Showing posts with label Daerah. Show all posts
Showing posts with label Daerah. Show all posts

Saturday, 4 April 2020

Ambulance Kecelakaan, Tiga Paramedis Luka-luka: Kepala Puskesmas, Ambulance Sudah Tak Layak Jalan


DEMOKRASI.CO.ID - Satu unit armada ambulans Puskesmas Tangkeh, Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, Sabtu (4/4) pagi sekira pukul 09.30 WIB mengalami kecelakaan dan nyaris masuk ke dalam sungai yang berada tidak jauh dari Mapolsek setempat.

Akibat musibah ini, tiga orang paramedis mengalami luka ringan. Mereka di antaranya masing-masing Teuku Muhammad Hasan (luka di kepala dan terkilir), Rita Eviani Amd Kep (mengalami benturan) serta Maulida (alami luka benjolan).

Paramedis yang mengalami kecelakaan tersebut bergerak dari Puskesmas Tangkeh menuju ke Desa Seuradeuk, Kecamatan Woyla Timur.

Meski paramedis yang terluka sudah berhasil dievakuasi, namun satu unit armada ambulans masih berada di lokasi kejadian dan belum bisa ditarik ke badan jalan.

Camat Warjohan menegaskan, berdasarkan keterangan dari salah satu korban, penyebab kecelakaan ambulans tersebut dikarenakan ini diduga tidak layak untuk dioperasikan.

“Ambulans yang kecelakaan itu memang kondisinya sangat tidak layak jalan, sopirnya sudah memberitahukan hal ini pada kepala puskesmas akan tetapi kurang mendapatkan perhatian,” kata Warjohan.

(dhe/pojoksatu/ant)

Data Baru Corona di Jabar: 247 Positif COVID-19, ODP Tembus 20 Ribu Orang


DEMOKRASI.CO.ID - Jumlah warga Jawa Barat yang terkonfirmasi COVID-19 terus merangkak. Laman pikobar.jabarprov.go.id menampilkan hingga Sabtu (4/4/2020) pukul 21.00 WIB, sebanyak 247 orang terinfeksi virus corona, angka ini bertambah 22 orang dari 225 orang sehari sebelumnya.

Sementara itu jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Jabar menembus angka 20.712, meningkat drastis dari 16.392 ODP. Di mana 16.150 di antaranya masih menjalani masa pemantauan, sisanya sudah selesai.

Jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) juga turut meningkat menjadi 1.354 dari jumlah sebelumnya, 1.205 PDP. 936 di antaranya masih menjalani proses pengawasan.

Dalam selang sehari, tiga orang meninggal dengan keterangan positif COVID-19, jumlah itu menambah angka kasus kematian menjadi 28 orang. Kendati begitu, jumlah orang yang sembuh dari virus ini bertambah menjadi 12 orang, sementara secara nasional jumlah warga yang sembuh berada di angka 150 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Jabar Berli Hamdani memastikan pengurusan jenazah tak hanya memperhatikan etika agama, budaya dan sosial yang dianut, namun juga melewati prosedur teknis kesehatan yang ketat. "Semua lubang-lubang tubuh ditutup dengan kasa absorben dan diplester kedap air. Petugas harus memastikan badan jenazah bersih dan kering," kata dia.

Petugas yang mengantar pun dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD)."Semua prosedur dibuat untuk menghormati jenazah, keluarga jenazah, serta melindungi diri dan lingkungan dari penularan," katanya.(dtk)

Warga Bandung Positif COVID-19 Terbanyak di Cicendo dan Kiaracondong


DEMOKRASI.CO.ID - Sebanyak 41 warga Kota Bandung dinyatakan positif terpapar virus corona (COVID-19) per Sabtu (4/4/2020) malam. Dari 30 kecamatan di Kota Bandung, kecamatan mana yang paling banyak warganya terkonfirmasi positif Corona?

Dari data yang dihimpun detikcom, dalam situs Pusat Informasi COVID-19 (Pusicov) Kota Bandung, Kecamatan Cicendo menjadi kecamatan yang memiliki banyak warga terpapar corona.

