3 Reasons Why Adsense Is Essential For Content Sites
To know why Adsense is essential for your content sites is to know first how this works.
The concept is really simple, if you think about it. The publisher or the webmaster inserts a java script into a certain website. Each time the page is accessed, the java script will pull advertisements from the Adsense program. The ads that are targeted should therefore be related to the content that is contained on the web page serving the ad. If a visitor clicks on an advertisement, the webmaster serving the ad earns a portion of the money that the advertiser is paying the search engine for the click.
The search engine is the one handling all the tracking and payments, providing an easy way for webmasters to display content-sensitive and targeted ads without having the hassle to solicit advertisers, collect funds, monitor the clicks and statistics which could be a time-consuming task in itself. It seems that there is never a shortage of advertisers in the program from which the search engine pulls the Adsense ads. Also webmasters are less concerned by the lack of information search engines are providing and are more focused in making cash from these search engines.
The first reason why Adsense is essential for content sites is because it already has come a long way in understanding the needs of publishers and webmasters. Together with its continuous progression is the appearance of more advanced system that allows full ad customization. Webmasters are given the chance to choose from many different types of text ad formats to better complement their website and fit their webpage layout.
The different formatting enables the site owners the possibility of more click through from visitors who may or may not be aware of what they are clicking on. It can also appeal to the people visiting thus make them take that next step of looking up what it is all about. This way the people behind the Adsense will get their content read and making profit in the process.
The second reason is the ability of the Adsense publishers to track not only how their sites are progressing but also the earnings based on the webmaster-defined channels. The recent improvements in the search engines gives webmasters the capability to monitor how their ads are performing using customizable reports that has the capacity to detail page impressions, clicks and click-through rates. Webmasters and publishers can now track specific ad formats, colors and pages within a website. Trends are also easily spotted.
With the real-time reporting at hand, the effectiveness of the changes made will be assessed quickly. There would be time to sort out the contents that people are making the most clicks on. The ever-changing demands would be met while generating cash for the webmasters and publishers. The more flexible tools are also allowing webmasters to group web pages by URL, domain, ad type or category, which will provide them some accurate insight on which pages, ads and domains are performing best.
The last and final reason is that the advertisers have realized the benefits associated having their ads served on targeted websites. Thus increasing the possibility that a prospective web surfer will have an interest in their product and services. All because of the content and its constant maintenance. As opposed to those who are no using Adsense in their sites, they are given the option of having other people do their content for them, giving them the benefit of having successful and money-generating web sites.
Adsense is all about targeted content, the more targeted your content is, the more target the search engines� ads will be. There are some web masters and publishers who are focused more on their site contents and how best to maintain them rather than the cash that the ads will generate for them. This is the part where the effectiveness is working its best.
There was a time when people were not yet aware of the money to be achieved from advertisements. The cash generated only came into existence when the webmasters and publishers realized how they can make Adsense be that generator. In those days, the content were the most important factors that is taken quite seriously. It still is. With the allure of money, of course.
DokterSehat.Com– Ketika sedang puasa, setiap orang diwajibkan untuk menahan makan dan minum seharian penuh. Puasa adalah sebuah aktivitas baik dan bermanfaat jika dilakukan dengan benar. Misalnya melakukan sahur dan buka puasa dengan menu yang sehat. Namun, ketika Anda makan sahur atau buka dengan makanan tak sehat, maka bisa mendatangkan masalah kesehatan, salah satunya asam lambung.
Jika lambung bermasalah, maka seluruh sistem pencernaan tidak akan berfungsi dengan baik dan tentunya fisik Anda menjadi terganggu. Akibatnya, puasa tidak bisa berjalan lancar. Nah, untuk mengantisipasinya. Berikut ini adalah beberapa jenis makanan yang bisa memicu produksi gas berlebih pada lambung, diantaranya:
1. Gula dan Pati
Tubuh membutuhkan gula untuk mendapatkan energi yang bisa digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas. Namun, ada dampak buruk yang akan terjadi jika mengonsumdi gula secara berlebihan, yakni munculnya risiko penyakit diabetes dan obesitas. Selain itu, jika gula dan pati dikonsumsi secara bersamaan, maka akan menimbulkan proses fermentasi yang menyebabkan perut menjadi kembung.
2. Olahan Susu
Susu adalah sumber nutirisi untuk tubuh dan tulang. Susu juga bisa diolah menjadi berbagai macam produk olahan. Tapi, produk olahan susu ini membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna. Sama halnya dengan gula dan pati yang dikonsumsi bersamaan akan memicu produksi gas berlebih pada lambung, produk olahan susu yang dikonsumsi bersamaan dengan pati juga akan memperlambat peroses pencernaan, sehingga terjadi produksi asam yang berlebih.
3. Daging dan Kentang
Kedua makanan tersebut memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh. Daging mengandung protein sedangan kentang mengandung karbohidrat yang lebih baik dari nasi. Namun siapa sangka jika mengonsumsi kedua jenis makanan tersebut secara bersamaan akan menimbulkan gangguan kesehatan terutama pada pencernaan. Mengonsumsi daging dan kentang secara bersamaan bisa menimbulkan gas di dalam perut.
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
DokterSehat.Com– Remaja berusia 16 tahun bernama Emily Rowland mengalami epilepsi parah yang membuatnya bisa tidur hingga 20 jam dalam sehari. Ia pun mendapatkan julukan sebagai putri tidur di dunia nyata.
