Thursday, 29 September 2011

Gangguan Somatoform


ditulis oleh: dr Engelberta Pardamean, SpKJ
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.
Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:
  • Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
  • Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
  • Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
  • Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
  • Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
    DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
  • Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
  1. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  2. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
    1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
    2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
    3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
    4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
  3. Salah satu (1)atau (2):
    1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
    2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
  4. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
  1. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
  2. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
  3. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
  4. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
  5. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.
  6. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.
    Sebutkan tipe gejala atau defisit:
    Dengan gejata atau defisit motorik
    Dengan gejala atau defisit sensorik
    Dengan kejang atau konvulsi
    Dengan gambaran campuran
Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
  1. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala­gejala tubuh.
  2. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
  3. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
  4. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  5. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
  6. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.
Sebutkan jika:
Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir, orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan. 
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
  1. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
  2. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  3. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
  1. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis.
  2. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  3. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
  4. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
  5. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut:
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
  
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan

Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan untuk mempermudah diagnosis banding.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
  1. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
    gastrointestinal atau saluran kemih)
  2. Salah satu (1)atau (2)
    1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
    2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
  3. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  4. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
  5. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
  6. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura)
GANGGUAN PSIKOSOMATIK
Penggunaan kata "psikosomatik "baru digunakan pada awal tahun 1980-an. Istilah tersebut dapat ditemukan pada abad ke-19 pada penulisan oleh seorang psikiater Jerman Johann Christian Heinroth dan psikiater lnggns John Charles Bucknill. 
Nosologi DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) Psikosomatis
Untuk membuat kategori secara klinis, DSM-IV mengandung format subkategorisasi yang membuat dokter dapat menspesifikasikan jenis faktor psikologis atau tingkah laku yang mempengaruhi kondisi medis pasien. Faktor-faktor tersebut dirancang sedemikian mencakup jangkauan yang luas dari fenomena psikologis dan tingkah laku yang tampaknya mempenganuhi kesehatan fisik.
Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis

  1. Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III)
  2. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu cara berikut:
    1. Faktor yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan oleh hubungan erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau eksaserbasi dan, atau keterlambatan penyembuhan dan, kondisi medis umum.
    2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
    3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
    4. Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala-gejala kondisi medis umum.
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu faktor, nyatakan yang paling menonjol)
Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan depresif berat memperiambat  pemulihan dan infark miokardium)
Gejala psikologis mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala depresif memperlambat pemulihan dan pembedahan; kecemasan mengeksaserbasi asthma)
Sifat kepribadlan atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi kondisi medis(misalnya penyangkaian psikologis terhadap pembedahan pada seorang pasien kanker, perilaku bermusuhan dan tertekan menyebabkan penyakit kandiovaskular).

Perilaku kesehatan maladaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak olahraga, seks yang tidak aman, makan benlebihan).
Respon fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis umum(misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau tension headache yang berhubungan dengan stres).
Faktor psikologis lain yang tidak ditentukan mempengaruhi kondisi medis (misalnya faktor interpersonal, kultural, atau religius)
 
I.   Gangguan Gastrointestinal

  1. Ulkus Peptikum
    • Merupakan ulserasi pada membran mukosa lambung atau duodenum, berbatas jelas, menemus ke mukosa muskularis dan terjadi di daerah yang terkena asam lambung dan pepsin.
    • Etiologi
      Teori spesifik
    • Alexander menghipotesiskan bahwa frustasi kronis dari kebutuhan ketergantungan yang kuat menyebabkan konflik bawah sadar yang spesifik.
    • Konflik bawah sadar tersebut menyinggung ketergantungan kuat akan keinginan reseptif-oral untuk disayangi dan dicintai, menyebabkan rasa lapar dan kemarahan bawah sadar yang regresif dan kronis.
    • Reaksi dimanifestasikan secara psikologis oleh hiperaktivitas vagal persisten yang menyebabkan hipersekresi asam lambung, yang terutama jelas pada orang yang memiliki predisposisi genetik. Pembentukan ulkus dapat terjadi.
    • Faktor genetik dan kerusakan atau penyakit organ yang telah ada sebelumnya (contohnya gastritis)adalah penyebab yang penting.
    • Terapi
    • Psikoterapi diarahkan pada konflik ketergantungan pasien.
    • Biofeedback dan terapi relaksasi berguna.
    • Terapi medis dengan cimetidine (Tagamet), ranitidine (Zantac), sucralfate (Carafate), atau famotidine (Pepcid), serta pengendalian diet diindikasikan dalam penatalaksanaan ulkus. Obat antimikrobial pada ulkus akibat H. Pylon.
  2. Kolitis Ulseratif
    • Penyakit ulseratif inflamatoris kronis pada kolon, biasanya disertai diare berdarah. Insidensi familial dan faktor genetik penting.
    • Tipe kepribadian: sifat kepribadian kompulsif yang menonjol. Pasien adalah seorang yang pembersih, tertib, rapi, tepat waktu, hiperintelektual, malu­malu, dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan.
    • Etiologi
      Teori spesifik:
    • Alexander menggambarkan kumpulan konflik spesifik pada kolitis ulseratif yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban (biasanya tidak patuh) sampai kepada inti ketergantungan. Ketergantungan yang mengalami frustasi menstimulasi perasaan agresif-oral, menyebabkan rasa bersalah dan kecemasan. Menghasilkan pemulihan melalui diare.
    • Terapi
    • Psikoterapi yang tidak konfrontatif dan suportif diindikasikan pada kolitis ulseratif.
    • Terapi medis seperti obat antikolinergik dan antidiare.
  3. Obesitas
    • Akumulasi lemak berlebihan; berat badan melebihi 20 % berat badan seharusnya.
    • Pertimbangan psikosomatik
    • Terdapat predisposisi genetik dan faktor perkembangan awal ditemukan pada obesitas masa anak-anak.
    • Faktor psikologis penting pada obesitas hiperfagik (makan berlebihan), khususnya pada makan pesta pora.
    • Faktor psikodinamika yang diajukan antara lain fiksasi oral, regresi oral, dan penilaian berlebihan terhadap makanan.
    • Pasien memiliki riwayat penghindaran terhadap citra tubuh dan kebiasaan awal yang buruk dalam asupan makanan.
    • Terapi
    • Dikendalikan melalui pembatasan diet dan penurunan asupan kalori.
    • Dukungan emosional dan modifikasi perilaku membantu mengatasi kecemasan dan depresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet.
  4. Anoreksia Nervosa
    Perilaku yang diarahkan untuk:
    • Menghilangkan berat badan.
    • Pola aneh dalam menangani makanan.
    • Penurunan berat badan.
    • Rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.
    • Gangguan citra tubuh.
    • Amenore pada wanita.
II.  Gangguan Kardlovaskular