Ada delapan orang warga Kecamatan Cicendo dinyatakan positif corona. Disusul Kecamatan Kiaracondong (Kircon) dengan lima orang warga positif corona.

Seperti diketahui, untuk warga positif corona mencapai 41 orang. Di antaranya, 23 masih menjalani perawatan, 6 sembuh dan 12 meninggal dunia.

41 orang warga positif itu tersebar di beberapa kecamatan yang ada di 30 kecamatan di Kota Bandung. Kecamatan Andir 3 orang, Antapani 1 orang, Arcamanik 1 orang, Astana Anyar 1 orang, Babakan Ciparay 3 orang, Bandung Kidul 1 orang, Bandung Wetan 2 orang, Bojongloa Kaler 2 orang, Bojongloa Kidul 1 orang, Buah batu 2 orang, Cibeunying Kidul 2 orang, Cicendo 8 orang, Coblong 2 orang, Kiaracondong 5 orang, Lengkong 1 orang, Mandalajati 1 orang, Rancasari 1 orang, Regol 3 orang dan Sumur Bandung 1 orang.

Sementara itu, enam orang sembuh di antaranya merupakan, warga Kecamatan Babakan Ciparay 2, Cicendo 1, Coblong 1, Kiaracondong 1 dan Regol 1.

Sedangkan, delapan orang meninggal dunia merupakan warga Kecamatan Sukasari 1 orang, Cicendo 2 orang, Andir 1 orang, Kiaracondong 1 orang, Lengkong 1 orang, Regol 1 orang dan Bandung Kidul 1 orang.(dtk)

Update Corona di Jatim: Tak Ada Tambahan Positif, Sembuh 30, Meninggal 14


DEMOKRASI.CO.ID - Kasus Covid-19 atau corona di Jawa Timur tidak mengalami penambahan kasus untuk confirm atau positif. Total pasien positif di Jatim masih sama, yakni 152 orang.

Sedangkan kasus Pasien dalam Pengawasan (PDP) naik 63 jadi 780 dan Orang dalam Pemantauan (ODP) bertambah 681 jadi 10.116.

"Data PDP kemarin 717 sekarang 780, ODP 10.116 yang konifirmasi positif hari ini Alhamdulillah tidak ada. Dari pusat konfirmasinya untuk Jawa Timur tidak ada. Jadi 152 yang konfirm, 780 PDP dan 10.116 ODP," kata Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat press conference di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (4/4/2020).

Sementara pasien yang sembuh, Khofifah mengatakan ada dua pasien. Yakni satu dari Blitar dan satu dari Surabaya.

"Alhamdulillah hari ini kami dapat informasi lagi ada dua pasien covid positif sembuh satu Blitar, satu Surabaya. Sehingga total pasien sembuh di Jatim menjadi 30 orang setara dengan 19,74%," ujarnya.

Sedangkan yang meninggal ada tiga orang. Dua dari Surabaya dan satu dari Kediri. Sehingga total pasien meninggal menjadi 14 orang

"Hari ini kami juga berduka ada tiga pasien positif meninggal dua Surabaya, satu Kediri," pungkas Khofifah.(dtk)

Kasus Positif Corona di Sumut Jadi 46, Medan-Deli Serdang Masuk Zona Merah


DEMOKRASI.CO.ID - Jumlah pasien positif Corona atau COVID-19 di Sumut terus bertambah. Hingga hari ini terdapat 46 orang yang dinyatakan positif.

"Positif 46 orang. Meninggal 5 orang, 4 hasil pemeriksaan swap, satu hasil pemeriksaan rapid test," ujar jubir Gugus Tugas COVID-19 Sumut Aris Yudhariansyah, Sabtu (4/4/2020).

Aris menjelaskan pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) di Sumut juga bertambah. Dia mengatakan ada tiga daerah di Sumut yang masuk ke zona merah Corona.

"Orang dalam pemantauan yang melapor mengalami peningkatan sebesar 21,7 persen, data pasien yang positif 21,7 persen, pasien dalam pengawasan mengalami peningkatan 18,8 persen dari data hari Jumat (3/4)," jelas Aris.