Dilansir dari Story Trender, kondisi kesehatan yang dialami Emily membuatnya tak lagi mampu bersekolah sejak dua setengah tahun lalu. Yang mengenaskan adalah, Emily sudah ratusan kali dilarikan ke rumah sakit dan tidak bisa tidur sendirian karena masalah kesehatan ini.
Sang ibu, Brandi, menyebut kondisi putrinya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia pun bercerita tentang awal mula kondisi ini menyerang Emily. Saat masih kecil, gadis yang berasal dari Warner Robins, Georgia ini kerap mengalami sakit kepala. Ia kemudian didiagnosis terkena epilepsi saat usianya baru 8 tahun dan mulai mengalami gejala demensia.
Emily berkata bahwa kehidupan sehari-harinya cukup berat karena ia sendiri kesulitan untuk bangun tidur. Bahkan, kadangkala Emily mengalami kejang-kejang di waktu terjaganya yang sangat sempit.
“Kadangkala aku tiba-tiba saja tertidur saat makan di restoran atau saat berada di sekolah. Hal ini sangat menyulitkan,” ucap Emily.
Emily juga mengaku tak lagi mampu menjalani berbagai hal yang telah dijadwalkan sebelumnya karena tak mampu mengatur waktu tidurnya.
“Emily mulai bersekolah satu tahun lebih awal dari teman-teman seusianya. Aku pikir hal tersebut sangat hebat untuk dilakukan sehingga tak menyangka jika dirinya ternyata mengalami masalah pada otak,” jelas Brandi.
“Setelah mulai mengeluhkan sakit kepala parah, Emily mulai kerap mudah mengantuk dan bisa tidur dalam waktu yang sangat lama,” lanjutnya.
Jika Emily tidur sangat lama, mau tidak mau Brandi memasangkan infus pada tubuh buah hatinya karena khawatir sang anak tidak mendapatkan nutrisi apapun. Ia pun berharap suatu saat kondisi buah hatinya bisa disembuhkan.
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
DokterSehat.Com– Banyak orang yang justru memilih untuk tinggal di kota besar karena ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi atau kemudahan untuk mendapatkan berbagai hal. Sayangnya, berbagai keuntungan ini ternyata membuat mereka tidak bahagia jika dibandingkan dengan tinggal di desa. Penelitian terbaru yang dilakukan di Kanada membuktikan hal ini.
Dilansir dari Daily Mail, penelitian yang dilakukan dengan cara mensurvei 400 ribu orang dari negara Amerika Utara ini menghasilkan fakta bahwa kota besar memang menawarkan gaji lebih besar, level pendidikan lebih tinggi, dan level pengangguran yang lebih rendah. Namun, hal ini sama sekali tidak membuat warga kota lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pedesaan atau kota kecil.
Menurut para peneliti dari McGill University, Montreal dan Vancouver School of Economics, Vancouver, tinggal di desa bisa membuat seseorang lebih berbahagia 8 kali lipat jika dibandingkan dengan tinggal di kota.
Para peneliti meminta partisipan yang terlibat untuk memberikan skala 1 hingga 10 dari berbagai pertanyaan yang diajukan dalam survei. Hasilnya adalah, kebanyakan orang memberikan angka 7,04 hingga 8.94. Namun, terdapat sebuah hal yang sangat jelas dari perbedaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, yakni rasa bahagia.
Menurut para peneliti, hal ini sepertinya dipengaruhi oleh kekuatan komunitas yang masih baik di kawasan pedesaan. Sementara itu, banyak warga kota yang jarang bertemu atau berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarganya. Hal ini ternyata mempengaruhi kondisi otak dengan signifikan.
Tak hanya itu, warga kota cenderung menghabiskan pendapatannya setidaknya 30 persen lebih banyak demi membayar kebutuhan rumah. Tanpa disadari, hal ini ternyata bisa memicu stres.
Lesli Musicar, salah seorang terapi dari Toronto, Kanada, menyebutkan bahwa warga kota cenderung merasa tidak aman saat berjalan sendirian. Mereka juga tidak mudah mempercayai orang lain. Berbeda dengan orang yang tinggal di desa yang cenderung sudah mengenal satu sama lain sehingga cenderung hidup dengan lebih tenang dan nyaman.
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
DokterSehat.Com– Kanker merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita, tua maupun muda. Ada banyak jenis penyakit kanker yang biasa dialami oleh banyak orang, seperti kanker serviks, kanker payudara, kanker kulit, dan masih banyak lainnya.
Kanker kulit merupakan salah satu kanker yang juga banyak dialami oleh berbagai kalangan. Penyakit ini disebabkan oleh radiasi sinar matahari terus menerus atau bisa juga karena mutasi DNA di sel epitel.
Meskipun perawatan medis saat ini sudah semakin canggih, akan tetapi alangkah baiknya jika mengenali tanda penyakit kanker sejak dini. Oleh sebab itu, kenali tanda-tanda kanker kulit berikut ini agar Anda bisa mengatasinya sedini mungkin sehingga tidak sampai membahayakan kesehatan.
1. Luka yang tak Kunjung Sembuh
Setiap orang pasti akan mengalami luka, baik terkena benda tajam ataupun karena terjatuh. Umumnya, luka tersebut akan sembuh seiring berjalannya waktu. Atau mungkin luka tersebut akan sembuh ketika telah diobati. Akan tetapi, jika luka yang Anda alami ternyata tak kunjung sembuh, Anda perlu untuk mewaspadainya dan segera memeriksanya ke dokter. Pasalnya, tanda ini menunjukkan bahwa Anda terindikasi menderita penyakit kanker kulit.
2. Muncul Tahi Lalat Secara Tiba-Tiba
Tahi lalat merupakan bintik hitam atau coklat yang ada di kulit. Tumbuhya tahi lalat di kulit sangatlah wajar, sebab hampir semua orang memiliki tahi lalat. Namun, jika tahi lalat muncul secara tiba-tiba, itu bukan hal yang wajar lagi. Bisa jadi Anda mengidap penyakit kanker kulit karena munculnya tahi lalat secara tiba-tiba merupakan tanda utama kanker kulit.
3. Perubahan pada Tahi Lalat
Tahi lalat juga bisa berubah bentuk. Salah satu penyebab perubahan bentuk pada tahi lalat ini juga diakibatkan oleh tanda munculnya penyakit kanker kulit. Jika Anda mengalami tanda-tanda seperti ini, segera periksakan ke dokter agar mendapatkan penangan sedini mungkin.
4. Kemeraha dan Bengkak
Jika di sekitar tahi lalat menjadi merah dan bengkak mirip iritasi, maka kemungkinan besar adalah tanda penyakit kanker kulit. Hal ini dikarenakan sel-sel ganas memicu peradangan di sekitar area tahi lalat sehingga menyebabkan merah dan bengkak. Jika hal ini dibiarkan terus menerus maka akan menjadi semakin buruk.
Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.
Ular adalah jenis hewan reptil yang banyak tersebar di wilayah Indonesia dan diantara jenis reptil berbahaya lainnya, ular berbisa adalah yang paling sering dijumpai berkeliaran disekitar tempat tinggal manusia. Karena ada banyak jenis ular berbisa yang sangat berbahaya bagi manusia, Jadi sebaiknya kita mewaspadai jika kita berhadapatan dengan ular berbisa paling mematikan ini yang jika tidak ditangani secepatnya dapat mengakibatkan kematian bagi manusia.
Apa saja ular berbisa paling mematikan di Indonesia? Ikuti penjelasannya di bawah ini.
10. Ular Picung

