Showing posts with label Kesehatan Anak. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Anak. Show all posts

Monday, 7 January 2019

Tips Memilih Sabun Bayi yang Aman untuk Kulit Si Kecil

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

tips-memilih-sabun-bayi-doktersehat-farmaku

DokterSehat.Com – Banyak produk perawatan kulit bayi yang mengklaim menggunakan ‘bahan alami’. Sayangnya, ketika melihat daftar bahan aktifnya, bahan alaminya hanya terdiri dari air dan sisanya merupakan bahan aktif non-alami atau sintetis. Tips memilih sabun bayi harus diperhatikan karena jika salah, bisa mengakibatkan berbagai masalah pada kulit, organ dalam, dan juga kanker.

Bahan Aktif Sabun Bayi yang Sebaiknya Dihindari

Jangan hanya membeli sabun bayi karena merk ataupun popularitasnya di media. Banyak produk sabun bayi dari berbagai merk ternama yang ternyata mengandung zat berbahaya untuk kesehatan bayi Anda. EWG (Environmental Working Group) memiliki daftar zat atau bahan aktif sabun bayi yang patut diwaspadai, antara lain:

  • Triclosan dan Triclocarban

Kedua zat yang sering ditemukan pada sabun anti bakteri ini, diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan kesehatan liver. Selain itu, triclosan dan triclocarban dapat meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik.

  • Diethanolamine, Monoethanolamine, dan Triethanolamine

Ketiga zat ini dinilai dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan ginjal, serta beberapa jenis kanker. Ironisnya, ketiga atau setidaknya salah satu dari zat ini sering ditemukan pada produk sabun bayi.

  • Phthalates dan Paraben

EWG mengkategorikan kedua zat ini sebagai zat yang sangat berbahaya. Phthalates dan paraben yang digunakan sebagai bahan aktif untuk mengawetkan kosmetik dan produk perawatan kulit telah dilarang penggunaanya di Eropa sejak tahun 2003.

  • Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dan Sodium Laureth Sulfate (SLES)

SLS dan SLES dapat menyebabkan iritiasi pada mata dan kulit bayi. Oleh karena itu, perhatikan tips memilih sabun bayi agar tidak pedih di mata.

  • Retinyl Palmitate

Bahan aktif ini terbuat dari gabungan asam palmitik dengan retinol. Retinyl pelmitate dapat menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi.

  • Polyethylene Glycol dan Propylene Glycol

Polyethylene Glycol atau yang sering disingkat PEG dapat menghilangkan minyak pelindung pada kulit dan rambut bayi, sehingga rambut dan kulit bayi menjadi lebih rentan. Sedangkan propylene glycol sering dihubungkan dengan keadaan abnormal pada otak, ginjal, dan hati.

Bagaimana Cara Memilih Sabun Bayi yang Tepat?

Tips memilih sabun bayi yang paling penting adalah berdasarkan jenis kulit si buah hati. Kulit sensitif bayi lebih rentan mengalami iritasi, gatal, ruam, atau kemerahan dibandingkan dengan orang dewasa.

Pemilihan sabun bayi sebaiknya mengandung bahan-bahan alami yang tidak memicu alergi atau hypoallergenic. Selain itu, hindari juga produk sabun bayi yang mengandung bahan aktif berbahaya di atas, alkohol, serta pewangi berbahaya. Berikut beberapa tips memilih sabun bayi yang aman untuk kulit sensitifnya:

  • Hypoallergenic

Jika pada kemasan sabun bayi terdapat keterangan hypoallergenic, artinya risiko kemungkinan produk tersebut menyebabkan reaksi iritasi atau alergi pada kulit cenderung bisa dikurangi.

  • pH seimbang

Pastikan sabun mandi bayi memiliki pH yang seimbang. Salah satu caranya yaitu dengan memilih sabun bayi yang disertai keterangan pH balanced yang berarti kadar pH sabun telah diseimbangkan dan disesuaikan agar mendekati nilai pH kulit bayi. Hal ini bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan lapisan kulit bayi.