Untuk zona merah ada di Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Tanjungbalai. Dengan kepadatan penduduk dan mobilitas masyarakat yang tinggi. Selain itu, daerah ini menjadi pintu masuk dari luar Sumatera Utara dan negara lain," paparnya.(dtk)

Diminta Isolasi Diri, 2 Pasien Positif COVID-19 di Sumsel Malah Keliling Kota


DEMOKRASI.CO.ID - Meski telah dinyatakan positif terpapar coronavirus disease (COVID-19) sejumlah pasien di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, diketahui masih bisa bebas keliling kota. Hal ini pun sempat membuat heboh warga di daerah tersebut.

Juru bicara gugus tugas pencegahan dan penanggulangan COVID-19 Sumsel, Yusri, membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, peristiwa itu terjadi Jumat (3/4) di mana ada dua pasien dengan nomor kasus 09 yang merupakan seorang wanita berusia 42 tahun dan pasien laki-laki berusia 62 tahun dengan nomor 10, diketahui tidak patuh untuk menjalankan instruksi isolasi diri.

"Kedua pasien positif ini masih memiliki hubungan keluarga dengan pasien positif COVID-19 nomor 02 yang telah meninggal dunia," katanya, Sabtu (4/4).

Menurutnya, kedua pasien itu sebelumnya sudah diminta melakukan isolasi diri sejak pasien 02 berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Kemudian, setelah pasien 02 dinyatakan positif petugas kemudian turut mengambil sampel spesimen sejumlah anggota keluarganya.

"Ada tiga anggota keluarganya yang telah kita ambil sampel dengan nomor 09,10, dan 11. Hasilnya semua dinyatakan positif terpapar COVID-19," katanya.

Yusri bilang, karena mereka tidak memiliki gejala atau orang tanpa gejala (OTG). Petugas pun awalnya meminta ketiga pasien agar tidak melakukan aktivitas di luar rumah atau melakukan isolasi diri. Akan tetapi, ternyata dua pasien yakni nomor 09 dan 10 diketahui tidak kooperatif.

"Iya, keduanya diketahui keluar rumah, ada yang ke pasar ada yang naik ojek mengunjungi sejumlah tempat di Prabumulih. Padahal, kota itu sudah ditetapkan sebagai zona merah," katanya.

Oleh karena itu, Yusri turut menyesalkan tindakan yang dilakukan kedua pasien itu karena dapat membahayakan orang lain. Apalagi sejak awal sudah diinstruksikan untuk menangani pasien yang positif COVID-19 harus dilakukan sesuai dengan SOP yang telah ditentukan.

Namun, menurutnya, kedua pasien kini sudah dievakuasi tim gugus tugas setempat untuk diisolasi sementara di RS Prabumulih, untuk selanjutnya rencananya akan dipindahkan untuk menjalani isolasi di wisma atlet Palembang.

Dia menambahkan, kejadian ini juga dapat menunjukkan potensi adanya gangguan psikis pada pasien yang bersangkutan sehingga nekat melakukan tindakan yang dilarang dan tidak patuh terhadap instruksi yang diberikan. Terlebih, pasien 02 yang telah meninggal dunia karena COVID-19 merupakan suami dari pasien 09.

"Kita akui ada kelalaian, seharusnya dari awal jika tim setempat menilai pasien itu tidak kooperatif, maka saat melakukan isolasi diri harus ada penjagaan di tempat tinggalnya," katanya.

Atas kejadian ini, kata dia, pihaknya juga mengingatkan kepada seluruh gugus tugas di kabupaten/kota di Sumsel agar dapat lebih mengedepankan SOP dalam penanganan pasien terkait COVID-19, baik itu ODP, PDP, OTG, bahkan setelah ditetapkan positif. [kumparan]

Viral Curhat Pasien PDP Covid-19 sebelum Meninggal, Ini Tanggapan Walkot Padangsidimpuan


DEMOKRASI.CO.ID - Wali Kota Padangsidimpuan, Irsan Effendi Nasution memberikan klarifikasi terkait curhatan pasien PDP Covid-19 tentang pelayanan buruk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padangsidimpuan.