Ular Picung (Rhapdhopis subminiatus) adalah salah satu jenis ular Natricidae yang memiliki bisa sangat mematikan. Ular ini hidup dan berkelana di tempat-tempat lembab atau sekitar sumber air seperti sungai, rawa-rawa atau kolam. Ular yang dapat memiliki panjang hingga 1,3 meter ini juga banyak ditemukan disekitar persawahan atau perkebunan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
Panjang ular Picung dapat mencapai 1,3 meter dengan kepala berwarna kehijauan atau hijau zaitun. Leher atasnya berwarna kemerahan. Tubuh bagian atas berwarna kecokelatan dengan dihiasi pola menyeripai papan catur dibagian atas punggungnya sementara bagian bawah tubuhnya berwarna kekuningan.
9. Ular Bangkai Laut

Ular Bangkai Laut atau Ular Hijau Ekor Merah (t.Albolabris) adalah salah satu ular berbisa sangat berbahaya dan mematikan. Ular yang aktif di malam hari ini biasanya tidur bergulung di cabang pohon, semak atau kerimbunan ranting bambu.
Ular Bangkai Laut termasuk ular yang agresif, mudah terasa terganggu dan cepat menggigit. Ular ini juga merupakan penyumbang kasus gigitan ular terbanyak di Indonesia. Menurut pengalaman, ular jenis ini sering menggigit para pencari kayu bakar, pencari rumput atau gembala yang tengah berjalan di hutan.