  1. Penyakit Arteri Koroner
    • Penurunan aliran darah ke jantung. Ditandai oleh rasa nyeri, tidak nyaman, tekanan pada dada dan jantung secara episodik.
    • Biasanya ditimbuikan oleh penggunaan tenaga dan stres.
    • Tipe kepribadian
    • Flanders Dunbar: pasien penyakit koroner berkepribadian agresif­kompulsif, cendenung bekerja dengan waktu panjang, dan untuk meningkatkan kekuasaan.
    • Meyer Fiedman dan Ray Rosenman: kepriibadian tipe A dan B.
    • Kepribadian tipe A berhubungan kuat dengan penyakit jantung koroner.
      Orang yang berorientasi tindakan berjuang keras untuk mencapai tujuan dengan cara permusuhan yang kompetitif. Memiliki peningkatan jumlah lipoprotein densitas rendah, kolesterol serum, trigliserida, dan 17- hidroksikolestenol.
    • Kepribadian tipe B: santai, kurang agresif, kurang aktif berjuang mencapai tujuannya.
    • Terapi: Jika terjadi oklusi koroner, digunakan berbagai medikasi bagi status jantung pasien. Untuk menghilangkan ketegangan psikis, digunakan psikotropika (contoh diazepam / valium). Rasa sakit diobati dengan analgesik (contoh morfin). Terapi medis harus suportif dengan penekanan psikologis untuk menghilangkan stres psikis, kompulsif, dan ketegangan.
  2. Hipertensi Esensial
    • Tipe kepribadian
    • Orang hipertensif tampak dari luar menyeriangkan, patuh, dan kompulsif; walaupun kemarahan mereka tidak diekspresikan secara terbuka, memiliki banyak kekerasan yang terhalangi.
    • Predisposisi genetik untuk hipertensi; yaitu bila terjadi stres kronis pada kepribadian kompulsif yang telah merepresi dan menekan kekerasan.
    • Terapi: Psikoterapi suportif dan teknik perilaku (contoh: biofeedback, meditasi, terapi relaksasi). Pasien harus patuh dengan regimen medikasi anti hipertensi.
  3. Gagal Jantung Kongestif
    • Gangguan di mana jantung gagal memompa darah secara normal, menyebabkan kongesti paru dan menurunkan aliran darah jaringan dengan penurunan curah Jantung.
    • Faktor psikologis, seperti stres dan konflik emosional nonspesifik, seringkali bermakna dalam mulainya atau eksaserbasi gangguan.
    • Psikoterapi suportif penting dalam pengobatannya.
  4. Sinkop Vasomotor (Vasodepresor)
    • Ditandai oleh kehilangan kesadaran (pingsan) secara tiba-tiba yang disebabkan oleh serangan vasovagal.
    • Menurut Franz Alexander, rasa khawatir atau takut menghambat impuls untuk berkelahi atau melarikan diri. Dengan demikian menampung darah di anggota gerak bawah, dari vasodilatasi pembuluh darah di dalam tungkai. Reaksi tersebut menyebabkan penurunan pengisian ventrikel, penurunan pasokan darah ke otak, dan akibatnya hipoksia otak dan kehilangan kesadaran.
    • Terapi: Psikoterapi harus digunakan untuk menentukan penyebab ketakutan atau trauma yang berhubungan dengan sinkop
  5. Aritmia Jantung
    • Aritmia yang potensial membahayakan hidup (seperti palpitasi, takikardi ventrikular, dan fibrilasi ventrikular), kadang-kadang terjadi bersama dengan luapan emosional.
    • Juga berhubungan dengan trauma emosional adalah takikardi sinus, perubahan gelombang ST dan gelombang T, peningkatan katekolamin plasma, dan konsentrasi asam lemak bebas.
    • Stres emosional tidak spesifik, dan penjelasan kepribadian yang berhubungan dengan gangguan.
    • Terapi: Psikoterapi dan obat penghambat beta (propanolol, dll)
  6. Fenomena Raynaud
    • Sianosis bilateral paroksismal idiopatik pada jail karena kontraksi arteniolan.
    • Kontraksi arteniolar seringkali disebabkan oleh stres ekstemal.
    • Terapi: dapat diobati dengan psikoterapi suportif, relaksasi progresif, atau biofeedback dengan melindungi tubuh dari dingin dan menggunakan sedatif ringan.
    • Merokok harus dihentikan.
  7. Jantung Psikogenik Bukan Penyakit
    • Pasien menunjukkan keprihatinan morbid tentang jantungnya dan rasa takut akan penyakit jantung yang meningkat.
    • Rasa takut dapat timbul dan masalah kecemasan, yang dimanifestasikan oleh fobia atau hipokondriasis parah, sampai keyakinan vaham bahwa mereka menderita penyakit jantung.
    • Banyak pasien menderita akibat sindroma yang kurang jelas ini seringkali dinamakan astenia neurosirkulatorik.
    • Astenia neurosirkulatonik pertama kali digambarkan tahun 1871 oleh Jacob M. DaCosta, yang menamakannya jantung iritabel (irritable hearth).
    • Dokter psikiatrik cenderung memandang sebagai varian klinik dari gangguan kecemasan, walaupun tidak ditemukan dalam DSM-IV.
    • >Kriteria diagnostik astenia neurosirkulatorik:
    • Keluhan pemapasan seperti pemapasan yang resah, tidak dapat menarik napas dalam, tercekik dan tersedak, dan sesak napas.
    • Palpitasi, nyeri dada, atau rasa tidak enak.
    • Kegugupan, pening, pingsan, atau rasa tidak enak di puncak kepala.
    • Kelelahan yang tidak hilang-hilang atau pembatasan aktivitas.
    • Keringat berlebihan, insomnia, dan iritabilitas.
    • Gejala biasanya mulai pada mulai masa remaja atau pada awal usia 20-an.
    • Gejala tertentu adalah dua kali lebih sering pada wanita dan cenderung kronis, dengan eksaserbasi akut rekuren.
    • Terapi:
    • Penatalaksanaan astenia neurosirkulatorik mungkin sulit. Elemen fobik adalah menonjol.
    • Psikoterapi ditujukan untuk mengungkapkan faktor psikodinamik-seringkali menghubungkan dengan permusuhan, impuls seksual yang tidak dapat diterima, ketergantungan, rasa bersalah, dan kecemasan akan mati. Tetapi mungkin efektif pada beberapa kasus, karena beberapa pasien mungkin menghindari bantuan psikiatrik.
    • Teknik perilaku lain mungkin berguna. Program latihan fisik ditujukan untuk mengkoreksi kebiasaan pemapasan yang buruk dan secara bertahap meningkatkan toleransi kerja pasien. Program ini dapat dikombinasikan dengan psikoterapi kelompok.
III. Gangguan Pemapasan
  1. Asma Bronkialis
    • Penyakit obstruktif rekuren pada jalan napas bronkial, cenderung berespon terhadap berbagai stimuli dengan konstriksi bronkial, edema, dan sekresi yang berlebihan.
    • Faktor genetika, alergik, infeksi, dan stres akut dan kronis berkombinasi untuk menimbulkan penyakit.
    • Faktor psikologis: tidak ada tipe kepribadian spesifik yang telah diidentifikasi. Alexander mengajukan faktor konfliktual psikodinamika, karena ia menemukan pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis, berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapatkan, serangan asthma terjadi, karena ia menemukan pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis, berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapàtkan, serangan asma terjadi.
    • Terapi: beberapa pasien asma membaik dengan dipisahkan dan ibu (disebut parentektomi). Semua psikoterapi standar digunakan: individual, kelompok, perilaku(desensitisasi sistematik), dan hipnotik.6,8,9
  2. Hay Fever
    • Faktor psikologis yang kuatberkombinasi dengan elemen alengi.
    • Terapi: faktor psikiatrik, medis, dan alergik harus dipertimbangkan.
  3. Sindroma Hiperventilasi
    • Pasien hiperventilasi bennapas cepat dan dalam selama beberapa menit, merasa ningan, dan selanjutnya pingsan karena vasokonstriksi serebral dan alkalosis respiratonik.
    • Differential diagnosis pada psikiatrik adalah serangan kecemasan, panik, skizofnenia, gangguan kepribadian histnionik, dan keluhan fobik atau obsesif
    • Terapi: harus diberikan instruksi atau latihan ulang benhubungan dengan gejala tertentu dan bagaimana gejala tersebut ditimbulkan oleh hiperventilasi, sehingga pasien secana sadar menghindani pencetus gejala. Bemafas ke dalam sebuah kantong dapat menghentikan serangan. Psikoterapi suportif juga diindikasikan.
  4. Tuberkulosis
    • Onset dan perburukan tubenkulosis seringkali berhubungan dengan stres akutdan kronis.
    • Faktor psikologis mempenganuhi sistem kekebalan dan mungkin mempengaruhi dayatahan pasien terhadap penyakit.
    • Penanan stres pada insidensi tuberkulosis belum dipelajari secara menyeluruh, tetapi sebagian besan pasien AIDS memiliki komplikasi psikiatrik dan neunologis dan besar kemungkinannya mengalami stres.
    • Psikoterapi suportif berguna karena adanya peranan stres dan situasi psikososial yang rumit.
IV. Gangguan Endokrin
  1. Hipertiroidisme
    • Suatu sindroma yang ditandai oieh perubahan biokimiawi danpalkologis yang terjadi sebagai akibat dan kelebihan hormon_tiroid~eñdogen atau eksogen yang kronis.
    • Pertimbangan psikosomatik
    • Pada orang yang terpredisposisi secara genetik, stres seringkali disentai dengan onset hipertiroidisme.