Pasien tersebut adalah E, ibu hamil yang unggahan di Facebooknya viral, sejak Jumat (3/4/2020), sehari sebelum dirinya meninggal dunia, Sabtu (4/4/2020). “Bisa kita pertanggungjawabkan semua pelayanan sudah kita lakukan yang terbaik, kita punya foto dokumentasi, punya video dan apa yang menjadi kewajiban rumah sakit,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (4/4/2020).

Dijelaskan Irsan,  tenaga medis mereka ada di ruang isolasi. “Perawat 16 belas, dokternya saya tidak tahu di dalam itu, hanya mengurusi dia, coba bayangkan. Hanya mengurusi dia sendiri kita punya tim di atas 20 orang perawat dan dokter, saya bukan mau membela rumah sakit,” ungkapnya.

Soal nasi yang dinilai tak layak yang dimakan E, Irsan menyebut itu adalah pemintaan pasien. Termasuk juga soal air yang disebut E tidak ada, Irsan mengatakan ada dispender yang tersedia di lokasi.

Irsan mengatakan harus sampaikan terima kasih kepada timnya di dalam rumah sakit. “Saya pikir mereka sudah mempertaruhkan nyawa dan keselamatan mereka untuk membela pasien kita ini, walaupun mereka harus menerima bully seperti ini,” jelasnya.

Sebelumnya lewat akun Faceboknya, Jumat (4/4/2020), E menyebut bagaimana dirinya tidak mendapatkan pelayanan yang terbaik selama diisolasi. Sebelum live, dia juga menuliskan status ingin segera dirujuk ke Medan.

“Untuk bapak Wali Kota Padangsidimpuan tercinta, Bapak Irsan tolonglah pak, kasikan kesempatan saya dirujuk ke Medan di rumah sakit yang lebih layak lagi, daripada Rumah Sakit Uum Kota Padangsidimpuan ini. Kasian kandungan saya, fasilitas disini juga kurang memadai. Kalau saya tahankan lama-lama disini yang ada saya cepat-cepat mati konyol 😭😭. Saya hanya ingin yangterbaik untuk kesehatan dan kandungan saya. Sesak saya semakin parah di sini pak. Tolong perbantukan rujukan saya. Terimakasih,” tulisnya.

Kemudian dia mengunggah video bagaimana kondisi ruangan dan dia kesulitan mendapatkan pelayanan. “Dada saya sudah sesak, manggil-manggil perawat saja mau minta minum 2 jam baru datang, disuruh makan, tapi nasinya saja masih layak dibilang beras mentah, apa itu yang pantas dimakan oleh seorang pasien?,” tulisnya lagi.

Dalam videonya, E tampak tangannya dipasang selang infus, dia juga memakai alat bantu pernafasan. “Ini ruangan rumah sakit. Ruangan rumah sakit yng tidak layak dipakai. Minta minum saja, dua jam kemudian baru datang. Sesak.. Ini gimana orang mau makan. Nasinya keras. Orang sehat saja tidak bisa makan. Apalagi saya yang lagi sakit. Ini makanannya (sambil menunjukkan nasi). Ini ruangan RS Kota Padangsidimpuan. Ya Allah, sesak ya Allah. Minta minum saja dua jam baru datang. Ya Allah Tuhanku, sesak. Tolong,” ucapnya.

Unggahan itu langsung viral dan dikomentari nyaris 5 ribu warganet dan dibagikan 5.793 kali hingga Sabtu siang ini.

Sebelumnya diberitakan E meninggal saat dalam perjalanan dari Padangsidimpuan menuju Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Sabtu (4/4/2020) pagi. (nin/pojoksumut)

Cari Penggali Kubur ODP Corona, 3 Petugas Medis Malah Dikeroyok


DEMOKRASI.CO.ID - Tiga petugas medis RSUD Bendan Pekalongan dikeroyok sejumlah orang tak dikenal, Kamis (3/4) dinihari WIB, di wilayah Kelurahan Sapuro Kebulen. Akibatnya, seorang petugas menderita patah tulang hidung cukup parah.