Bisa ular ini dan umumnya ular Crotalinae, bersifat Hemotoxin yang dapat merusak sistem peredaran darah. Gigitan ular ini pada manusia menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat dan kerusakan jaringan disekitar gigitan. Dalam menit-menit pertama setelah gigitan, jaringan akan membengkak dan sebagaian akan berwarna merah gelap pertanda terjadi pendarahan di bawah kulit di sekitar luka.
Apabila tidak ditangani dengan baik, pendarahan internal dapat menyusul terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari kemudian yang bahkan dapat membawa kematian.
8. Ular Cobra Jawa

Ular Cobra Jawa atau ular sendok jawa (Naja Sputatrix) adalah salah satu jenis ular berbisa paling mematikan di Indonesia anggota suku Elapidae yang akhir-akhir ini banyak bermunculan di pemukiman rumah penduduk.
Cobra Jawa pada umumnya dapat dijumpai di lingkungan hutan hujan tropika, namun ular ini mampu beradaptasi dengan sangat baik pada pelbagai variasi habitat termasuk pada wilayah-wilayah yang lebih kering, hutan tanah kering dan lahan pertanian.
Ular bertubuh sedang hingga mencapai panjang hingga 1.85 centimeter ini memiliki tubuh bulat torak namun acap memipih datar di bagian muka. bagian disekitar leher dapat dilebarkan seperti tudung apabila merasa terancam.
Walaupun ular ini bersifat defensif namun sangat cepat menyemburkan bisanya bila sedang terganggu yang jika mengengenai mata manusia dapat nerakibat kebutaan.Ular ini hidup diatas tanah dan aktif di malam hari.
Menurut ahli Herpetologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahwa ada perbedaan signitifkan antara ular jenis kobra jawa dengan king cobra. King Cobra memiliki tubuh jauh lebih panjang dan besar jika dibandingkan dengan ular Kobra Jawa. Panjang tubuh King Cobra bisa mencapai panjang 6 meter sementara Ular Cobra Jawa memiliki panjang tubuh kurang dari 2 meter. Selain itu pada tubuh King Cobra dibagian kepala memiliki sepasang sisik occipital sementara Kobra Jawa tidak memiliki sisik tersebut.
7. Ular Tanah

Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma) adalah ular berbisa yang sangat mematikan dari keluarga Beludak berbisa yang sangat agresif. Ular yang termasuk dari anak suku Crotalinae ini banyak tersebar di Pulau Jawa dan sekitarnya.
Ualr Tanah merupakan predator penyergap yang hanya melingkar di tanah atau menyatu dengan daun-daun kering menunggu mangsanya lewat di dekatnya. Ular ini banyak hidup di hutan belukar, semak-semak atau lahan pertanian yang lembab atau kurang terurus atau sering juga ditemukan disekitar pemukiman penduduk.
Gigitan ular ini sangat menyakitkan dan mematikan. Meskipun gigitan fatal jarang terjadi, namun banyak korbannya yang kemudian mengalami kerusakan atau dwifungsi anggota badan atau bisa sampai di amputasi karena ketiadaan serum anti-bisa atau keterlambatan pengobatan.
6. King Cobra

King Cobra atau Ular Anang (Ophiophagus hannah) adalah ular berbisa terpanjang di dunia. Ular ini berada di posisi keenam karena bisanya sangat mematikan dengan sifatnya yang sangat agresif. Ular King Cobra banyak ditemukan di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Pulau Bali, Bangka serta Kepulauan Mentawai.
Bisa ular King Cobra terutama tersusun dari protein dan polipeptida yang dihasilkan dari kelenjar ludah yang telah berubah fungsi yang terletak dibelakang mata. Tatkala menggigit mangsanya. bisa ini tersalur melalui taring sepanjang sekitar 8-10 mm yang menancap di daging mangsanya. Meskipun racun ular king cobra dianggap tidak sekuat ualr-ular berbisa lainnya, namun ular ini dapat mengeluarkan bisa yang cukup banyak ke tubuh korbannya. Percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa satu kali gigitan ular ini dapat mengeluarkan sejumlah bisa yang cukup membunuh 10 orang.