    • Menurut teori psikoanalitik, selama masa anak-anak, pasien hipertiroid memiliki penlekatan yang tidak lazim dan ketergantungan pada onangtua, biasanya kepada ibu. Mereka menjadi tidak tahan terhadap ancaman penolakan dani ibu. Sebagai anak-anak, pasien tersebut seringkali memiliki dukungan yang tidak adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stres awal dan pemakaian benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
      Dukungan yang tidak adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stnes awal dan pemakaian benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
    • Terapi: medikasi antitiroid, tranquilizer, dan psikotenapi suportif.
  2. Diabetes Melitus
    • Gangguan metabolisme dan sistem vaskular dimanifestasikan gangguan pengaturan giukosa, lemak, dan protein tubuh
    • Onset yang mendadak seringkali berhubungan dengan stres emosional, yang mengganggu keseimbangan homeostatik pada pasien yang terpredisposisi.
    • Faktor psikologis yang tampaknya penting adalah faktor yang mencetuskan perasaan fnustnasi, kesepian, dan kesedihan.
    • Pasien diabetik biasanya mempertahankan kontnol diabetiknya. Jika mengalami depresi atau merasa sedih, mereka seringkaii makan atau ininum benlebihan yang merusak diri sendini, sehingga diabetes menjadi tidak terkendali.
    • Terapi: psikotenapi suportif dipenlukan untuk mencapai kerjasama dalam penatalaksanaan medis dani penyakit kompleks. Terapi harus mendorong pasien diabetik untuk menjalani kehidupan senonmal mungkin, dengan menyadari bahwa mereka memiliki penyakit kronis yang dapat ditangani.
  3. Gangguan Endokrin Wanita
    1. Sindroma pramenstruasi (Premenstrual Syndrome! PMS)
      • Merupakan gangguan disforik pramenstruasi, ditandai oleh perubahan subjektmfsikiis dalam mood dan rasa kesehatan fisik dan psikologis umum yang berhubungan dengan siklus menstruasi.
      • Gejala biasanya dimulai segera setelah ovulasi, meningkat secana bertahap, dan mencapai intensitas maksimum kira-kira lima han sebelum menstruasi dimulai.
      • Faktor psikologis, sosial, dan biologis telah terlibat di dalam patogenesis gangguan.
      • Perubahan kadar estrogen, progesteron, androgen, dan proiaktin telah dihipotesiskan berperan penting dalam penyebab.
      • Peningkatan prostaglandin tenlibat dalam rasa nyerii yang benhubungan dengan gangguan.
      • Gangguan disfonik paramenstruasi juga terjadi pada wanita setelah menopause dan setelah histerektomi.
    2. Penderltaan Menopause (Menopause Distress)
      • Peristiwa fisiologis alami, terjadi setelah tidak ada peniode menstnuasi selama satu tahun. Juga teijadi segera setelah pengangkatan ovarium.
      • Gejala psikologis tenmasuk kelelahan, kecemasan, ketegangan, labilitas emosional, initabilitas (mudah marah), depresi, dan insomnia.
      • Tanda dan gejala fisik adalah keringat malam, muka merah, rasa panas (hot flushes)
      • Faktor psikologis dan psikososial
      • Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan psikologis, seperti harga diri yang rendah dan kepuasan hidup rendah, kemungkinan rentan terhadap kesulitan selama menopause.
      • Respon seorang wanita terhadap menopause telah ditemukan sejalan dengan responnya  dengan peristiwa kehidupan panting di dalam hidupnya, seperti pubertas dan kehamilan.
      • Wanita yang tenikat pada banyak melahirkan anak dan aktivitas mengasuh anak paling rentan untuk mendenita selama tahun-tahun menopause.
      • Permasalahan tentang ketuaan, kehilangan kemampuan metahinkan anak, dan perubahan penampilan dipusatkan pada kepentingan sosial dan simbolik yang melekat pada perubahan fisik menopause.
      • Penelitian epidemiologis tidak menunjukkan peningkatan gejala gangguan mental atau depresi selama tahun-tahun menopause, dan penelitian tentang keluhan psikologis tidak menemukan adanya frekuensi yang lebih besar pada wanita menopause.
      • Terapi: gangguan psikologis harus dipeniksa dan diobati tenutama oleh tindakan psikotenapetik dan sosioterapettik yang sesuai. Psikoterapi harus tenmasuk penggalian stadium kehidupan dan anti ketuaan dan reproduksi bagi pasien. Pasien harus didorong untuk menenima menopause sebagai penistiwa kehidupan alami dan untuk mengembangkan aktivitas, ininat, dan kepuasaan baru. Psikoterapi juga harus memperhatikan dinamika keluarga. Sistem pendukung keluarga dan sosial Iainnya jika diperlukan.
    3. Amenore Idiopatik
      • Hilangnya siklus menstruasi normal pada wanita yang tidak hamil dan pramenopause tanpa adanya kelainan stuktural otak, hipofisis, atau ovarium.
      • Amenore dapat teijadi sebagai salah satu cmi sindroma psikiatrik klinis yang kompleks, seperti anoneksia nervosa dan pseudokiesis.
      • Fungsi menstruasi yang terganggu (menstruasi yang lebih cepat atau lambat) adalah respons seorang wanita sehat terhadap stres. Stres ringan seperti meninggalkan numah untuk masuk ke perguruan tinggi atau stres berat dapat berpenganuh.
      • Sebagian besar wanita, siklus menstruasi kembali normal tanpa adanya intervensi medis, walaupun kondisi stres terus berjalan.
      • Psikoterapi dilakukan untuk alasan psikologis, bukan hanya sebagai nespon terhadap gejala amenone. Jika amenore sukar diobati, psikoterapi dapat membantu memulihkan menstruasi yang teratur.
V.  GANGGUAN KULIT
  1. Pruritus menyeluruh
    • lstilah “pruritus psikogenik menyeluruh” (generalized psychogenic pruritis) menyatakan bahwa tidak ada penyebab organik.
    • Konflikemosional tampaknya menyebabkan terjadinya gangguan.
    • Emosi yang paling sering menyebabkan pruritus psikogenik menyeluruh adalah kemarahan dan kecemasan yang terepresi. Kebutuhan akan perhatian merupakan karakteristik umum pada pasien.
    • Menggaruk kulit memberikan kepuasaan pengganti utnuk kebutuhan yang mengalami frustrasi, dan menggaruk mencerminkan agresi yang dibalikkan kepada diri sendiri
  2. Pruritus setempat
    • Pruritus ani. Penelitian menunjukkan riwayat iritasi lokal atau faktor sisemik umum. Keadaan ini merupakan keluhan yang mengganggu pekerjaan dan aktivitas sosial. Penelitian terhadap sejumlah besar pasien mengungkapkan bahwa penyimpangan kepribadian seringkali mendahului kondisi dan gangguan emosional seringkali mencetuskan gejala ini.
    • Pruritus vulva. Pada beberap pasien, kesenangan yang didapat dani menggosok dan menggaruk adalah disadani. Mereka menyadari bahwa ml adalah simbolik dan masturbasi. Tetapi elemen kesenangan dinepresi. Sebagian besar pasien yang diteliti memberikan riwayat panjang frustrasi seksual, seringkali diperkuat pada saat onset pruritus.
  3. Hiperhidrosis
    • Keadaan takut, marah, dan tegang dapat menyebabkan meningkatnya sekresi keringat.
    • Benkeringat pada manusia memiliki dua bentuk berbeda: termal dan emosional.
    • Berkeringat emosional terutama pada telapak tangan, telapak kaki, dan aksiia.Berkeringat termal paling jelas pada dahi, leher, batang tubuh, punggung tangan, dan lengan bawah.
    • Kepekaan nespon berkeringat emosional merupakan dasan untuk pengukunan keringat melalui respon kulit galvanik (alat penting dalam penelitian psikosomatik),  biofeedback, dan poligrafi (tes detektor kebohongan.
    • Di bawah keadaan stres emosional, hipenhidnosis menyebabkan perubahan kulitsekunder, warn kulit, lepuh, dan infeksi.
    • Hiperhidrosis dapat dipandang sebagal fenomena kecemasan yang diperantarai oleh sistern sanafotonom.
VI. GANGGUAN MUSKULOSKELETAL
  1. Artrltls Rematold
    • Ditandai oleh nyeri muskuloskeletal kronis yang disebabkan oleh penyakit peradangan pada sendi.
    • Memiliki faktor penyebab herediter, alergik, mmunologi, dan psikologi yang penting.
    • Stres psikologis mempredisposisikan pasien pada artritis rematoid dan penyakitautoimun lain melalui supresi kekebalan.
    • Pasien merasa tenkekang, terikat, dan terbatas. Mereka seringkali memiliki rasa marah yang terepresi karena terbatasnya fungsi otot-otot mereka, sehingga memperberatkekakuan dan imobilitas mereka.
    • Terapi: psikoterapi suportif selama serangan kronis. Istirahat dan latihan harus terstnuktur, dan pasien harus didorong untuk tidak menjadi tenikat pada tempat tidur dan kembali ke aktivitas mereka sebelumnya.
  2. LowBackPain
    • Nyeri punggung bawah seringkali dilaponkan pasien bahwa nyerinya dimulai pada saat trauma psikologis atau stres.
    • Reaksi pasien terhadap nyeri tidak sebandmng secara emosional, dengan kecemasan dan depresi yang berlebihan.
    • Terapi berupa psikotenapi suportif tentang trauma emosional pencetus, terapi relaksasi, dan biofeedback. Pasien harus didorong kembali ke aktivitas mereka segera mungkin.
VII .PSIKO-ONKOLOGI
Karena kemajuan pengobatan telah mengubah bahwa kanker dari tidak dapat disembuhkan menjadi penyakit yang seringkali kronis dan sering dapat diobati, aspek psikiatrik dan kanker (reaksi terhadap diagnosis dan terapi) semakin penting.
 