  • Tidak mengandung alkohol, pewangi berbahaya, dan paraben

Disarankan untuk memilih sabun bayi yang bebas alkohol dan memiliki aroma wangi untuk menghindarkan risiko kulit bayi mengalami iritasi. Adapun paraben sering digunakan sebagai bahan pengawet dan pencegah kontaminasi bakteri atau jamur pada sebuah produk. Namun, produk dengan kandungan paraben, perlu diwaspadai karena disinyalir memiliki kemungkinan meningkatkan risiko terkena kanker.

  • Gliserin baik untuk melembapkan kulit

Sabun bayi yang mengandung gliserin cenderung dapat melembapkan kulit bayi sehingga mampu mencegah kulit kering dan iritasi.

  • Hindari sabun bayi berlabel antibakteri

Kandungan ini memang tidak umum pada produk khusus bayi. Sekilas memang Nampak lebih bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit bayi, namun ternyata sabun antibakteri justru bisa menyebabkan iritasi kulit bayi. Kotoran dan bakteri memang hilang, namun sayangnya minyak alami yang diproduksi tubuh pun ikut hilang. Disarankan untuk memakai sabun yang mengandung pelembap alami terutama untuk mengatasi kulit kering, misalnya sabun dengan kandungan minyak bunga matahari, cocoa butter, atau minyak zaitun.

Setelah memandikan bayi dengan produk sabun mandi bayi, jangan lupa untuk mengoleskan pelembap ke permukaan kulit bayi. Selanjutnya, jangan lupa untuk mengganti popok bayi secara rutin agar terhindar dari iritasi kulit.

Ketika memilih sabun bayi memang diperlukan perhatian khusus mengingat kulit bayi masih sangat sensitif. Tak hanya sabun bayi, produk perawatan bayi yang tak kalah berisiko juga yaitu liquid atau cairan pembersih botol susu bayi. Pastikan semua perawatan bayi yang Anda siapkan untuk si kecil dibeli dari sumber yang resmi, aman, dan memenuhi standar kesehatan di Indonesia.

Tak perlu khawatir, kini Anda bisa mendapatkan beragam obat-obatan, kesehatan, dan kecantikan hingga kebutuhan ibu dan anak secara online melalui Farmaku.com. Semua produknya bergaransi resmi dan legal, selain itu pengirimannya pun dijamin cepat.

Tunggu apa lagi? Segera temukan kebutuhan si kecil hanya di Farmaku.com, platform resmi berbasis apotek modern yang dapat diakses melalui browser Anda di manapun dan kapanpun. Dapatkan juga harga spesial khusus untuk Anda!



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Wednesday, 5 December 2018

Kenali Tanda Stres Pada Anak dan Tips Mengatasinya

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

Tanda Stres Pada Anak – Stres bukan hanya dialami oleh orang dewasa saja, namun dapat juga menimpa anak. Stres yang dialami anak akan memberikan dampak negatif, seperti menyebabkan penyakit fisik, emosi ataupun mentalnya. Oleh karena itu, sebagai orangtua penting mengenali tanda stres pada anak, serta penyebab dan tips membantu mengatasi stres pada anak.


Penyebab Anak Stres


Selain orang dewasa, anak-anak  juga dapat mengalami stres. Stres pada anak dapat dipicu oleh berbagai hal. Di antaranya adalah seperti berikut:


 Stres bukan hanya dialami oleh orang dewasa saja Kenali Tanda Stres Pada Anak dan Tips Mengatasinya


Kurang Tidur


Anak membutuhkan waktu istirahat yang cukup, terlebih lagi jika ia melakukan aktivitas yang berat saat siang hari atau ketika di sekolah. Pastikan si kecil mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan jangan sampai kurang tidur. Pasalnya, kurang tidur pada anak akan berdampak terhadap moodnya, memorinya, serta kemampuan menilainya. Ketika sudah waktunya istirahat, sebaiknya hindarkan gadget atau jauhkan anak dari televisi.


Aktivitas Setelah Sekolah


Orangtua terkadang tidak menyadari bahwa aktivitas anak di sekolah sudah menguras tenaganya. Namun, karena ingin memberikan yang terbaik buat anaknya, tak jarang orangtua tetap memasukannya kursus atau les setelah sekolah. Hal ini sebenarnya dapat memicu kelelahan pada anak. Kesibukannya setelah jam sekolah membuat si kecil tidak memiliki waktu untuk bermain dan bersantai. Kondisi seperti ini akan berisiko membuat anak stres.