Bisa ular King Cobra bersifat neurotoksin yakni menyerang sistem saraf korbannya serta dengan cepat menimbulkan rasa sakit yang amat sangat, pandangan yang mengabur, vertigo, dan kelumpuhan otot. Pada saat - saat berikutnya, korban akan mengalami kegagalan sistem kardiokasvolar dan selanjutnya kematian dapat timbul akibat kelumpuhan sistem pernafasan.
5. Ular Bandotan Puspa

Ular Bandotan Puspa (Daboia siamensis) adalah salah satu ular berbisa paling mematikan di Indonesia dari jenis ular Beludak yang banyak hidup di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah bagian timur, Pulau Madura dan Nusa Tenggara Timur. Ular ini banyak aktif di malam hari dan mempunyai perilaku yang khas pada saat menyembunyikan dirinya yaitu badannya akan bergulung di dalam alang-alang yang kering.
Walaupun bisa ular ini sangat mematikan, Namun sebuah serum antibisa yang bernama Rusell's Viper Antivenin yang dibuat oleh Palang Merah Thailand dapat mengobati bisa dari ular yang sangat mematikan ini.
4. Ular Cabe

Ular Cabe (Calliophis intestinalis) adalah sejenis ular berbisa sangat mematikan dari suku elapidae. Ular yang banyak terdapat di Pulau Sumatra, Kepulauan Mentawai, Pulau Jawa dan Kalimantan ini bertubuh kecil, panjang dan ramping dengan panjang total mencapai 58 centimeter. Kepalanya kecil dan sedikit memipih rata tak terbedakan dari lehernya dengan moncongnya yang membulat. sebuah bintik segitiga keputihan terdapat pada masing-masing pelipisnya.
Sebagaimana kerabatnya dari ular-ular suku Elapidae, Ular Cabe memiliki bisa yang sangat kuat dari golongan neurotoksin. Efek dari bisa ini dapat menimbulkan rasa pusing, mual-mual dan kesulitan bernafas pada korbannya. terasa sakit pada sekitar area gigitan, pembengkakan dan kematian jaringan (nekrosis).Kelenjar bisa pada Ular Cabe memanjang hingga sepertiga tubuh bagian depan korban dan bila tidak cepat-cepat ditangani akan mengakibatkan kematian.
3. Ular Putih Papua

Ular Putih Papua (Micropechis ikaheka) atau ular Senawan Papua yang endemik di Pulau Papua. Nama lokal ular ini adalah Ikaheka karena hidup di daerah yang lembab, basah dan becek (berlumpur).
Ciri ular ini adalah memiliki tubuh yang agak gemuk dengan ekor yang relatif pendek. kepala kecil tetapi dapat dibedakan dari lehernya. Matanya kecil dengan biji mata yang bulat. Kepala berwarna terang sampai kelabu gelap. Bibir. leher dan dagunya kekuning-kuningan. Lehernya berwarna kuning atau krem kadangkala ujung sisik berwarna gelap. Pada bagian tengah badannya berwarna cokelat kemerah-merahan dengan belang-belang sisik berwarna gelap atau kehitam-hitaman.Bagian perutnya berwarna kuning krem dengan tepi sisik yang berwarna hitam atau cokelat.
Ular ini sangat berbisa dan berbahaya. diketahui saat menggigit ia tidak akan langsung melepasnya melainkan akan terus mengunyah pada korbannya.
2. Ular Death Edder

