaitun. Leher atasnya berwarna kemerahan. Tubuh bagian atas berwarna kecokelatan dengan dihiasi pola menyeripai papan catur dibagian atas punggungnya sementara bagian bawah tubuhnya berwarna kekuningan. 


9. Ular Bangkai Laut



Ular Bangkai Laut atau Ular Hijau Ekor Merah (t.Albolabris) adalah salah satu ular berbisa sangat berbahaya dan mematikan. Ular yang aktif di malam hari ini biasanya tidur bergulung di cabang pohon, semak atau kerimbunan ranting bambu. 


Ular Bangkai Laut termasuk ular yang agresif, mudah terasa terganggu dan cepat menggigit. Ular ini juga merupakan penyumbang kasus gigitan ular terbanyak di Indonesia. Menurut pengalaman, ular jenis ini sering menggigit para pencari kayu bakar, pencari rumput atau gembala yang tengah berjalan di hutan.


Bisa ular ini dan umumnya ular Crotalinae, bersifat Hemotoxin yang dapat merusak sistem peredaran darah. Gigitan ular ini pada manusia menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat dan kerusakan jaringan disekitar gigitan. Dalam menit-menit pertama setelah gigitan, jaringan akan membengkak dan sebagaian akan berwarna merah gelap pertanda terjadi pendarahan di bawah kulit di sekitar luka.


Apabila tidak ditangani dengan baik, pendarahan internal dapat menyusul terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari kemudian yang bahkan dapat membawa kematian.   


8. Ular Cobra Jawa



Ular Cobra Jawa atau ular sendok jawa (Naja Sputatrix) adalah salah satu jenis ular berbisa paling mematikan di Indonesia anggota suku Elapidae yang akhir-akhir ini banyak bermunculan di pemukiman rumah penduduk.


Cobra Jawa pada umumnya dapat dijumpai di lingkungan hutan hujan tropika, namun ular ini mampu beradaptasi dengan sangat baik pada pelbagai variasi habitat termasuk pada wilayah-wilayah yang lebih kering, hutan tanah kering dan lahan pertanian.


Ular bertubuh sedang hingga mencapai panjang hingga 1.85 centimeter ini memiliki tubuh bulat torak namun acap memipih datar di bagian muka. bagian disekitar leher dapat dilebarkan seperti tudung apabila merasa terancam. 


Walaupun ular ini bersifat defensif namun sangat cepat menyemburkan bisanya bila sedang terganggu yang jika mengengenai mata manusia dapat nerakibat kebutaan.Ular ini hidup diatas tanah dan aktif di malam hari. 


Menurut ahli Herpetologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahwa ada perbedaan signitifkan antara ular jenis kobra jawa dengan king cobra. King Cobra memiliki tubuh jauh lebih panjang dan besar jika dibandingkan dengan ular Kobra Jawa. Panjang tubuh King Cobra bisa mencapai panjang 6 meter sementara Ular Cobra Jawa memiliki panjang tubuh kurang dari 2 meter. Selain itu pada tubuh King Cobra dibagian kepala memiliki sepasang sisik occipital sementara Kobra Jawa tidak memiliki sisik tersebut.



7. Ular Tanah



Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma) adalah ular berbisa yang sangat mematikan dari keluarga Beludak berbisa yang sangat agresif. Ular yang termasuk dari anak suku Crotalinae ini banyak tersebar di Pulau Jawa dan sekitarnya.


Ualr Tanah merupakan predator penyergap yang hanya melingkar di tanah atau menyatu dengan daun-daun kering menunggu mangsanya lewat di dekatnya. Ular ini banyak hidup di hutan belukar, semak-semak atau lahan pertanian yang lembab atau kurang terurus atau sering juga ditemukan disekitar pemukiman penduduk.


Gigitan ular ini sangat menyakitkan dan mematikan. Meskipun gigitan fatal jarang terjadi, namun banyak korbannya yang kemudian mengalami kerusakan atau dwifungsi anggota badan atau bisa sampai di amputasi karena ketiadaan serum anti-bisa atau keterlambatan pengobatan. 



6. King Cobra



King Cobra atau Ular Anang (Ophiophagus hannah) adalah ular berbisa terpanjang di dunia. Ular ini berada di posisi keenam karena bisanya sangat mematikan dengan sifatnya yang sangat agresif. Ular King Cobra banyak ditemukan di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Pulau Bali, Bangka serta Kepulauan Mentawai.