Saat kejadian, ketiga petugas medis tersebut tengah membantu mencari penggali makam di komplek Makam Sapuro untuk keperluan pemakaman pasien orang dalam pemantauan (ODP) yang meninggal saat dirawat di RSUD Bendan.

Ketiga petugas medis itu berinisiatif mencari orang yang bisa menggali kubur karena sulitnya menemukan penggali kubur saat dinihari sekitar pukul 03.30 Subuh.

Di tengah perjalanan, ketiganya bertemu dengan sekelompok orang tak dikenal yang tengah berkumpul.

Diduga karena salah paham, terjadi penganiayaan kepada ketiga petugas medis tersebut.

“Saat itu menurut pengakuan teman-teman mereka ditantang berkelahi entah karena sebab apa. Namun petugas kami sudah berkali-kali minta maaf dan menjelaskan maksud tujuan mereka,” tutur Direktur RSUD Bendan, dr Junaedi Wibawa.

“Tapi kemudian ada yang menghantam menggunakan helem dan terjadilah perkelahian antara petugas kami dengan sekelompok orang tersebut,” tambahnya.

Selanjutnya, kata Junaedi, petugas yang mengalami penganiaayan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Pekalongan Barat.

Sementara itu, menurut informasi dari Polsek Pekalongan Barat, saat ini dari lima pelaku, tiga di antaranya sudah diamankan dan dua pelaku lain tengah dalam pengejaran.

Wakil Wali Kota Pekalongan A. Afzan Arslan Djunaid saat dikonfirmasi perihal peristiwa itu menjelaskan bahwa memang terjadi penganiayaan terhadap petugas medis RSUD Bendan.

Tapi kata Aaf, sapaan akrab wakil wali kota, peristiwa itu sama sekali tak berkaitan dengan penolakan terhadap pemakaman jenazah pasien ODP.

Dia juga berpesan kepada masyarakat agar juga tak mengaitkan peristiwa tersebut dengan adanya penolakan. Karena pemakaman terhadap jenazah pasien ODP sudah dilakukan dengan baik sesuai dengan protap penanganan pasien covid-19 dan tanpa adanya isu-isu penolakan dari masyarakat.

(nul/zul/radartegal)

Kabar Duka! Rumah Ambruk, 2 Tewas Tertimpa Atap Beton


DEMOKRASI.CO.ID - Bangunan rumah dua lanti di Ketintang Barat, Surabaya, Jawa Timur, ambruk pada Sabtu dini hari (4/4/2020).

Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada pukul 00.30 WIB. Dua pekerja yang tengah berada dalam bangunan ambruk tewas tertimpa atap beton.

Dalam proses evakuasi mayat dua pekerja itu membutuhkan waktu lama. Dua korban dicari selama 3 jama dalam timbunan gedung yang ambruk.

Awalnya, para petugas menemukan satu orang korban dalam kondisi tewas atas nama Didik warga Bojonegoro, pada pukul 06.30 Wib.

Selanjutnya, pada pukul 08.30 Wib, petugas berhasil mengangkat satu jenazah lagi bernama Edi, dari runtuhan atap beton.

Penemuan jenazah Edi Purwonegoro membuat pihak keluarga korban histeris. Selanjutnya, jenazah korban langsung dievakuasi ke RSUD Soetomo Surabaya untuk di visum.

Menurut keterangan Irvan Ketua RW setempat, lokasi bangunan rumah yang ambruk tersebut kerap digunakan untuk perkumpulan pengajian semacam padepokan.

Namun pihak pemilik rumah bernama Harjito belum melaporkan kepada perangkat kelurahan setempat.

Hingga kini, pihak kepolisian pun belum memberikan keterangan terkait kejadian tersebut.
Polisi masih melakukan penyelidikan dan mencari penyebab robohnya bangunan rumah yang menyebabkan korban jiwa.