Ular Death Adder (Bitis albanica) adalah spesies ular Beludak yang banyak terdapat di Pulau Papua bagian selatan. Dari banyak ular berbisa paling mematikan di Indonesia, Death Adder berada pada posisi kedua ular berbisa paling mematikan di dunia Ular ini disebut-sebut memiliki bisa paling berbahaya karena dapat bereaksi dengan sangat cepat jika orang yang digigit tidak cepat-cepat mendapatkan pengobatan.
Death Adder berbeda jenis dengan ular derik, Ular ini memiliki dasar warna berwarna cokelat kelabu dengan belang-belang berwarna pucat. Ular ini bertubuh gemuk dan pendek, kepalanya menyerupai kapak ada sisik di atas kepala yang ukurannya kecil. Mata ular ini memiliki pupil yang vertikal, serta taring berukuran panjang. Ekor Death Adder berbentuk seperti cacing yang berfungsi memancing mangsanya agar tidak takut mendekat.
Death Edder diketahui bisa menyuntikan sekitar 40 - 100 miligram racun saraf, yang mana sekali gigitannya dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian hanya dalam waktu 6 jam yang berakibat pada kegagalan fungsi pernafasan.
1. Ular Cokelat Papua/Taipan

Ular Cokelat Papua / Taipan (Oxyuranus) adalah ular berbisa paling mematikan di Indonesia dalam daftar list kami. Ular ini adalah jenis ular senawan bertubuh panjang, gesit, agresif dan memiliki bisa yang sangat tinggi. Taipan adalah salah satu dari 5 ular paling mematikan di dunia.
Jenis ular ini memiliki bisa yang sangat mematikan, lebih tinggi dari bisa ular king cobra dan juga merupakan ular berbisa paling mematikan di dunia. Bisanya bersifat neurotoksin, sangat berbahaya dan dapat merusak saraf manusia. Ular yang tersebar luas di Pulau Papua bagian selatan ini hanya perlu meneteskan setetes saja racunnya untuk membunuh mangsa-mangsanya.
10 ular berbisa ini memang sangat berbahaya dan mematikan jika terkena racunnya, jadi sebaiknya hindarilah jika bertemu dengan ular-ular diatas. Demi keselamatan Anda.
10 Hewan Endemik Hutan Hujan Tropis, Mulai dari Orangutan sampai Burung Kasuari
Hutan hujan tropis adalah salah satu jenis hutan yang terletak di garis ekuator sehingga memiliki temperatur yang hangat serta terpapar sinar matahari nyaris sepanjang tahun. Hutan ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Mengingat, keanekaragaman hayati yang tinggi, kira-kira hewan apa saja yang tinggal di hutan hujan tropis ya? Berikut ini 10 hewan endemik hutan hujan tropis di Indonesia!
1. Tarsius


Hewan endemik hutan hujan tropis yang pertama adalah tarsius.
Hewan endemik hutan hujan tropis yang pertama adalah Tarsius. Mengutip dari Jurnal Warta Rimba (2014) primata mungil ini hanya memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Bahkan Tarsius pumilus (Pygmy tersier) yang merupakan jenis tarsius terkecil hanya memiliki panjang tubuh antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197-205 millimeter.
Tarsius mengeluarkan nyanyian berupa cicitan rumit dengan berbagai nada saat mencari makan di malam hari dan pagi hari ketika akan kembali ke sarang. Nyanyian tersebut mengabarkan bahwa keluarga tarsius dalam keadaan sehat dan mengingatkan keluarga lain agar tidak memasuki wilayahnya.
Sejak tahun 1931, tarsius sudah dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266 tahun 2931, diperkuat dengan Undang-undang No.5 tahun 1990, serta Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 yang dikeluarkan tanggal 10 Juni 1991. Tarsius juga termasuk hewan yang dilarang untuk diperdagangkan dalam daftar Appendix II CITES.
2. Tarantula, Hewan Endemik Hutan Hujan Tropis yang Dianggap Mematikan