Bisa ular King Cobra terutama tersusun dari protein dan polipeptida yang dihasilkan dari kelenjar ludah yang telah berubah fungsi yang terletak dibelakang mata. Tatkala menggigit mangsanya. bisa ini tersalur melalui taring sepanjang sekitar 8-10 mm yang menancap di daging mangsanya. Meskipun racun ular king cobra dianggap tidak sekuat ualr-ular berbisa lainnya, namun ular ini dapat mengeluarkan bisa yang cukup banyak ke tubuh korbannya. Percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa satu kali gigitan ular ini dapat mengeluarkan sejumlah bisa yang cukup membunuh 10 orang. 


Bisa ular King Cobra bersifat neurotoksin yakni menyerang sistem saraf korbannya serta dengan cepat menimbulkan rasa sakit yang amat sangat, pandangan yang mengabur, vertigo, dan kelumpuhan otot. Pada saat - saat berikutnya, korban akan mengalami kegagalan sistem kardiokasvolar dan selanjutnya kematian dapat timbul akibat kelumpuhan sistem pernafasan. 



5. Ular Bandotan Puspa



Ular Bandotan Puspa (Daboia siamensis) adalah salah satu ular berbisa paling mematikan di Indonesia dari jenis ular Beludak yang banyak hidup di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah bagian timur, Pulau Madura dan Nusa Tenggara Timur. Ular ini banyak aktif di malam hari dan mempunyai perilaku yang khas pada saat menyembunyikan dirinya yaitu badannya akan bergulung di dalam alang-alang yang kering.


Walaupun bisa ular ini sangat mematikan, Namun sebuah serum antibisa yang bernama Rusell's Viper Antivenin yang dibuat oleh Palang Merah Thailand dapat mengobati bisa dari ular yang sangat mematikan ini. 



4. Ular Cabe



Ular Cabe (Calliophis intestinalis) adalah sejenis ular berbisa sangat mematikan dari suku elapidae. Ular yang banyak terdapat di Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai, Pulau Jawa dan Kalimantan ini bertubuh kecil, panjang dan ramping dengan panjang total mencapai 58 centimeter. Kepalanya kecil dan sedikit memipih rata tak terbedakan dari lehernya dengan moncongnya yang membulat. sebuah bintik segitiga keputihan terdapat pada masing-masing pelipisnya.


Sebagaimana kerabatnya dari ular-ular suku Elapidae, Ular Cabe memiliki bisa yang sangat kuat dari golongan neurotoksin. Efek dari bisa ini dapat menimbulkan rasa pusing, mual-mual dan kesulitan bernafas pada korbannya. terasa sakit pada sekitar area gigitan, pembengkakan dan kematian jaringan (nekrosis).Kelenjar bisa pada Ular Cabe memanjang hingga sepertiga tubuh bagian depan korban dan bila tidak cepat-cepat ditangani akan mengakibatkan kematian.


3. Ular Putih Papua



Ular Putih Papua (Micropechis ikaheka) atau ular Senawan Papua yang endemik di Pulau Papua. Nama lokal ular ini adalah Ikaheka karena hidup di daerah yang lembab, basah dan becek (berlumpur).


Ciri ular ini adalah memiliki tubuh yang agak gemuk dengan ekor yang relatif pendek. kepala kecil tetapi dapat dibedakan dari lehernya. Matanya kecil dengan biji mata yang bulat. Kepala berwarna terang sampai kelabu gelap. Bibir. leher dan dagunya kekuning-kuningan. Lehernya berwarna kuning atau krem kadangkala ujung sisik berwarna gelap. Pada bagian tengah badannya berwarna cokelat kemerah-merahan dengan belang-belang sisik berwarna gelap atau kehitam-hitaman.Bagian perutnya berwarna kuning krem dengan tepi sisik yang berwarna hitam atau cokelat.


Ular ini sangat berbisa dan berbahaya. diketahui saat menggigit ia tidak akan langsung melepasnya melainkan akan terus mengunyah pada korbannya.  


2. Ular Death Edder



Ular Death Adder (Bitis albanica) adalah spesies ular Beludak yang banyak terdapat di Pulau Papua bagian selatan. Dari banyak ular berbisa paling mematikan di Indonesia, Death Adder berada pada posisi kedua ular berbisa paling mematikan di dunia Ular ini disebut-sebut memiliki bisa paling berbahaya karena dapat bereaksi dengan sangat cepat jika orang yang digigit tidak cepat-cepat mendapatkan pengobatan.


Death Adder berbeda jenis dengan ular derik, Ular ini memiliki dasar warna berwarna cokelat kelabu dengan belang-belang berwarna pucat. Ular ini bertubuh gemuk dan pendek, kepalanya menyerupai kapak ada sisik di atas kepala yang ukurannya kecil. Mata ular ini memiliki pupil yang vertikal, serta taring berukuran panjang. Ekor Death Adder berbentuk seperti cacing yang berfungsi memancing mangsanya agar tidak takut mendekat. 