Masalah Paslen
Jika pasien mengetahui bahwa mereka menderita kanken, reaksi psikologis mereka adalah rasa takut akan kematian, cacat, ketidakmampuan, rasa takut ditelantarkan dan kehilangan kemandirian, rasa takut diputuskan dan hubungan, fungsi peran, dan finansial; dan penyangkalan, kecemasan, kemarahan, dan rasa bersalah. Kira-kira separuh pasien kanken menderita gangguan mental. Di antaranya gangguan penyesuaian (68%). Dengan gangguan depresif berat (13%) dan delirium (8%) merupakan diagnosis selanjutnya yang tersering. Walaupun pikiran dan keinginan bunuh diri sering ditemukan pada pasien kanker, insidensi bunuh din sebenarnya hanya 1.4 sampai 1.9 kali dari yang ditemukan pada populasi umum
 
Faktor Kerentanan Bunuh Diri pada Paslen Kanker
  • Depresi dan putus asa
  • Nyeri yang tidakterkendali baik
  • Delirium ringan (disinhibisi)
  • Perasaan hilang kendali
  • Kelelahan
  • Kecemasan
  • Psikopatologi yang telah ada sebelumnya (penyalahgunaan zat, patologi karakter, gangguan psikiatrik utama)
  • Masalah keluarga
  • Ancaman dan riwayat usaha bunuh din sebelumnya
  • Riwayat positif bunuh diri pada keluarga
  • Faktor risiko lain yang biasanya digambarkan pada pasien psikiatrik
CONSULTATION - LIAISON PSYCHIATRY (PSIKIATRI KONSULTASI­PENGHUBUNG)
Dalam psikiatri konsultasi-penghubung (consultation-liaison I C-L psychiatiy), yaitu suatu bidang keahlian yang berkembang dengan cepat dan semakin diperhatikan. Dokter psikiatrik berperan sebagai konsultan bagi sejawat kedokteran atau profesional kesehatan mental lainnya. Pada umumnya, psikiatnl C-L adalah berhubungan dengan semua diagnosis, terapetik, riset, dan pelayanan pendidikan yang dilakukan dokter psikiatrik di rumah sakit umum dan berperan sebagaijembatan antara psikiatrik dan spesialisasi lainnnya.
Dokter psikiatrik C-L harus mengerti banyak penyakit medis yang dapattampak dengan gejala psikiatrik. Alat yang dimiliki oleh dokter psikiatrik C-L adalah wawancara dan observasi klinis serial. Tujuan diagnosis adalah untuk mengidentifikasi gangguan mental dan respon psikologis tenhadap penyakit fisik, mengidentifikasi diri kepribadian pasien, dan mengidentifikasi teknik mengatasi masalah yang karakteristik dari pasien..
Rentang masalah yang dihadapi dokter psikiatrik C-L adaiah luas. Penelitian menunjukkan bahwa sampal 65 % pasien nawat map medis memiliki gangguan psikiatrik. Gejala paling sering adalah kecemasan, depresi, dan diorientasi.
  
Masalah konsultasl-penghubuñg yang serlng:
  • Usaha atau ancaman bunuh din
  • Depresi
  • Agitasi
  • Halusinasi
  • Gangguantidur
  • Gejala tanpa dasar onganmk
  • Disonientasi
  • Ketidakpatuhan atau menolak menyetujui suatu prosedur
TERAPI GANGGUAN PSIKOSOMATIS
Konsep penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan yang menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala dan gangguan, memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai profesi. Permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik. Kedokteran psikosomatik terutama mempermasalahkan penyakit-penyakit tersebut yang menampakkan manifestasi somatik.
Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani aspek somatik. Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik. keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
  
KESIMPULAN
  • Gangguan psikosomatis merupakan gangguan yang melibatkan antara pikiran dan tubuh. Hal ini berarti bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
  • Komponen emosional memainkan penanan penting pada gangguan psikosomatis.
  • Manifestasi penyakit fisik juga sering diturunkan dan kepnibadian seseorang.
  • Gangguan psikosomatis dapat rnelibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh sehingga
    memerlukan penanganan secara terintegrasi dari ahli medis dan ahli psikiatri.
  • Pengobatan gangguan psikosomatik dani sudut pandang psikiatrik adalah tugas yang sulit.
  • Tujuan terapi haruslah mengerti motivasi dan mekanisme gangguan fungsi dan untuk membantu pasien mengerti sifat penyakitnya.
  • Tilikan tersebut harus menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.
  • Terapi kombinasi sangat bermanfaat untuk mencapai resolusi gangguan struktural dan reorganisasi gangguan kepribadian.

Thursday, 22 September 2011

Sakit Pinggang = Ginjal?