Laba-laba besar ini juga termasuk ke dalam hewan endemik hutan hujan tropis.
Banyak orang menganggap bahwa tarantula merupakan hewan yang sangat mematikan. Film-film menggambarkan dengan satu gigitan tarantula seketika membuat orang kehilangan nyawanya. Padahal, tarantula bukanlah hewan yang mematikan.
Tarantula sendiri merupakan jenis dari laba-laba yang lebih besar dan berbulu. Semua tarantula memang beracun, tetapi kadarnya berbeda. Bahkan yang kadarnya tinggi sekalipun tidak mematikan. Oh iya, tidak semua tarantula juga berwarna gelap. Beberapa ada yang memiliki warna dan juga motif yang indah.
Fyi, karena lagi ngomongin laba-laba, ternyata ia bukan satu-satunya organisme yang membuat jaring. Namun cara membuat dan menggunakan jaringnya tidak sama dengan kelompok hewan lain. Jaring hanya diproduksi dalam spineres di bagian ujung abdomen.
Laba-laba juga sangat peka terhadap kekeringan. Terdapat spesies laba-laba yang tahan terhadap kekeringan dan kekurangan makanan contohnya, Loxos celes. Spesies tersebut bisa bertahan lebih dari 1 tahun tanpa membutuhkan makan dan air.
3. Beruang Madu
Hewan endemik hutan hujan tropis selanjutnya adalah beruang madu. Beruang madu termasuk ke dalam family Ursidae dan merupakan spesies terkecil dari delapan spesies beruang yang ada di dunia.
Di Indonesia, terdapat 2 jenis beruang madu yaitu Helarctos malayanus malayanus yang terdapat di Sumatra dan Helarctos malayanus euryspilus yang berada di Kalimantan.
Adapun sifat-sifat fisik beruang madu antara lain berbulu pendek, mengilai, dan pada umumnya hitam. Matanya berwarna coklat atau biru. Hidung beruang madu relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong.
Daya penciumannya sangat tajam sehingga dapat mencium bekas injakan satwa lain maupun manusia. Kepala beruang madu relatif besar sehingga dapat merupai anjing, kupingnya kecil-bundar, dan dahinya penuh daging tampak berkerut.
Sejak April 2004 Persatuan Konservasi Dunia (IUCN) mengubah klasifikasi status konservasi beruang madu dari ‘tidak diketahui karena kurang data’ (Data deficient) ke ‘terancam’ (Vulnerable). Itu artinya beruang madu terancam punah terutama karena habitatnya berkurang terus-menerus.
4. Macan Dahan
Mengutip dari Jurnal Media Konservasi (2016), sejak tahun 2007 macan dahan atau clouded leopard dinyatakan memiliki dua spesies yang berbeda secara genetika yaitu macan dahan yang tersebar di daratan utama Asia (Neofelis nebulosa) dan Pulau Sunda besar seperti Indonesia (Neofelis diardi).
Macan dahan Indonesia merupakan predator terbesar di Pulau Kalimantan. Hewan ini bersifat endemik di wilayah bagian Asia-Tropis-Temperate. Oleh karena itu, keberadaannya sebagai top-predator sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di seluruh kawasan hutan Kalimantan.
Sayangnya, ancaman terbesar yang saat ini dihadapi oleh macan dahan adalah deforestasi dan fragmentasi habitat akibat alih fungsi hutan menjadi kawasan pemukiman dan pertanian. Apalagi, macan dahan merupakan satwa arboreal maka ketergantungannya terhadap ekosistem hutan sangat tinggi.
Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia mengklasifikasikan macan dahan ke dalam satwa yang dilindungi melalui PP no.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
5. Tapir
Tapir juga merupakan hewan endemik hutan hujan tropis yang masuk ke dalam famili Tapiridae dan ordo Perissodactyla. Tapir adalah salah satu dari empat spesies famili Tapiridae yang masih hidup.
Tiga jenis tapir lainnya yaitu T. terrestris atau lowland tapir tersebar di dataran rendah Amerika Selatan bagian utara dan tengah. T. pinchaque atau mountain tapir tersebar di Pegunungan Andes yang berada di Kolombia, Ekuador, dan sebagian besar bagian utara Peru. Sementara Tapirus indicus tersebar di Myanmar dan Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaya, dan Sumatra.
Sebagaimana spesies satwa liar yang ada di ekosistem hutan tropis, tapir umumnya bersifat elusive (tidak suka menampakkan diri) dan berpenampilan cryptic (tersamar) sehingga sulit dilihat secara langsung.
Sayangnya banyak habitat tapir yang kemudian rusak akibat pembukaan ladang, penebangan kayu, hingga penambangan. Tentu, aktivitas ini dapat memengaruhi pola aktivitas tapir di habitatnya.
6. Orangutan, Kera Besar yang Terancam Punah


Siapa yang tak kenal primata satu ini? Yup, orangutan!
Selanjutnya ada hewan endemik hutan hujan tropis yang khas dengan Indonesia yaitu Orangutan. Orangutan adalah satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga kerabatnya, yaitu; gorilla, simpanse, dan bonobo hidup di Afrika.
Kini, jenis kera besar ini hanya ditemukan di Sumatera dan Borneo, 90% berada di Indonesia. Penyebab utama mengapa terjadi penyempitan daerah sebaran adalah karena manusia dan orangutan menyukai tempat hidup yang sama. Pemanfaatan lahan untuk aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya manusia umumnya berakibat fatal bagi orangutan.
Padahal, orangutan dapat dijadikan ‘umbrella species’ (spesies payung) untuk meningkatkan kesadaran konservasi masyarakat. Kelestarian orangutan menjamin kelestarian hutan yang menjadi habitatnya, sehingga diharapkan kelestarian makhluk hidup lain ikut terjaga pula.
Sebagai pemakan buah, orangutan merupakan agen penyebar biji yang efektif untuk menjamin regenerasi hutan.
7. Belalang