Death Edder diketahui bisa menyuntikan sekitar 40 - 100 miligram racun saraf, yang mana sekali gigitannya dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian hanya dalam waktu 6 jam yang berakibat pada kegagalan fungsi pernafasan.


1. Ular Cokelat Papua/Taipan



Ular Cokelat Papua / Taipan (Oxyuranus) adalah ular berbisa paling mematikan di Indonesia dalam daftar list kami. Ular ini adalah jenis ular senawan bertubuh panjang, gesit, agresif dan memiliki bisa yang sangat tinggi. Taipan adalah salah satu dari 5 ular paling mematikan di dunia. 


Jenis ular ini memiliki bisa yang sangat mematikan, lebih tinggi dari bisa ular king cobra dan juga merupakan ular berbisa paling mematikan di dunia. Bisanya bersifat neurotoksin, sangat berbahaya dan dapat merusak saraf manusia. Ular yang tersebar luas di Pulau Papua bagian selatan ini hanya perlu meneteskan setetes saja racunnya untuk membunuh mangsa-mangsanya. 


10 ular berbisa ini memang sangat berbahaya dan mematikan jika terkena racunnya, jadi sebaiknya hindarilah jika bertemu dengan ular-ular diatas. Demi keselamatan Anda.



10 Hewan Endemik Hutan Hujan Tropis, Mulai dari Orangutan sampai Burung Kasuari

 


10 Hewan Endemik Hutan Hujan Tropis, Mulai dari Orangutan sampai Burung Kasuari


Hutan hujan tropis adalah salah satu jenis hutan yang terletak di garis ekuator sehingga memiliki temperatur yang hangat serta terpapar sinar matahari nyaris sepanjang tahun. Hutan ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.


Mengingat, keanekaragaman hayati yang tinggi, kira-kira hewan apa saja yang tinggal di hutan hujan tropis ya? Berikut ini 10 hewan endemik hutan hujan tropis di Indonesia!


1. Tarsius

Hewan endemik hutan hujan tropis yang pertama adalah tarsius.

Hewan endemik hutan hujan tropis yang pertama adalah Tarsius. Mengutip dari Jurnal Warta Rimba (2014) primata mungil ini hanya memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Bahkan Tarsius pumilus (Pygmy tersier) yang merupakan jenis tarsius terkecil hanya memiliki panjang tubuh antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197-205 millimeter.


Tarsius mengeluarkan nyanyian berupa cicitan rumit dengan berbagai nada saat mencari makan di malam hari dan pagi hari ketika akan kembali ke sarang. Nyanyian tersebut mengabarkan bahwa keluarga tarsius dalam keadaan sehat dan mengingatkan keluarga lain agar tidak memasuki wilayahnya.


Sejak tahun 1931, tarsius sudah dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266 tahun 2931, diperkuat dengan Undang-undang No.5 tahun 1990, serta Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 yang dikeluarkan tanggal 10 Juni 1991. Tarsius juga termasuk hewan yang dilarang untuk diperdagangkan dalam daftar Appendix II CITES.


2. Tarantula, Hewan Endemik Hutan Hujan Tropis yang Dianggap Mematikan

Laba-laba besar ini juga termasuk ke dalam hewan endemik hutan hujan tropis.

Banyak orang menganggap bahwa tarantula merupakan hewan yang sangat mematikan. Film-film menggambarkan dengan satu gigitan tarantula seketika membuat orang kehilangan nyawanya. Padahal, tarantula bukanlah hewan yang mematikan.


Tarantula sendiri merupakan jenis dari laba-laba yang lebih besar dan berbulu. Semua tarantula memang beracun, tetapi kadarnya berbeda. Bahkan yang kadarnya tinggi sekalipun tidak mematikan. Oh iya, tidak semua tarantula juga berwarna gelap. Beberapa ada yang memiliki warna dan juga motif yang indah.


Fyi, karena lagi ngomongin laba-laba, ternyata ia bukan satu-satunya organisme yang membuat jaring. Namun cara membuat dan menggunakan jaringnya tidak sama dengan kelompok hewan lain. Jaring hanya diproduksi dalam spineres di bagian ujung abdomen.


Laba-laba juga sangat peka terhadap kekeringan. Terdapat spesies laba-laba yang tahan terhadap kekeringan dan kekurangan makanan contohnya, Loxos celes. Spesies tersebut bisa bertahan lebih dari 1 tahun tanpa membutuhkan makan dan air.  