Keluhan nyeri pinggang sering saya jumpai di klinik. Banyak dari mereka menyambungkan keluhan ini dengan pertanyaan, "Apa karena saya kurang minum ya Dok? Perasaan sudah cukup dua liter sehari?"
Baiklah, mari kita lihat satu persatu apa saja penyakit yang gejalanya nyeri pinggang ini.
Berikut adalah beberapa penyebab tersering dari nyeri pinggang atau low back pain:

Peregangan tulang pinggang (akut, khronis) Peregangan tulang pinggang adalah cidera regangan pada ligamentum, tendon dan otot pinggang. Regangan akan menyebabkan luka yang sangat kecil pada organ tersebut. Cidera yang paling sering menjadi biang kerok dari nyeri pinggang ini, disebabkan oleh beberapa hal antara lain, pergerakan yang berlebihan, pergerakan yang tidak benar atau trauma. Disebut akut bila keadaan ini berlangsung dalam beberapa hari atau minggu, dan disebut khronis bila keadaan ini berlangsung lebih dari 3 bulan. Peregangan tulang pinggang sering terjadi pada orang yang berumur diatas 40 tahun. Terkadang keadaan ini bisa menyerang tanpa batasan usia.
Gejala yang timbul dari keadaan ini antara lain adanya rasa tidak nyaman atau nyeri pada pinggang setelah pinggang mengalami tekanan mekanis. Derajat nyeri sangat tergantung dari seberapa banyak otot yang mengalami cidera.
Diagnosis peregangan pinggang ditegakan melalui wawancara untuk mengetahui riwayat trauma yang terjadi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan rontgen.
Penanganan nyeri pinggang oleh karena peregangan yang paling utama adalah mengistirahatkan pingang agar tidak terjadi cidera ulangan. Obat obatan diperlukan untuk meredakan nyeri dan melemaskan otot yang kaku. Bisa pula dilakukan pemijatan, penghangatan dan penguatan otot pinggang, namun tetapi harus dilakukan secara hati-hati.

Iritasi saraf
Serat serat saraf yang terbentang sepanjang tulang belakang dapat mengalami iritasi oleh karena pergeseran mekanis atau oleh penyakit. Keadaan ini termasuk penyakit diskus lumbar (radikulopathy), gangguan tulang, dan peradangan saraf akibat infeksi virus.

Radikulopathy lumbar
Radikulopathy lumbar adalah iritasi saraf yang disebabkan oleh karena rusaknya diskus antara tulang belakang. Kerusakan ini terjadi akibat dari adanya degenerasi dari cincin luar diskus, dan trauma atau kombinasi antara keduanya. Penanganan penyakit ini memerlukan pengobatan konservatif dengan obat obatan atau bila keadaan parah bisa dilakukan tindakan pembedahan.

Kondisi tulang dan sendi
Kondisi tulang dan sendi yang bisa menyebabkan nyeri pinggang antara lain gangguang kongenital (bawaan), gangguan akibat proses degeneratif dan peradangan yang terjadi pada sendi.

Penyebab Lain Nyeri Pinggang
Penyebab lain dari nyeri pinggang antara lain :
Gangguan ginjal
Gangguan ginjal yang sering dihubungkan dengan nyeri pinggang antara lain infeksi ginjal, batu ginjal, dan perdarahan pada ginjal akibat trauma. Diagnosa ditegakan berdasarkan pemeriksaan kencing, dan pemeriksaan radiologi.

Kehamilan
Wanita hamil sering mengalami nyeri pinggang sebagai akibat dari tekanan mekanis pada tulang pinggang dan pengaruh dari posisi bayi dalam kandungan.

Masalah pada organ peranakan
Beberapa masalah pada organ peranakan perempuan yang dapat menimbulkan nyeri pinggang antara lain kista ovarium, tumor jinak rahim dan endometriosis.

Massa Tumor
Nyeri pinggang bisa pula disebabkan oleh karena tumor, baik tumor jinak maupun ganas. Tumor dapat terjadi lokal pada tulang pinggang atau terjadi di tempat lain tetapi mengalami metastase atau penyebaran ke tulang pinggang.

Penanganan : Seperti telah dijelaskan diatas, penanganan nyeri pinggang sangat terggantung dari penyebab nyeri itu. Setiap kasus harus ditangani secara individual untuk mengetahui latar belakang dari keluhannya sehingga dapat dikelola dengan tepat. Prinsip utama penanganan nyeri pinggang adalah mengatasi nyerinya terlebih dahulu, setelah itu baru dicari penyebab dari nyeri pinggangnya. Cara mengurangi nyeri secara mandiri bisa dilakukan dengan relaksasi. Hipnoterapi merupakan cara yang bisa dipertimbangkan untuk mengurangi nyeri selain dengan pain killer drugs.

Sunday, 18 September 2011

Pucuk Labu

Jumat ini seperti biasa gua n beberapa temen kantor pesen sayur. Ada temen gua yang iseng pesen pucuk labu. Gua yang udah mati gaya mau pesen sayur apa lagi, akhirnya latahlah ikut2an, jadinya kita berdua pesen pucuk labu.
Dengan bayangan nanti bisa dimasak pake sambel atau tauco seperti kangkung. Dan gua mantep banget dah ama bayangan gua itu, secara david doyan kangkung tauco dan semua sayur yang dimasak pedes.

Si pucuk labu finally sampe dan setelah gua timang2 sepertinya oke. Ada sulur2nya lagi, bener2 beda deh dari sayur yang biasa gua masak cah bawang putih, kaya brokoli, kacang panjang, siomak. Pasti enak deh pikir gua.

Malemnya gua ama david berdua gugling resep pucuk labu, sepertinya gampang, semuanya bilang dicah doank, ada yang cah pake udang, pake teri, ada juga yang cah ama cabe aja.. sedangkan kita sepakat besok mau coba dikasih pete dan cabe. Secara pete gitu loh, apa aja dicampurin pete enak kan :D

Tapi karna besoknya gua males ke pasar hehehe... jadi rencana diubah jadi tauco dan cabe ajah. Pagi2 nungguin tukang bersihin ac dulu, akhirnya ac gua dicuci juga setelah setaon wkwkwk.. jorok ya gua, abisan gua paling males panggil tukang bersihin ac. Seringnya ac jadi bersih tapi rumah gua jadi kotor. Apalagi mesti geser2 ranjang, mana tukang ac yang terakhir jorok, aernya nyiprat kemana2 sampe2 gua tergopoh2 tutupin koran semua elektronik di kamar, trus tangannya belepotan di dinding sekitar ac.

Jadinya tuh ac biasanya gua bersihin filternya doank. Tapi anehnya ac sharp ini, filternya selalu bersih. Jadi percuma aja gua bersihin filternya, hampir gak ada debu. Yang kotor blowernya, dan gak bisa dilepas. Beda ama ac lg gua dulu, filternya sering gua copot trus cuci sendiri karna filternya selalu penuh dengan debu.

Setelah mengamati tukang ac itu bekerja, literally gua bener2 duduk di kursi meja rias persis di belakang orangnya selama dia bersihin ac, gua akhirnya menyimpulkan gua bisa pake ini orang. Kerjanya gak jorok dan aer kotor gak nyiprat2. Gak heran sih sebenernya, karna gua dapet orang ini dari paman gua, dan paman2 gua itu rata2 rada freak soal kebersihan dan kerapihan.

Paman gua yang keempat - yang rekomen tukang ac ini, ubin di rumahnya tertata dengan sangat rapih, sampe2 kata david natnya (nat itu jarak antar ubin) sama antara nat yang satu dengan nat yang lain. Waktu dia liat rumah gua, komen dia adalah rumah gua itu bikinnya kasar banget. Dindingnya kasar, natnya timpang2 hahaha... padahal menurut gua rumah gua oke kok :P

Lalu paman gua yang keenam, dia beli rumahnya yang skarang hampir bersamaan dengan gua beli rumah gua. Tapi gua beli rumah baru, dia beli rumah second trus direnov.
And believe it or not, until now renov rumahnya itu blom kelar2 wkwkwkwk :P

Dia sampe ada tukang tetap bertahun2 untuk ngerjain rumahnya itu. Dan udah ada tukangnya yang hopeless dan resign karna tak tahan lagi dengan perangai paman gua yang antik.
Tukang itu bilang (tukang ini pernah ke tempat gua pasang teralis, jadi dia curhat2 gitu) katanya pernah pagi2 disuruh pasang ubin. Dari pagi dia pasang ubin, eh pas sore si bapak pulang katanya ubin saya gak rapih, saya disuruh congkel lagi. Bener2 dicongkel trus besokannya disuruh pasang ulang loh.