Anda sebaiknya memberikan kesempatan pada anak untuk bersantai. Anda mungkin dapat mengurangi beberapa jadwal kegiatan setelah sekolah. Namun, jika aktivitas tersebut tidak bisa dikurangi, anda dapat bertanya perasaan si kecil terhadap aktivitasnya tersebut. Dengan curhat diharapkan mampu meringankan stres yang anak alami.


Intimidasi


Intimidasi yang dialami anak, baik itu verbal ataupun nonverbal akan berisiko membuat anak tertekan. Anda sebaiknya memberikan dukungan pada anak agar ia merasa lebih percaya diri dalam menjalani hari-hari saat ia berada di lingkungan atau sekolahnya. Untuk memantau kondisi yang dialami oleh anak, anda dapat berkomunikasi dengan gurunya.


Perceraian Orangtua


Bagi anak, ia akan merasa lebih aman saat bersama dengan keluarganya. Namun, saat kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah, hidupnya akan mengalami perubahan besar. Perceraian orangtua dapat membuat anak tertekan dan stres.


Penyakit Kronis


Anak akan mengalami stres jika ia mengalami hal berat seperti misalkan orangtuanya mengalami penyakit serius, atau justru dirinya sendiri yang mengidap penyakit tersebut. Keadaan serius yang dapat membuat anak stres misalkan HIV, obesitas, asma, down syndrome dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Jika anak mengalami kondisi tersebut anak bisa saja terasing dari pergaulannya karena ia harus menjalani pengobatan.


Terpapar Konten Dewasa


Berbagai informasi bisa didapat dengan mudah seiring dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan. Karena seperti itu, bisa saja anak terpapar oleh informasi atau konten orang dewasa seperti misalkan video kekerasan, berita menyeramkan atau video porno. Ini akan berisiko membuat anak tertekan. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya dianjurkan untuk memilih konten yang sesuai dengan anak atau anda bisa mendampinginya.


Tanda Stres Pada Anak


Anak-anak pada umumnya belum dapat mengungkapkan atau memahami apa yang sedang dirasakannya. Bahkan mereka tidak akan menyadari bahwa yang dialaminya merupakan stres. Oleh karena itu, penting mengenali tanda stres pada anak. ( Baca juga : Pola Makan Anak Sehat )


Muncul Prilaku Negatif


Anda harus memperhatikan sikap anak akhir-akhir ini. Perhatikan apakan si kecil menunjukan perubahan perilakunya seperti menjadi mudah marah, sering mengeluh, tersinggung, mudah menangis dan membangkang. Jika seperti itu, mungkin si kecil sedang stres.


Selain itu, anak mungkin akan menjadi sering berbohong sebagai tanda stres pada anak, serta menyalahi aturan di rumah. Seperti misalkan, main hingga larut malam atau tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah menjadi tanggung jawabnya.


Sakit


Jika stres yang anak alami cukup serius, anak biasanya akan mengalami gejala pada fisiknya. Si kecil mungkin akan mengalami pusing, sakit kepala, atau sakit perut. Namun saat di bawa ke dokter, anak tidak sedang mengidap suatu penyakit. Dimana gejala-gejala tersebut merupakan reaksi tubuh anak terhadap stres yang dialaminya.


Mudah Merasa Takut


Salah satu tanda stres pada anak yaitu ia tiba-tiba merasa takut. Anak takut gelap, menjadi manja karena takut ditinggal oleh orangtua dan takut saat menghadapi orang asing. Terlebih lagi jika anak anda sebelumnya anak pemberani. Jika sudah seperti ini stres yang dialami oleh anak sudah cukup serius.


Nafsu Makan Anak Berubah


Karena stres anak akan mengalami perubahan pada nafsu makannya. Nafsu makan si kecil bisa naik maupun menurun dengan drastis yang menjadi tanda stres pada anak. Ketika nafsu makan anak menurun, si kecil mungkin akan beralasan ia tidak ingin makan atau makanannya tidak enak. Sedangkan jika nafsu makan si kecil naik, ia akan lebih banyak makan, sering ngemil dan mudah lapar padahal ia sudah makan.