3. Beruang Madu

Hewan endemik hutan hujan tropis selanjutnya adalah beruang madu. Beruang madu termasuk ke dalam family Ursidae dan merupakan spesies terkecil dari delapan spesies beruang yang ada di dunia.


Di Indonesia, terdapat 2 jenis beruang madu yaitu Helarctos malayanus malayanus yang terdapat di Sumatra dan Helarctos malayanus euryspilus yang berada di Kalimantan.


Adapun sifat-sifat fisik beruang madu antara lain berbulu pendek, mengilai, dan pada umumnya hitam. Matanya berwarna coklat atau biru. Hidung beruang madu relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong. 


Daya penciumannya sangat tajam sehingga dapat mencium bekas injakan satwa lain maupun manusia. Kepala beruang madu relatif besar sehingga dapat merupai anjing, kupingnya kecil-bundar, dan dahinya penuh daging tampak berkerut.


Sejak April 2004 Persatuan Konservasi Dunia (IUCN) mengubah klasifikasi status konservasi beruang madu dari ‘tidak diketahui karena kurang data’ (Data deficient) ke ‘terancam’ (Vulnerable). Itu artinya beruang madu terancam punah terutama karena habitatnya berkurang terus-menerus.


4. Macan Dahan

Mengutip dari Jurnal Media Konservasi (2016), sejak tahun 2007 macan dahan atau clouded leopard dinyatakan memiliki dua spesies yang berbeda secara genetika yaitu macan dahan yang tersebar di daratan utama Asia (Neofelis nebulosa) dan Pulau Sunda besar seperti Indonesia (Neofelis diardi).


Macan dahan Indonesia merupakan predator terbesar di Pulau Kalimantan. Hewan ini bersifat endemik di wilayah bagian Asia-Tropis-Temperate. Oleh karena itu, keberadaannya sebagai top-predator sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di seluruh kawasan hutan Kalimantan.


Sayangnya, ancaman terbesar yang saat ini dihadapi oleh macan dahan adalah deforestasi dan fragmentasi habitat akibat alih fungsi hutan menjadi kawasan pemukiman dan pertanian. Apalagi, macan dahan merupakan satwa arboreal maka ketergantungannya terhadap ekosistem hutan sangat tinggi.


Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia mengklasifikasikan macan dahan ke dalam satwa yang dilindungi melalui PP no.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.


5. Tapir

Tapir juga merupakan hewan endemik hutan hujan tropis yang masuk ke dalam famili Tapiridae dan ordo Perissodactyla. Tapir adalah salah satu dari empat spesies famili Tapiridae yang masih hidup.


Tiga jenis tapir lainnya yaitu T. terrestris atau lowland tapir tersebar di dataran rendah Amerika Selatan bagian utara dan tengah. T. pinchaque atau mountain tapir tersebar di Pegunungan Andes yang berada di Kolombia, Ekuador, dan sebagian besar bagian utara Peru. Sementara Tapirus indicus tersebar di Myanmar dan Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaya, dan Sumatra.


Sebagaimana spesies satwa liar yang ada di ekosistem hutan tropis, tapir umumnya bersifat elusive (tidak suka menampakkan diri) dan berpenampilan cryptic (tersamar) sehingga sulit dilihat secara langsung.


Sayangnya banyak habitat tapir yang kemudian rusak akibat pembukaan ladang, penebangan kayu, hingga penambangan. Tentu, aktivitas ini dapat memengaruhi pola aktivitas tapir di habitatnya.


6. Orangutan, Kera Besar yang Terancam Punah

Siapa yang tak kenal primata satu ini? Yup, orangutan!

Selanjutnya ada hewan endemik hutan hujan tropis yang khas dengan Indonesia yaitu Orangutan. Orangutan adalah satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga kerabatnya, yaitu; gorilla, simpanse, dan bonobo hidup di Afrika.


Kini, jenis kera besar ini hanya ditemukan di Sumatera dan Borneo, 90% berada di Indonesia. Penyebab utama mengapa terjadi penyempitan daerah sebaran adalah karena manusia dan orangutan menyukai tempat hidup yang sama. Pemanfaatan lahan untuk aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya manusia umumnya berakibat fatal bagi orangutan.


Padahal, orangutan dapat dijadikan ‘umbrella species’ (spesies payung) untuk meningkatkan kesadaran konservasi masyarakat. Kelestarian orangutan menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya, sehingga diharapkan kelestarian makhluk hidup lain ikut terjaga pula. 


Sebagai pemakan buah, orangutan merupakan agen penyebar biji yang efektif untuk menjamin regenerasi hutan.



7. Belalang

Hewan ini memang dapat ditemukan hampir di semua ekosistem terestrial.