(pul/pojokpitu)

Friday, 3 April 2020

Kisah Lansia di Parepare Sukses Taklukkan Corona


DEMOKRASI.CO.ID - Dua pasien positif virus Corona (COVID-19) berusia 61 tahun dan 70 tahun yang dirawat di RSUD Andi Makkasau, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, dinyatakan sembuh. Keduanya akhirnya bisa pulang meninggalkan ruang isolasi setelah dua pekan lebih ditetapkan positif.

Pasien berumur 61 tahun asal kabupaten Pinrang, dirawat sejak 17 Maret 2020. Sementara perempuan umur 70 tahun asal Kabupaten Sidrap, dirawat sejak 19 Maret 2920.

"Alhamdulillah, hasil swab test tenggorokan selama dua kali tes negatif, sudah sembuh," kata Koordinator Tim Penanganan COVID-19 RSUD Andi Makkasau, Sri Umi Wahyuni, Kamis (3/4/2020).

Umi menjelaskan, karena sudah dinyatakan sembuh, kedua pasien akan dipulangkan hari ini. Mereka akan dijemput oleh tim dinkes.

"Mereka tinggal menunggu jemputan dari tim dari dinas kesehatan masing-masing," sebutnya.

Kepala Humas RS Andi Makkasau, Farida mengatakan kedua pasien tersebut berasal dari klaster umroh. Keduanya dinyatakan positif Corona sejak pertengahan Maret lalu.

"Jadi setelah melakukan (tes) dua kalinya mereka negatif. Sejak seminggu lalu kesehatan mereka pun sudah semakin membaik," kata ujar Farida, saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (3/4).

Farida mengatakan kedua pasien telah dibawa pihak keluarga pulang. Keduanya merupakan dari cluster umroh.

"Kedua pasien ini berasal dari cluster umroh yang kemarin dengan umur yang sudah rentan sekitar 60 tahunan. Pihak keluarga telah mengambil kedua pasien," imbuhnya.

Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, mengapresiasi Pemerintah Kota Parepare dalam menangani pasien Corona yang dirawat di kamar isolasi RSUD Andi Makkasau. RSUD Andi Makkasau dinilai memberi pelayanan maksimal, termasuk memerhatikan asupan gizi hingga akhirnya pasien sembuh.

"Kami apresiasi Rumah Sakit Parepare ini, kita jempollah ya, walaupun semua positif tapi perlakuan yang dilakukan, pelayanan yang begitu bagus, pemberian gizi yang begitu baik, akhirnya semuanya sudah negatif," puji Nurdin Abdullah di sela-sela kunjungan ke Pelabuhan Nusantara Parepare, Jumat (3/4/2020).

Di lokasi yang sama, Wali Kota Taufan Pawe mengatakan perhatian besar diberikan kepada pasien, baik yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) maupun pasien positif Corona. Pihak RS berusaha agar daya tahan tubuh pasien terus meningkat.

"Ini adalah komitmen saya sebagai bagian dari penyelenggara negara, 1x24 jam saya memastikan kondisi pasien menyangkut nutrisi dan asupan gizi. Apa pun yang mereka ingin makan, kami penuhi. Bisa dikatakan kami manjakan. Karena menurut saya, obat yang paling mujarab dalam membunuh virus Corona adalah imun mereka. Imun akan meningkat jika ditopang makanan yang bergizi tinggi," ujar Taufan.(dtk)

Bertambah 3, Positif Corona di Riau Jadi 10 Kasus


DEMOKRASI.CO.ID - Jumlah pasien positif virus Corona atau COVID-19 di Riau bertambah tiga orang. Total, ada sepuluh pasien positif Corona yang ada di Riau saat ini.

"Hari ini juru bicara nasional COVID-19 merilis ada tiga pasien lagi positif. Jadi sekarang ada sepuluh pasien positif COVID-19 di Riau," kata Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar kepada wartawan, Jumat (3/4/2020).

Syamsuar mengatakan ketiga pasien positif Corona yang baru itu berasal dari Pekanbaru, Kabupaten Rokan Hulu, dan Kabupaten Pelalawan. Dia mengatakan ketiganya memiliki riwayat perjalanan ke daerah terjangkit.