Enggan Bergaul dengan Lingkungan Sekitar


Tanda stres pada anak selanjutnya yaitu enggan bergaul dengan orang di sekitarnya. Ketika anak sedang stres, anak akan lebih senang menyendiri dibandingkan bergabung dengan orang di sekitarnya. Anak akan menghindari interaksi dari teman atau keluarganya. Anda dapat memperhatikan si kecil ketika anda mengajaknya berbicara ataupun bertanya. Apakah si kecil menghindar saat anda mengajaknya berbicara, tidak mau diajak pergi bersama atau sering menghabiskan waktunya sendirian di kamar? Jika seperti itu bisa saja si kecil sedang dilanda stres.


Anak Sulit Tidur


Saat sedang dilanda stres, kita biasanya akan mengalami sulit tidur. Begitu pun dengan anak-anak atau remaja yang sedang mengalami stres. Tidak hanya susah tidur saja sebagai tanda stres pada anak, anak yang sedang stres biasanya akan sering terbangung ketika tengah malam, baik karena tidurnya tidak nyaman atau karena ia mimpi buruk.


Sulit Konsentrasi


Karena beban yang ditanggungnya si kecil mungkin akan merasa kewalahan, akibatnya anak akan sulit berkonsentrasi. Baik saat ia belajar di sekolah  atau bahkan saat mendengarkan perintah dari orangtuanya. Anda harus memperhatikan sikap dan perilaku anak. Jika tatapan anak cenderung kosong atau bahkan lebih sering menunduk, itu tandanya anak sudah tidak konsentrasi lagi terhadap apa yang dilakukannya.


Mengompol


Jika anak sudah berhenti mengompol, namun kebiasaan tersebut tiba-tiba datang lagi bisa saja si kecil sedang stres. Anak yang sedang stres biasanya akan melakukan berbagai kebiasaan yang ia miliki ketika kecil dulu. Selain mengompol, bisa saja anak kembali pada kebiasaan dulu seperti menghisap jari atau tidak mau terlepas dari boneka kesayangannya.


Tips Membantu Anak yang Mengalami Stres


Anak masih belum memiliki pengalaman, serta kapasitas otaknya masih belum optimal. Oleh karena itu, seorang anak tidak memiliki kemampuan dalam mencari solusi dari stres yang dialaminya. Sehingga dengan begitu, dibutuhkan bantuan dari orang dewasa dalam membantu mengatasi kesulitannya sehingga stres yang dialami anak tidak akan berkepanjangan.


Jika anak memang mengalami stres, sebaiknya hindari panik berlebihan karena jika anda panik kemungkinan anda juga akan mengalami stres. Nah, anda dapat melakukan beberapa hal ini untuk membantu meringankan stres pada anak.


Hindari Membuat Tuntutan yang Berlebihan


Setiap orangtua tentu ingin anaknya mencapai yang terbaik. Namun, sebaiknya hindari menetapkan target yang tidak bisa dicapai oleh anak. Hindari pula membandingkan anak anda dengan orang lain dan jangan mengkritiknya. Anda harus menerima kekurangan dan kelebihan anak anda. Jika anak gagal dalam mencapai tuntutan yang diberikan oleh anda, anda harus menerimanya, jangan mengejek atau menghukumnya. Seharusnya anda membantunya agar menjadi lebih baik.


Memperbaiki Pola Asuh


Jika selama ini anda membebaskan anak atau justru otoriter, sebaiknya anda mengubah pola asuh agar ia tidak merasa terbebani dengan tuntutan yang anda berikan.


Lebih baik jika anda memberikannya aturan yang jelas. Alasan anda memberikan aturan tersebut dan konsekuensi apa yang akan si kecil dapatkan jika peraturan tersebut dilanggar. Ketika anak melakukan hal yang positif, jangan lupa untuk memberikannya pujian. Namun, ketika anak melakukan pelanggaran anda dapat mendisiplinkannya atau memberikannya teguran, serta berikan pula penjelasan mengapa anda memberikannya teguran.