Hewan endemik hutan hujan tropis ini memang kerap kita temui keberadaannya, apalagi kalau bukan belalang. Belalang adalah serangga yang memiliki sayap tetapi ada sebagian yang tidak. Bentuk tubuh belalang memanjang yang terdiri dari beberapa segmen dan memiliki antena yang ukurannya relatif panjang atau pendek. Tubuh belalang terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala, torak, dan abdomen.


Belalang dapat ditemukan hampir di semua ekosistem terestrial. Sebagian besar spesies belalang berada di ekosistem hutan dan makan hampir setiap tanaman liar ataupun yang dibudidayakan. Makin tinggi keanekaragaman vegetasi pada suatu habitat maka akan semakin tinggi pula sumber pakan bagi belalang dalam suatu habitat, sehingga keberadaannya melimpah.


8. Gajah

Tahukah kamu, di dunia ini hanya ada dua jenis spesies gajah yaitu gajah Asia dan Afrika? Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah Asia. Sayangnya, populasi Gajah Sumatera mengalami penurunan drastis.


Penurunan tersebut terjadi di antaranya akibat dari rusaknya hutan dataran rendah Pulau Sumatera yang berperan sebagai penyedia pakan gajah. 


Sebanyak 75% gajah kemudian melakukan pergerakan untuk menemukan sumber pakan yang masih banyak dan sering kali masuk dalam wilayah perkebunan masyarakat. Hal tersebut lantas menyebabkan konflik antara manusia dan gajah yang berakhir dengan kematian gajah.


Badan konservasi dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkan Gajah sumatera sebagai satwa dengan status terancam punah (critical endangered) dan tergolong satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999.


9. Harimau Sumatra

Harimau Sumatra adalah satu-satunya anak jenis harimau yang tersisa di Indonesia. Sebelumnya, di Indonesia terdapat tiga anak jenis harimau di mana dua di antaranya, harimau bali dan harimau jawa, dinyatakan punah sekitar tahun 1940-an dan 1980-an.


Salah satu penyebab kepunahan dua anak jenis harimau ini adalah adanya perburuan secara besar-besaran pada masa penjajahan dan makin menyempitnya habitat alami harimau. Sementara harimau sumatera saat ini dinyatakan mengalami penurunan populasi dan menuju kepunahan.


Adapun, berkurangnya populasi harimau disebabkan oleh berbagai faktor seperti menyempitnya areal hutan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan, pemukiman, pertanian, dan industri. Walhasil mempersempit habitat yang dapat berdampak pada penurunan

 populasi.



10. Burung Kasuari, Hewan Endemik Hutan Hujan Tropis yang Tidak Bisa Terbang

Kasuari, burung endemik Indonesia yang selalu memukau!

Kasuari memiliki tubuh yang besar, leher yang panjang. Kasuari betina lebih besar dan berwarna cerah. Sementara kasuari dewasa setinggi 1,5 -1,8 m, meskipun beberapa betina mencapai 2 m dan berat 58,5 kg.


Kasuari menggunakan kaki mereka yang memiliki tiga jari dengan cakar tajam sebagai senjata. Kasuasi juga bisa berjalan hingga 50 km/jam melalui hutan lebat dan bisa meloncat hingga 1,5 m.


Sayangnya, populasi burung kasuari mengalami tekanan dan habitat hidupnya terganggu sebagai dampak pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan peningkatan penggunaan lahan. Masalah yang cukup serius adalah perburuan liar, baik terhadap burung dewasa, anak, maupun telurnya.


Penduduk setempat memanfaatkan dagingnya sebagai sumber protein hewani, sedangkan tulangnya dimanfaatkan sebagai senjata (mata tombak, mata panah, dan pisau).


Itulah 10 hewan endemik hutan hujan tropis yang ada di Indonesia. Harapannya melalui artikel ini kita menjadi sadar pentingnya keberadaan hutan bagi alam dan juga fauna. Karena, sudah semestinya juga kita saling menjaga dan melindungi sesama makhluk hidup di bumi!

8 Hewan Terbesar di Dunia yang masih hidup sampai sekarang


 8 Hewan Terbesar di Dunia, Ukurannya Bikin Terkejut!

Pernahkah terbayang olehmu seperti apa hewan terbesar di dunia?


Hewan terbesar di dunia sudah pasti adalah hewan yang memiliki tubuh sangat besar, bahkan kita cenderung menganggapnya sebagai hewan raksasa.

 Berikut adalah hewan raksasa yang masih hidup sampai sekarang.


Pertama ada Paus biru.


Hewan terbesar di dunia yang masih bisa kita jumpai sekarang adalah paus biru (Balaenoptera Musculus). Paus biru menjadi mamalia laut terbesar di dunia yang ukurannya bisa mencapai 33 meter dengan berat hingga 181 ton lebih.