Hewan ini memang dapat ditemukan hampir di semua ekosistem terestrial.
Hewan endemik hutan hujan tropis ini memang kerap kita temui keberadaannya, apalagi kalau bukan belalang. Belalang adalah serangga yang memiliki sayap tetapi ada sebagian yang tidak. Bentuk tubuh belalang memanjang yang terdiri dari beberapa segmen dan memiliki antena yang ukurannya relatif panjang atau pendek. Tubuh belalang terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala, torak, dan abdomen.
Belalang dapat ditemukan hampir di semua ekosistem terestrial. Sebagian besar spesies belalang berada di ekosistem hutan dan makan hampir setiap tanaman liar ataupun yang dibudidayakan. Makin tinggi keanekaragaman vegetasi pada suatu habitat maka akan semakin tinggi pula sumber pakan bagi belalang dalam suatu habitat, sehingga keberadaannya melimpah.
8. Gajah
Tahukah kamu, di dunia ini hanya ada dua jenis spesies gajah yaitu gajah Asia dan Afrika? Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah Asia. Sayangnya, populasi Gajah Sumatera mengalami penurunan drastis.
Penurunan tersebut terjadi di antaranya akibat dari rusaknya hutan dataran rendah Pulau Sumatera yang berperan sebagai penyedia pakan gajah.
Sebanyak 75% gajah kemudian melakukan pergerakan untuk menemukan sumber pakan yang masih banyak dan sering kali masuk dalam wilayah perkebunan masyarakat. Hal tersebut lantas menyebabkan konflik antara manusia dan gajah yang berakhir dengan kematian gajah.
Badan konservasi dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkan Gajah sumatera sebagai satwa dengan status terancam punah (critical endangered) dan tergolong satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999.
9. Harimau Sumatra
Harimau Sumatra adalah satu-satunya anak jenis harimau yang tersisa di Indonesia. Sebelumnya, di Indonesia terdapat tiga anak jenis harimau di mana dua di antaranya, harimau bali dan harimau jawa, dinyatakan punah sekitar tahun 1940-an dan 1980-an.
Salah satu penyebab kepunahan dua anak jenis harimau ini adalah adanya perburuan secara besar-besaran pada masa penjajahan dan makin menyempitnya habitat alami harimau. Sementara harimau sumatera saat ini dinyatakan mengalami penurunan populasi dan menuju kepunahan.
Adapun, berkurangnya populasi harimau disebabkan oleh berbagai faktor seperti menyempitnya areal hutan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan, pemukiman, pertanian, dan industri. Walhasil mempersempit habitat yang dapat berdampak pada penurunan
populasi.
10. Burung Kasuari, Hewan Endemik Hutan Hujan Tropis yang Tidak Bisa Terbang


Kasuari, burung endemik Indonesia yang selalu memukau!
Kasuari memiliki tubuh yang besar, leher yang panjang. Kasuari betina lebih besar dan berwarna cerah. Sementara kasuari dewasa setinggi 1,5 -1,8 m, meskipun beberapa betina mencapai 2 m dan berat 58,5 kg.
Kasuari menggunakan kaki mereka yang memiliki tiga jari dengan cakar tajam sebagai senjata. Kasuasi juga bisa berjalan hingga 50 km/jam melalui hutan lebat dan bisa meloncat hingga 1,5 m.
Sayangnya, populasi burung kasuari mengalami tekanan dan habitat hidupnya terganggu sebagai dampak pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan peningkatan penggunaan lahan. Masalah yang cukup serius adalah perburuan liar, baik terhadap burung dewasa, anak, maupun telurnya.
Penduduk setempat memanfaatkan dagingnya sebagai sumber protein hewani, sedangkan tulangnya dimanfaatkan sebagai senjata (mata tombak, mata panah, dan pisau).
Itulah 10 hewan endemik hutan hujan tropis yang ada di Indonesia. Harapannya melalui artikel ini kita menjadi sadar pentingnya keberadaan hutan bagi alam dan juga fauna. Karena, sudah semestinya juga kita saling menjaga dan melindungi sesama makhluk hidup di bumi!