Menciptakan Keluarga yang Harmonis


Hubungan keluarga yang harmonis akan membuat anak merasa lebih nyaman dan betah berada di rumah, serta akan membantu anak agar terhindar dari pergaulan yang tidak baik yang dapat menyebabkan masalah yang akan membuat anak stres. Selain itu, apabila hubungan keluarga harmonis maka pertengkaran atau perceraian dapat dihindari yang dapat membuat anak tertekan.


Buat Kedekatan dengan Anak


Kedekatan antara orangtua dan anak akan membantu anak terbuka pada orangtuanya, serta akan lebih leluasa menceritakan keluh kesahnya pada orangtua. Anak akan lebih mudah menceritakan kejadian yang dialaminya, baik kejadian yang menyenangkan atau kejadian yang tidak menyenangkan, baik ketika di sekolah atau di luar rumah. Sebagai orangtua anda dapat membantu anak untuk memberikannya solusi yang terbaik ataupun mengambil tindakan agar kejadian tidak menyenangkan bisa dihindari oleh anak.


Membentuk Anak yang Mandiri


Anda dapat membantu anak untuk menjadi pribadi yang mandiri.  Latih anak anda dalam membuat keputusan tepat yang dibutuhkan. Contohnya, ketika anak bertanya apakah tindakan yang diambilnya baik atau tidak, anda dapat mengajak anak untuk berdiskusi apa hal baik maupun hal negatif saat anak melakukan tindakan tersebut. Cara ini akan membantu anak mandiri apabila dikemudian hari ia harus mengambil keputusan tanpa adanya bantuan dari orangtua. Anak yang mandiri akan lebih mudah dalam menyelesaikan masalahnnya, serta mengatasi rasa tidak nyamannya sehingga dapat membantu mencegah stres pada anak.


Memberikan Keleluasaan Pada Anak


Anda dapat memberikan keleluasaan pada anak. Seperti misalkan, keleluasaan dalam menentukan kursus atau les yang akan diikutinya. Biarkan anak menyalurkan hobinya sehingga ia tidak akan terkekang dan stres.


Terapkan Pola Hidup yang Sehat


Asupan gizi memiliki pengaruh terhadap stres pada anak. Oleh karena itu, anda dapat menyajikan makanan bergizi untuk anak. Biasakan pula agar anak makan dengan teratur dan tepat waktu. Untuk membantu anak mendapatkan waktu tidur yang cukup, sebaiknya buat jadwal yang baik untuk anak. ( Lihat juga : Dampak Buruk Stres Terhadap Otak )


Risiko Stres Pada Anak


Jika anak anda sudah menunjukan gejala atau tanda stres seperti yang sudah disebutkan di atas, sebaiknya anda jangan abaikan kondisinya. Stres pada anak apabila dibiarkan akan memberikan dampak negatif jangka panjang. Selain itu, anak akan lebih rentan mengalami gangguan jiwa, misalkan depresi.


Stres akan membuatnya mengalami perubahan pola makan, sehingga akibatnya anak akan berisiko kekurangan gizi atau kelebihan berat badan. Selain itu, dampak lain yang mungkin akan dialami anak yaitu turunnya prestasi di sekolah karena anak tidak bisa berkonsentrasi saat belajar. Untuk membantunya, anda dapat mengajaknya berbicara mengenai tekanan yang sering anak hadapi. Anda harus bisa memahami keadaan anak dan mencari solusi yang terbaik. Namun, jika stresnya tidak kunjung reda anda dapat melakukan konsultasi pada ahli konseling anak & keluarga.


Artikel ini di review oleh Bidan Pevi Revina sTR.Keb




Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Saturday, 8 September 2018

7 Masalah Kesehatan Pasca Melahirkan yang Harus Diwaspadai Calon Ibu

Jangan lupa membaca artikel tentang bisnis di > Informasi bisnis terbaik 2020.

doktersehat masalah kesehatan pasca persalinan
photo credit: Pexels

DokterSehat.Com – Bisa hamil dan akhirnya melahirkan adalah impian hampir semua wanita di seluruh dunia. Itulah mengapa wanita yang sudah menikah selalu antusias untuk segera membuat dirinya hamil. Mereka ingin menjadi ibu sesegera mungkin agar keluarga mereka bisa sempurna seperti kebanyakan orang di sekitarnya.