Banyak lagi dia cerita yang lain sampe2 gua ama david ngekek2 denger ceritanya, yah kita pernah liat sendiri sih carportnya udah bagus2 dipasang, eh besok2 dibongkar lagi karna kurang miring, jadinya itu rumah ndak kelar2.
Dan selama ini paman gua tetep tinggal di rumah itu, cuma kalo ada perombakan yang berdebu aja dia ngungsi tinggal di hotel abis itu balik lagi. Rumahnya juga gak sekecil rumah gua, rumahnya gede, dan dari awalnya 2 lantai dia bikin 4 lantai.

Tapi tetep aja... kok betah coba tinggal di rumah yang selalu under construction dan juga gua gak abis pikir itu rumah udah abis berapa duit ya, orang gua kalo ada tukang di rumah lebih dari seminggu aja udah gerah pengen cepet2 kelar abis duit keluar mulu beli inilah itulah, bayar tukanglah :D

Padahal paman gua yang ketiga (iyaa paman gua banyak ;P) udah ngomong loh waktu paman gua yang keenam ini pindahan dan kita selametan di rumah itu, ini rumah enaknya dirobohin aja, trus lu bangun ulang dari awal, palingan 6 bulan kelar.
Waktu itu gua pikir, wah sayang juga rumah ini dirobohin ya, padahal kan masih layak tinggal, gak jelek2 amat. Tapi sekarang gua sangat mengerti kenapa waktu itu paman gua bilang gitu. Karena kalo waktu itu dirobohin, sekarang pasti udah kelar. Sedangkan sekarang udah 6 taon loh, masih blom rampung aja.

Eh kok malah ngolor ngidul ngomongin paman gua. Back to pucuk labu. Abis tukang ac pulang, gua mulai mengolah pucuk labu. Dipotong2, dicuci, dan gua mulai memasak. Udah beberapa menit gua oseng2, warnanya tetep ijo mentereng gitu, gak layu.
Gua tambahin aer lagi, gua oseng lagi, tetep aja begitu. Gua mulai sangsi, gua teken2 pake sutil kok ya masih keras aja batangnya, akhirnya gua nyerah gua oseng sebentar lagi trus gua angkat aja deh, semoga aja pas dimakan gak alot tapi kres2.

Tapi ternyata.. pas dimakan keras, kaya daun singkong, bahkan ada beberapa yang dikunyah gak ancur2.. oalah..
Kata david masakan gua gagal, padahal masih ada setengah plastik lagi. Tapi biar kata gagal, tetep aja kita abisin, gua makan sayurnya, david gadoin tauconya.

Yah.. dan hari ini pucuk labu sisa setengah plastik itu david yang masak. Dia mau masak kuah katanya supaya lebih lembek. Tapi akhirnya... wkwkwk.. tetep aja alot :P
Mana kagak enak lagi, dia aja yang masak cuma makan sesendok abis itu katanya buang ajalah. Untung gua berdedikasi menghabiskan semua pucuk labu itu. Kalo gak inget itu organik (baca: mahal) gua juga ogah abisin :P
Lebih mending kemaren pake tauco setidaknya tauconya enak, jadi ketolong, kali ini dikuahin gak banget dah.

Sebenernya sih rasa sayurnya enak juga, mirip2 daun singkong, tapi entah kenapa alot, ada beberapa yang bisa dimakan, ada yang dikunyah2 gak ketelen. Kita berdua berkesimpulan, bukan kita yang gagal masaknya, emang pucuk labunya tua nih.
Besok gua telpon ah orangnya, masa gua dikasih pucuk labu tua. Tapi besok gua tanya dulu temen gua gimana hasil pucuk labu dia, jangan2 sukses lagi hahaha.. tapi masak iya, gak mungkinlah, pasti alot juga, 99% gagal keknya :P

Malemnya kita nonton dvd film julie and julia. Ceritanya tentang memasak. Gua jadi pengen les memasak jadinya. Selama ini gua kan masak asal cemplung aja. Jadi masak sayur apapun rasanya sama aja, karna bumbunya yah itu2 aja semua botol yang ada di dapur gua kecrotin hahaha...
Seru juga kali ya rasanya masak dengan bumbu macem2, ngikutin resep, hebat juga itu film memotivasi gua yang super extra males memasak ini pengen masak.

Akhir cerita pucuk labu gua, david bilang jangan beli sayur ini lagi.. hihihi...

Friday, 16 September 2011

Psikologi Kebencian


Kebencian merupakan sebuah emosi yang sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, atau antipati untuk seseorang, sebuah hal, barang, atau fenomena. Hal ini juga merupakan sebuah keinginan untuk, menghindari, menghancurkan atau menghilangkannya. Kadangkala kebencian dideskripsikan sebagai lawan daripada cinta atau persahabatan; tetapi banyak orang yang menganggap bahwa lawan daripada cinta adalah ketidakpedulian. (sumber : Dikutip dari : id.wikipedia.org/wiki ). Benci (hate) adalah salah satu bagian dari sifat-sifat manusia.

Dalam ilmu psikologi, Dr. Sigmund Freud mendefinisikan benci sebagai pernyataan ego (ke-akuan) yang ingin menghancurkan sumber-sumber ketidak bahagiaannya.

Definisi benci yang lebih baru menurut Penguin Dictionary of Psychology (Wikipedia) adalah “emosi yang dalam dan bertahan kuat, yang mengekspresikan permusuhan dan kemarahan terhadap seseorang, kelompok, atau objek tertentu”.

Teori-teori tentang Benci

a. Penjelasan biologis mengenai benci

Agresi beserta manifestasi internalnya sebagai sisi kemanusiaan yang memiliki dasar biologis dan bersifat alamiah; artinya, secara biologis kita memiliki predisposisi yang bersifat bawaan genetis untuk membenci.

Penjelasan Etologis

Etolog Konrad Lorenz (1967) dan Eibl-Eibesfeldt (1971,1979) mengatakan bahwa agresi merupakan produk dari proses evolusioner yang bersifat adaptif. Menurut pendapat ini, kebencian bersifat terberi karena agresi bersifat adaptif bagi evolusi spesies kita.

Para teori etologi ini juga mengatakan bahwa berbagai tendensi agresif alamiah dapat saja terdistorsi dan kadangkala diekpresikan secara tidak tepat.sebagai contoh, karena masyarakat modern kita mengekang berbagai tindakan agresif ,maka frustasi berawal dari agresi alamiah ini dapat menghasilkan suatu bentuk penumpukan agresi yang memerlukan tindakan untuk mengekspresikan atau melampiaskan agresi itu.

Berbagai solusi etologis terhadap agresi sering kali terbukti tidak afektif. Penjelasan etologis umumnya memberikan kesan bahwa agresi tidak dapat dihindari. Jika hal itu terkait dengan gen kita, maka hal itu tidak dapat dihentikan (Silverberg & Gray,1992,Stoff & Cairns,1996).

Gangguan Otak

Kepribadian agresif dan penuh kebencian melibatkan gangguan struktur dan gangguan otak yang disebabkan oleh obat. Berdasarkan sejumlah eksprimen yang dilakukan di dalam laboratorium hewan diketahui bahwa stimulasi terhadap sejumlah pusat di otak dapat menghasilkan kemarahan yang intens dan tak kunjung padam (Adams dkk,1993).Memang,beberapa orang yang terbukti memiliki kecenderungan untuk berang dan menaruh kebencian yang hebat ditemukan memiliki struktur otak yang abnormal serta cedera pada dan dekat hipotalamus dan amigdala (lobus temporal).