Ukurannya yang sebesar kapal pesiar ini membuatnya menyandang predikat sebagai hewan terbesar di dunia yang pernah ada di bumi.


Kebanyakan paus biru bisa dijumpai di Samudra Pasifik, tapi ada juga yang menemukannya di Samudra Hindia dan Samudra Selatan.


Awalya paus biru menjadi hewan yang bisa mudah dijumpai, lalu pada awal abad ke-20, paus biru ini banyak diburu sebelum akhirnya menjadi salah satu hewan yang dilindungi pada tahun 1966 dan manusia tidak diperbolehkan lagi memburunya.


Kedua ada Hiu Paus.


Selain paus biru, ada hiu paus (Rhincodon Typus) yang menjadi spesies ikan terbesar di dunia. Panjang dari hiu paus ini bisa mencapai hingga 12 meter lebih dan berat sekitar 21 ton lebih.


Hiu paus memiliki tampilan yang agak menyeramkan karena memiliki mulut moncong yang sangat besar ketika terbuka. Lalu pada bagian atas badannya yang berwarna hitam terdapat corak bintik-bintik berwarna putih.


Saat membuka mulutnya, maka ikan-ikan kecil dan plankton akan terserap masuk ke dalam mulutnya.


Hewan terbesar di dunia ini ternyata menghuni semua lautan tropika yang bersuhu hangat karena hiu paus sangat suka di udara yang hangat. Hiu paus paling banyak dijumpai di kawasan sebelah barat benua Australia.


3. Cumi-cumi Raksasa.


Masih dengan hewan terbesar di dunia yang tinggal di lautan, ada cumi-cumi raksasa (Architeuthis Dux) yang ukuran panjangnya bisa mencapai 13 mete dengan berat hingga 1 ton lebih.


Cumi-cumi raksasa atau yang lebih dikenal dengan nama giant squid ini tinggal di kedalaman laut sehingga agak sulit untuk menjumpainya.


Meski agak sulit dijumpai, tapi habitat cumi-cumi raksasa ini tersebar di seluruh lautan dunia.


4. Gajah Semak Afrika.


Gajah Semak Afrika (Loxodonta Africana) juga menjadi salah satu hewan terbesar di dunia yang hingga kini masih bisa kita jumpai. Gajah Afrika terbagi menjadi dua spesies yakni gajah hutan Afrika dan gajah Semak Afrika.


Dari keduanya ini, gajah semak Afrika yang memiliki ukuran lebih besar. Gajah semak Afrika memiliki ukuran tinggi hingga 3,3 meter dengan panjang sekitar 7,5 meter. Sementara untuk beratnya bisa mencapai 6 ton.


Sesuai dengan namanya, gajah semak Afrika ini tentu saja bisa dijumpai dengan mudah di dataran benua Afrika. Tapi ada juga beberapa negara yang memeliharanya di kebun binatang.


5. Kepiting Laba-laba Jepang.


Hewan terbesar di dunia selanjutnya adalah kepiting laba-laba Jepang (Macrocheira Kaempferi) yang ukurannya bisa mencapai 4 meter dengan berat hingga 20 kg lebih.


Nama lain dari hewan terbesar di dunia ini adalah kepiting berkaki panjang karena keunikannya tak hanya terletak dari besarnya ukuran saja, tetapi dari panjangnya kaki.

Dinamakan kepiting laba-laba Jepang karena memang banyak dijumpai di Jepang, terutama di lautan selatan kepulauan Honshu. Hewan terbesar di dunia ini hidup di kedalaman laut antara 50-600 meter sehingga agak susah untuk menemukannya.


6. Buaya Muara.


Buaya muara (Crocodylus Porosus) menjadi salah satu hewan terbesar di dunia yang memiliki ukuran hingga mencapai 7 meter dengan berat sekitar 2-3 ton.


Buaya muara banyak tinggal di wilayah sungai-sungai dan juga di dekat lautan atau muara sehingga seringkali dijuluki sebagai buaya air asin.


Hewan terbesar di dunia ini tersebar di seluruh wilayah di dunia. Mulai dari perairan dataran rendah dan perairan pantai di daerah tropis Asia Tenggara dan Australia.


Buaya muara sangat aktif di siang dan malam hari dan bisa memangsa siapapun yang masuk ke dalam wilayahnya sehingga bisa dikatakan kalau jenis buaya ini sangat ganas dan berbahaya untuk manusia.


Buaya muara punya kemampuan untuk melompat dari dalam ke dalaman air sekitar 7 meter lebih untuk menerkam mangsanya.