"Riwayat ketiganya memiliki perjalanan ke daerah terjangkit," kata Syamsuar.

Dia menyebut pasien nomor 8 merupakan warga Pekanbaru, SS (47), yang memiliki riwayat bekerja di Medan, Sumatera Utara. Pasien nomor 9, lanjut Syamsuar, adalah warga Kabupaten Pelalawan, JG (58), yang punya riwayat perjalanan ke Jakarta pada 13 Maret 2020.

Pasien nomor 10 berinisial AS (56). Warga Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) ini memiliki riwayat perjalanan ke Surabaya pada 21 Maret 2020.

Kami mohon warga agar tetap tenang dan untuk selalu berolahraga rutin, konsumsi buah. Kita tidak ingin hal buruk terjadi yang menyebabkan berkurangnya daya imun, mari kita berdoa dan berusaha agar kita bisa melewati cobaan ini," ucap Syamsuar.

Sebelumnya, hingga Kamis (2/4), terdapat tujuh kasus positif Corona di Riau. Ada enam pasien yang masih dirawat dan 1 orang yang sudah dipulangkan.(dtk)

Ridwan Kamil Mulai Kritik Lambannya Pemerintah Pusat Tangani Corona


DEMOKRASI.CO.ID - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengkritik kinerja pemerintah pusat yang tidak cepat menangani penyebaran virus Corona. Data yang terkumpul selama ini belum menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. "Mohon maaf, Pak Wapres. Saya meyakini, saat ini kasus (Corona) berlipat-lipat tapi karena yang mengetes tidak sebanyak yang diharapkan maka data seolah sedikit," ujar Ridwan dalam rapat teleconference dengan Wakil Presiden Ma"ruf Amin hari ini, Jumat, 3 April 2020.

Ridwan Kamil menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman rapid test Corona di Jawa Barat, dari 15 ribu tes terdapat 677 orang yang kena virus Corona. Itu data sementara dan tes masih terus dilakukan. "Jadi kesimpulannya, semakin banyak kita mengetes, semakin kita tahu virus ini sedang beredar di mana saja."

Ridwan Kamil mengatakan data tersebut belum dilaporkan ke pusat karena pemerintah daerah masih akan melakukan tes swab untuk memastikan si pasien benar-benar terkena Corona.

Ridwan mengaku banyak berinisiatif karena tak sabar menunggu kebijakan pusat. Musababnya, kata Ridwan, jumlah penduduk Jawa Barat sekitar 50 juta orang, yang besarnya sudah seperti Korea Selatan. Dan dari jumlah tersebut, 70 persen warga Jawa Barat sehari-harinya beraktivitas di Jabodetabek.

"Tiga provinsi ini memang belum banyak komunikasi secara teknis, perlu difasilitasi, Pak. Saya memahami bahwa Gubernur DKI dan Gubernur Banten juga sibuk, jadi kami mohon bapak tugaskan level menteri melakukan koordinasi ini dalam skala rutin," ujar Ridwan lewat teleconference dengan Wakil Presiden Ma"ruf Amin, Jumat, 3 April 2020.

Ridwan mengatakan, data warga Jabar yang positif Corona sudah 223 orang per hari ini. "Itu baru data yang sudah di-swab, sementara antrian di Litbangkes masih banyak dan hanya sanggup mengetes 200 sampel per hari," ujar Ridwan.

Akibatnya, kata Ridwan, dia berinisiatif membeli alat tes Corona sendiri ke Korea Selatan dan bisa mengetes 500 sampel per hari di laboratorium kesehatan daerah. "Dengan alat itu kami temukan Wali Kota Bogor Bima Arya, Wakil Wali Kota Bandung, dan Bupati Karawang positif Covid-19 dan 4 klaster penyebaran," ujar Ridwan Kamil.(*)

Kenapa warga rohingya diusir dari negaranya

  Warga Rohingya telah mengalami pengusiran dan diskriminasi di Myanmar selama beberapa dekade. Konflik terhadap etnis Rohingya bersumber da...