Gangguan otak biasanya diasosiasikan dengan kemarahan mendadak dan tidak terkontrol alih-alih dengan rencana untuk membunuh jutaan orang yang dilakukan secara dingin, penuh perhitungan dan perencanaan.

Berbagai studi yang menggunakan positron emission tomography (PET) scan memperlihatkan bahwa orang dengan kepadatan dari reseptor dopamin yang rendah (reseptor-reseptor D2) yang terletak diarea basal ganglia dari otak, cenderung memiliki kepribadian yang menjaga jarak dan dingin (Farde,Gustavsson,Josson,1997). Dopamin,sebuah neurotransmiter (pembawa pesan kimiawi) penting berkaitan dengan suasana hati (mood) dan berbagai defiseinsi neurotransmiter sebagian ditentukan secara genetis (Hendricks dkk,2003).

b. Pendekatan psikoanalitik mengenai benci

Freud membuat dalil mengenai eksistensi insting atau dorongan agresif. Pada kenyataannya,ia berteori bahwa semua manusia memiliki insting kematian. Thanatos yang merupakan dorongan yang terarah pada kematian dan prilaku meruusak nilai (self-destructive), yang namanya diambil dari dewa kematian Yunani.Meskipun demikian, prilaku merusak diri tidak diterima didalam masyarakat modern (Weiningger,1996). Seperti hal nya impuls-impuls seksual yang tidak dapat diterima secara sosial, energi ini harus dilepaskan atau disalurkan dengan cara-cara yang secara sosial tepat.

Salah satu mekanisme yang dilibatkan dapat berupa memproyeksikan impuls-impuls kematian ke objek yang dibenci , yakni dengan mengatribusikan kebencian keorang lain. Sebagai contoh, mereka mungkain melihat orang lain sebagai sosok yang agresif, penuh kebencian, dan berbahaya.

c. Pandangan Neo-Analitik mengenai benci

Jung berhipotesis mengenai sejumlah elemen yang umum disemua kepribadian manusia, arketip, salah satu arketip khusus , yang disebut shadow, adalah tempat insting-insting hewan dan primitif berada. Dengan demikian, menurut Jung ekpresi shadow yang tidak sesuai atau terkontrol dapat mengakibatkan kebencian dan agresi yang amat kuat seperti yang terjadi kepada Hitler, selain itu, ingatlah bahwa Jung menjelaskan tipe-tipe psikologis yang didasarkan pada kedudukan individu dalam tipologi.

Alfred Adler dan Karen Horney juga berkeyakinan (seperti Freud dan Jung) bahwa kepribadian yang bermusuhan dan penuh kebencian berkembang pada masa kanak-kanak,namun para ahli neu-analitik ini tidak menyatakan bahwa kepribadian seperti itu ditimbulkan secara langsung dari insting atau dorongan biologis.

Karen Horney yang juga memandang masa kanak-kanak sebagai sesuatu masa kehidupan dimana seorang individu dapat menjadi penuh kebencian,menyatakan bahwa anak-anak harus merasa aman ketika kanak-kanak agar dapat berkembang sebagaimana semestinya.

Horney menyajikan cara-cara pertahanan diri yang dapat dipakai anak-anak yang menjadikorban kekerasan.Salah satu mekanisme ini adalah meraih kekuasaan dan superioritas terhadap yang lain,yang melawan perasaan bahwa seorang tidak berdaya atau diperlukan secara salah.

Menurut Erikson,tahap-tahap psikososial yang tidak diselesaikansecara berhasil akan menghasilkan individu yang memilki sifat pemarah, bermusuhan, dan penuh kebencian:

1) Anak yang tidak mengembangkan kepercayaan yang memadai semasa bayi,cenderung mengembangkan pola untuk senantiasa curiga dalam kehidupan kelak.

2) Anak yang diperlukan deengan cara yang bermusuhan ketika dia didorong mencapai otonomi dapat menjadi destruktif dan marah.

3) Akhirnya,jika inisiatif anak dihukum dan dihalangi alih-alih ditantang secara realistik,anak bisa gagal dalam mengembangkan superego yang memadai. Individu ini, yang orang tua nya kurang membekalinya dalam ketiga tahap perkembangan psikososial ini, cenderung menjadi orang dewasa yang penuh kebencian dan agresif.

d. Kebencian dan Otoritarianisme:Erich Fromm

Fromm menekankan iklim sosial seperti halnya sejarah pribadi individual sebagai sumber kemarahan dan kebencian. Fromm berteori bahwa individu merasa lebih sendiri dan terisolasi seiring dengan kemajuan peradaban dan seiring dengan meningkatnya kebebasan individual yang diperoleh orang-orang. Dalam rangka meniadakan perasaan kesepian dan alienasi, ia berteori beberapa orang meninggalkan kebebasannya, melepaskan individualitas dan prinsip-prinsipnya agar dapat menjadi bagian kelompok,berapapun harganya.

Dengan demikian, Fromm memadukan determinan biologis dan non biologis yang menghasikan kapasitas untuk melakukan kekerasan, dan ia menerima bahwa kanalisasi secara tidak tepat dari dorongan-dorongan ketika kanak-kanak dapat menciptakan berbagai masalah sepanjang hidup,namun ia meletakkan kesalahan terbesar pada kegagalan dalam menemukan makna didalam sebuah masyarakat yang kosong.Dengan demikian ia menggabungkan elemen-elemen dari pandangan eksistansial dan humanistik dalam memandang kebencian.

e. Pendekatan humanistik menngenai kebencian

Mereka menggaris bawahi pentingnya moralitas, keadilan, komitmen, yang melibatkan pemikiran yang kompleks dan kesadaran diri.kontras dengan para psikoanalis dan neo-analis, para psikolog humanistik lebih banyak berfokus pada individu-individu yang matang dan mencapai aktualisasi diri dibandingkan berfokus pada individu yang penuh kebencian yang banyak sekali jumlahnya. Mereka lebih melihat aspek-aspek yang mengarah pada sisi positif, dari apa yang dikelliru dalam pengasuhan.meskipun demikian, penjelasan humanistik mengenai kebencian individu dapat diturunkan dari teori-teorinya.

Psikolog humanistik Carl Rogers berkeyakinan bahwa emosi negatif berasal dari kurangnya penghargaan positif dalam kehidupan individu,khususnnya yang diberikan oleh orang tua selama masa kanak-kanak.

Abraham Maslow
(1968)juga memperlihatkan bahwa berbagai ketakutan keraguan kita mengenai diri sendiri berakar dari ketidak matangan dan kebencian. Ia berfokus pada berbagai kebutuhan akan keamanan yang tidak terpenuhi sebagai penyebab terjadinya orang dewasa yang neurotik. Seperti Rogers, Maslow bersikeras berpendapat bahwa kejahatan dan kebencian bukan lah sisi mendasar dari kepribadian seseorang melainkan merupakan akibat dari defisiensi lingkungan.

f. Kebencian sebagai suatu trait

Bagi para teoris trait , trait-trait seperti agresif merupakan bagian dari organisasi dinamik kepribadian, bagian-bagian kepribadian yang menggiring individu untuk bertindak dengan cara-cara tertentu. Raymond cattel menggunakan analisis faktor untuk menyaring trait-trait manusia yang umum, mengisolasi trait-trait tertentu, yang bila menggejala secara kuat membentuk trait-trait dari seorang pembunuh.

Bagi Hans Eysenck, dimensi kepribadin yang paling relevan dengan kebencian adalah psikotism. Seorang yang tinggi dalam dimensi ini memiliki sifat impulsif, kejam, keras hati, dan antisosial.