Meski hamil dan melahirkan adalah keinginan banyak wanita, tidak semua orang paham masalah kesehatan setelah mengalaminya. Bukan bermaksud untuk menakuti, tapi wanita harus waspada sejak awal agar setelah melahirkan mereka tetap sehat dan siap menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu.

Berikut beberapa masalah kesehatan pasca melahirkan yang sering dialami oleh calon ibu atau wanita yang sudah pernah melahirkan sebelumnya.

  1. Berat badan yang tidak mau turun

Saat sedang hamil, wanita akan mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan. Kenaikan berat badan ini terjadi karena ada perubahan hormon pada tubuh sehingga lemak akan tersimpan lebih banyak. Lemak yang tersimpan ini baik untuk pertumbuhan janin dari awal hingga persalinan.

Setelah persalinan dilakukan, wanita akan mengalami kenaikan berat badan. Kalau wanita tidak mau berolahraga ringan setelah beberapa bulan, tubuh akan tetap membesar. Bahkan, kegemukan akan menjadi-jadi sehingga mereka harus intensif melakukan diet yang sehat tanpa memengaruhi ASI.

  1. Muncul stretch marks

Wanita yang sedang hamil biasanya dilarang untuk menggaruk area perut karena bisa menyebabkan stretch marks. Mito situ mungkin tidak sepenuhnya benar, karena stretch marks bisa muncul juga di area kaki atau bagian tubuh yang berlemak.

Stretch marks tidak mudah dihilangkan. Wanita harus menggunakan krim tertentu untuk memudarkan stretch marks yang muncul di area tubuhnya yang banyak mengandung lemak.

  1. Perdarahan pasca melahirkan yang parah

Setelah melahirkan wanita akan sering mengalami perdarahan. Kondisi ini cukup normal kalau perdarahannya tidak terlalu parah. Namun, kalau perdarahannya menyebabkan wanita jadi lemas, suami harus segera mengajaknya untuk melakukan pemeriksaan ke dokter.

  1. Perubahan suasana hati yang sering tiba-tiba

Wanita sering mengalami perubahan suasana hati setelah melahirkan. Kondisi ini sering disebut baby blues yang cukup berbahaya. Kalau wanita dibiarkan saja padahal suasana hatinya terus buruk, mereka akan mengalami depresi.

Pada kondisi ini pria harus sering menemaninya. Bahkan, pria harus sering menjaga kondisi kejiwaan pasangan agar segera berlalu dan mampu merawat anak mereka serta memberikan ASI secara eksklusif.

  1. Hilangnya gairah untuk bercinta

Setelah melahirkan area di sekitar vagina dan perut bawah sangat sakit. Wanita yang mendapatkan banyak jahitan biasanya malas melakukan seks. Setiap penetrasi yang dilakukan akan menyebabkan mereka merasakan sakit.

Alternatif lain untuk melakukan seks adalah dengan menggunakan alat bantu. Penetrasi tidak bisa dilakukan setidaknya 2-3 bulan setelah melahirkan. Setelah organ seksual membaik dan sembuh barulah gairah seks itu kembali muncul.

  1. Payudara jadi sensitif

Setelah melahirkan dan akhirnya menyusui, area payudara akan menjadi lebih sensitif. Bahkan, saking sensitifnya bisa membuat mereka merasakan sakit yang cukup besar. Belum lagi saat menyusui, bayi akan menggigit payudara sehingga rasa sakitnya cukup besar serta mudah infeksi.

  1. Lebih berisiko alami infeksi pada vagina

Setelah melahirkan vagina akan lebih sensitif karena secara pH pasti berubah. Belum lagi kalau ada infeksi yang terjadi karena luka jahitan belum sembuh. Oleh karena itu wanita wajib menjaga kesehatan vaginanya dengan baik agar tidak terjadi masalah.

Inilah beberapa masalah kesehatan pasca melahirkan yang wajib diwaspadai wanita. Semoga ulasan di atas bermanfaat untuk Anda dan pasangan.



Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Kenapa warga rohingya diusir dari negaranya

  Warga Rohingya telah mengalami pengusiran dan diskriminasi di Myanmar selama beberapa dekade. Konflik terhadap etnis Rohingya bersumber da...