7. Beruang Kutub.


Beruang kutub (Ursus Maritimus)menjadi salah satu hewan terbesar di dunia yang memiliki panjang hingga 2,7 meter dengan berat mencapai 600 kg.


Beruang kutub atau beruang es memang memiliki warna bulu putih yang terlihat menggemaskan, tapi ia adalah mamalia yang sangat berbahaya karena menyandang predikat sebagai karnivora darat terbesar dan sangat ditakuti oleh hewan-hewan lain, terutama anjing laut.


Kemampuan indera penciumannya sangat tajam. Beruang kutub bahkan mampu mencium aroma bangkai hewan hingga jarak 30 km. Hewan terbesar di dunia ini bisa hidup hingga 50 tahun lamanya.


8. Beruang Kodiak.


Hewan terbesar di dunia yang terakhir adalah beruang kodiak (Ursus Arctos Middendorffi). Beruang ini sering kita jumpai di film-film dan digambarkan sebagai beruang berwarna cokelat yang hidup di hutan dan sangat berbahaya.


Hewan terbesar di dunia ini adalah hewan omnivora terbesar dengan panjang sekitar 2,5-3 meter dan beratnya bisa mencapai 680 kg lebih. Saat berjalan dengan keempat kakinya, tinggnya mencapai 1,5 meter.


Beruang kodiak tumbuh dan berkembang di Kepulauan Kodiak di Alaska. Diperkirakan ada sekitar 3.500 ekor beruang kodiak yang ada di daerah tersebut. Beruang kodiak ini paling suka menyantap ikan dan buah-buahan.


Itulah beberapa hewan terbesar di dunia yang ukurannya bikin terkejut. Selain kedelapan hewan di atas sebenarnya masih ada lagi hewan terbesar di dunia, tapi kebanyakan sudah punah sehingga tidak bisa kita jumpai lagi.

Monday, 14 October 2019

YANG PERLU KITA KETAHUI TENTANG HEWAN KAKI SERIBU


Kaki seribu atau dikenal juga dengan sebuatan keluwing adalah salah satu hewan kebun yang kehadirannya cukup meresahkan. Banyak orang merasa takut jika bertemu dengan kaki seribu sebab bentuk fisik dari hewan ini menyerupai kelabang.

Tentu saja anggapan tersebut tidak benar, kaki seribu tidak sama dengan kelabang, dan tidak memiliki racun yang berbahaya bahkan cenderung pemalu. Kalau kita sentuh sedikit saja, maka kaki seribu akan melingkarkan tubuhnya sebagai tanda perlindungan diri.

Meskipun tidak berbahaya, namun perlu adanya tindakan yang tepat untuk membasmi hama ulat kaki seribu ini agar tidak semakin mewabah. Jika Anda berfikir dengan membunuhnya atau menyingkirkan satu – dua ekor kaki seribu sudah cukup efektif, maka Anda keliru.

Ulat kaki seribu memiliki banyak telur dan larva yang sudah siap untuk kembali menyerbu perkebunan Anda, bahkan pada beberapa khasus ulat kaki seribu dewasa akan masuk ke dalam rumah. Lalu bagaimana cara membasmi hama ulat kaki seribu yang benar? Berikut akan kami berikan solusinya.

Bagaimana membedakan jantan dan betina? Bida dilihat dari kaki. Jantan memiliki kaki khusus bernama gonopod. Jantan akan menampung dan menyalurkan sperma di gonopod ke kelamin betina. Si betina, sebagian mampu kawin hingga berulang kali, dan mampu menelurkan sedikitnya 1.200-2.000 butir. “Ada juga sekali kawin dan bertelur, setelah itu mati.”

Cara Membasmi Hama Ulat Kaki Seribu

Untuk membasmi hama ulat kaki seribu tidak diperlukan banyak teknik atau cara-cara khusus yang rumit, berikut adalah beberapa tips sederhana yang bisa Anda praktekkan untuk melenyapkan hewan yang memiliki sebutan ulat gagak ini.

1. Gunakan Furadan

Ada yang berpendapat bahwa penggunaan furadan tidak dianjurkan karena bisa merusak kesuburan tanah. Namun pendapat tersebut tidak seratus persen benar. Penggunaan furadan yang tepat sesuai dosis dan aturan pemberian bukanlah suatu permasalahan.

Taburkan sedikit furadan di tempat-tempat kaki seribu biasa bersembunyi, diantaranya di balik batu, pada dedaunan kering, juga pada pot tanaman. Tunggu beberapa saat dan hama ulat kaki seribu akan mati dengan sendirinya.

2. Berikan Akses Pada Sinar Matahari

Jika Anda kerap menjumpai lahan atau rumah Anda didatangi oleh hama ulat kaki seribu, maka hal tersebut mengindikasikan bahwa lingkungan Anda termasuk lingkungan yang lembab. Sebaiknya Anda sering-sering membuka jendela rumah atau memberi lubang angin yang cukup agar sinar matahari dapat masuk ke dalam.

Demikian pula pada kebun pertanian Anda, bersihkanlah dari tanaman yang terlalu tinggi atau rimbun, agar sinar matahari bisa menembus. Dengan mengurangi kelembapan, maka tempat Anda akan terbebas dari hama ulat kaki seribu.

3. Bersihkan Rumah dengan Karbol

Hama Kaki seribu tidak menyukai bau yang menyengat, karena itulah gunakan karbol atau pembersih lantai lainnya untuk mengepel dan menghadirkan bau yang tajam seperti bau pine di rumah Anda. Niscaya hama kaki seribu akan enggan untuk sekedar mampir ke dalam rumah.

4. Berikan Insektisida atau Kapur Semut

Seperti halnya bau karbol yang menyengat, hama kaki seribu juga tidak senang dengan kapur semut. Berikan atau garisi akses masuk kaki seribu dengan kapur semut untuk menghalangi masuk ke dalam rumah. Melingkari lubang sembunyi dari hama kaki seribu juga bisa Anda lakukan agar binatang tersebut tetap berada dalam sarangnya.

5. Mengusirnya Secara Langsung

Hama kaki seribu adalah hewan yang berjalan lambat, karenanya Anda dengan mudah dapat membunuhnya dan menyingkirkannya. Cara ini cukup praktis dan tidak membutuhkan banyak upaya, namun kelemahannya tentu saja akan membutuhkan waktu yang lama disamping bau dari kaki seribu yang tidak enak jika dibunuh.

Lagi pula cara tersebut tentu tidak akan efektif mengingat di luar sana masih banyak telur atau larva yang siap berkembang biak. 

Dampak Negatif Kehadiran Kaki Seribu

Kaki seribu memang tidak menggigit atau pun menimbulkan kerusakan parah terhadap perkebunan, namun kehadirannya tentu saja akan menimbulkan dampak negatif, terlebih jika sudah beranak pinak dan mewabah di lingkungan sekitar kita. Inilah alasan mengapa Anda harus membasmi hama kaki seribu.

1. Dapat Merusak Akar

Sebenarnya kehadiran hama kaki seribu pada perkebunan tidaklah sepenuhnya merugikan, kaki seribu dapat perperan seperti cacing yang mengurai daun dan sampah di dalam tanah sehingga ikut berperan dalam kesuburan.  Hewan ini masuk katagori decomposer, artinya pemakan sisa-sisa tumbuh-tumbuhan. Kotoran sisa pengolahan makanan yang dikeluarkanpun, mampu meningkatkan zat hara di tanah. Hingga mampu menyuplai kebutuhan dan kesuburan tanah, yang bermanfaat bagi tumbuhan.
Namun populasinya yang berkebihan dan kurangnya bahan makanan di habitatnya bisa membuat hama ini menjadi pemkan akar tanaman yang masih muda. Karena itulah kaki seribu baiknya segera dibasmi.

2. Menggundang Hadirnya Kelabang

Dalam rantai makanan, kaki seribu kecil adalah mangsa atau makanan dari kelabang. Karena itulah kehadiran hama kaki seribu dalam jumlah yang besar dapat mengundang kelabang. Hal ini tentu semakin tidak baik, mengingat kelabang memiliki racun yang berbahaya bagi manusia.

3. Kehadiran Kaki Seribu di Rumah Berbahaya

Kaki seribu yang berukuran kecil atau ulat gagak bisa saja masuk ke dalam telinga manusia ketika tidur, selain itu hewan ini akan mengeluarkan semacam lendir yang bisa membuat beberapa orang menjadi alergi dan gatal-gatal. Dari pada menghadapi resiko yang tidak menyenangkan tersebut, pasti akan lebih baik untuk segera mengambil langkah memusnahkan hewan ini.

4. Pembengkakan Pada Permukaan Kulit

Pada orang yang tidak tawar dengan kehadiran kaki seribu atau lendirnya, alergi yang ditimbulkan bisa lebih parah dari sekedar gatal-gatal. Beberapa akan mengalami pembengkakan pada area tubuh yang terkena interaksi bahkan hingga demam.

Kenapa warga rohingya diusir dari negaranya

  Warga Rohingya telah mengalami pengusiran dan diskriminasi di Myanmar selama beberapa dekade. Konflik terhadap etnis Rohingya bersumber da...