Dalam riset terapan mengenai agresi, psikolog seymaur feshbach (1971) memandang kemarahan sebagai suatu reaksi emosional yang mencapai puncaknya dalam bentuk perilaku yang penuh kebencian. Feshbach menemukan bahwa berbagai respon emosional lainnya seprti empati dan altruisme dapat melawan agresi. Artinya, feshbach mengatakan bahwa empati dapat menghambat respon seseorang terhadap konteks sosial yang membangkitkan berbagai perasaan dan perilaku agresif.

g. Pendekatan kognitif terhadap benci

Mereka justru menekankan bahwa bukan pengalaman riil individu,namun cara seseorang menginterpretasikan atau memahami berbagai relasi dan pengalamannyalah yang menentukan tindakan-tindakannya.menurut pandangan ini,kebencian dan agresif tergantung pada bagai mana cara kita belajar menjelaskan dunia.

George Kelly
sebagai contoh,melihat pemahaman personal menngenai orang lain. Ia menemukan bahwa beberapa orang tidak membuat banyak pembedaan diantara orang lain mereka cendrung lebih melihat orang lain sebagai sama satu sama lain. Orang yang lebih otoritarian seperti ini,memperlihatkan apa yang oleh Kelly(1963) disebut kognitif simplicity. Hal iini memungkinkan seseorang menganggap seluruh kelompok orang sebagai musuh-musuhnya.

h. Teori belajar:kebencian sebagai perilaku yang dipelajari

Berbagai teori belajar menyatakan bahwa agresi diperoleh melalui berbagai mekanisme yanng sama seperti semua perilaku. Teori belajar klasik menyatakan bahwa emosi yang penuh kebencian merupakan respon – respon yang terkondi, sementara teori belajar operant menekankan peran dari pennguatan dan hukuman dalam membentuk agresivitas yang dipelajari. Teori belajar sosial menggabungkannya dengan menyatakan bahwa perilaku benci merupakan hasil dari modeling, observasi, imitasi, dan vicariously reinforced (sangat dibesarkan).

Memang benar bahwa jika perilaku benci memperoleh penguatan, entah karena itu dapat menarik perhatian, entah karena membangkitkan pujian dari orang lain, atau karena menguntungkan material, maka orang itu akan terus bertindak dengan cara bermusuhan. Pada kenyataan, sebenarnya agresi dapat semakin kuat.

i. Perbedaan budaya yang terkait kebencian

Beberapa masyarakat tergolong bersifat sangat agresif, sedang yang lain hanya memperlilhatkan sedikit permusuhan dalam relasi antarpersonal. Rupanya, ada sesuatu dalam tatanan sosial yang terkait dengan fakta ini.

Bahwa diperbatasan Amerika Serikat, ditemukan bahwa perbedaan budaya memprediksikan perbedaan taraf permusuhan. Nisbett dan Cohen (1996) yang membandingkan bahwa dinegara-negara bagian utara AS dengan negara bagian selatan,menemukan bahwa rata-rata pembunuhan yang lebih tinggi di selatan.

Benci yang salah arah

Dari pengertian dan penjelasan tentang benci diatas kami mengambil kesimpulan bahwa benci yang salah adalah benci yang berlebihan yang menyebabkan orang lain menderita. Contoh: teroris. Dan benci kepada kebenaran.

Biokomia Cinta


Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan, dsb. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita, dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.

Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan bahwa cinta adalah salah satu dari macam emosi yang berupa: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kemesraan.

Teori-Teori tentang Cinta

a. Penjelasan dari Teori PEA

Ada beberapa tokoh yang menyatakan pendapatnya, yaitu;
Helen Fischer, seorang antropologi dari Amerika serikat, yang melakukan penelitian selama bertahun-tahun yang menyatakan bahwa “Cinta itu tidak abadi!”. Disini ia mengungkapkan dan meneliti cinta yang dilihat dari hubungan antara jenis pasangan terutama yang sedang dilanda asmara, fenomena cinta sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dirasakan. Nah, ketika mata bertemu pandang yang berlanjut pada persentuhan tangan, biasanya orang akan merasakan gejala yang sama:- darah mengalir lebih cepat, semburat merah muncul di pipi, peluh dingin membasahi telapak tangan, bahkan menghela napas pun jadi terasa berat. Dalam situasi seperti inilah hati bagaikan bergolak, disesaki oleh gelora cinta. Amboi indahnya!

Menurut Helen Fischer yang seorang peneliti cinta di Universitas Boston, Amerika Serikat ini lagi, reaksi romantik seperti itu timbul karena kerja sejumlah hormon yang ada dalam tubuh, khususnya hormon yang diproduksi otak. Gelora cinta manusia yang meluap-luap tidak jauh berbedanya dengan reaksi kimia. Malangnya, senyawa antara hormon ini sangat singkat. Dan, berdasarkan teori Four Years Itch yang diumumkannya, daya tahan gelora cinta itu hanya mencapai empat tahun saja. Setelah itu, hancur tanpa kesan lagi.

Sebagaimana yang terjadi pada sebuah reaksi kimia, wujudnya tidak akan pernah kembali seperti semula. Sesungguhnya pula, perasaan yang menghanyutkan dalam masa jatuh cinta tadi bisa dianalisis secara kimia. Jadi, prosesnya dimulai pada saat mata saling bertemu. Tangan yang bersentuhan bagaikan dialiri arus eletrik. Fenomena ini sudah pasti karena reaksi hormon tertentu yang ada di otak, mengalir ke seluruh saraf hingga ke pembuluh darah yang terkecil sekalipun. Inilah yang membuat wajah memerah, dan timbul perasaan “melayang”. Aliran darah yang demikian cepat membuat bernafas pun menjadi berat. Mak serrr.... gitulah.

Ia menentukan beberapa fase kerja hormon dalam otak ketika seseorang sedang jatuh cinta, yaitu sebagai berikut:

· Fase pertama:

Dapat dijelaskan sebagai berikut, Ketika hubungan mata sedang berlangsung, tertanam suatu `kesan’. Pada fase ini otak bekerja bagaikan komputer yang menyediakan sejumlah data, dan menserasikannya dengan sejumlah data yang pernah dirakam sebelumnya. Ia mencari apa yang membuat pesona itu muncul. Kalau sudah begini, bau yang ditimbulkan oleh lawan jenis pun boleh menjadi pemicu timbulnya rasa romantik.

· Fase kedua:

yaitu munculnya hormon phenylethylamine (PEA) yang diproduksi otak. Inilah sebabnya ketika terkesan oleh seseorang, secara otomatis senyum pun terkembang. Spontan, kilang PEA pun aktif bekerja ketika peluit cinta mula dibunyikan. Hormon dopamine dan norepinephrine yang juga terdapat dalam saraf manusia, turut mendampingi. Hormon-hormon inilah yang menjadi pemicu timbulya gelora cinta. Setelah dua tiga tahun, efektivitas hormon-hormon ini mula berkurang.

· Fase ketiga:

yaitu ketika gelora cinta sudah reda. Yang tersisa hanyalah kasih sayang. Hormon endorphins , senyawa kimia yang identik dengan morfin, mengalir ke otak. Sebagaimana efek yang ditimbulkan morfin dan sebagainya, saat inilah tubuh merasa nyaman, damai, dan tenang. Ada hormon lain yang akhir-akhir ini dihubungkan dengan cinta. Diproduksi oleh otak, hormon ini membuat saraf menjadi sensitif. Saat itulah tubuh akan didorong untuk merasakan sensasi cinta. Hormon ini pulalah yang diduga boleh mendorong terjadinya proses orgasme ketika bercinta atau melakukan hubungan seksual.

Ada juga teori cinta dengan pendekatan bioneurologi yang melihat, membandingkan, dan mengamati struktur otak orang gila misalnya, atau psikologi dan fisiologi yang mempelajari kaitan antara perilaku manusia dan pengaruh hormon pada tubuhnya.
Cinta sebenarya sama dengan emosi. Kalau emosi seringkali ditentukan oleh sejumlah hormon (terutama dalam siklus menstruasi), maka hal yang sama juga berlaku dalam proses jatuh cinta.

Menurut Diane Lie seorang psikolog pada sebuah Universitas di Beijing membentangkan teorinya, meskipun urusan cinta dapat dijelaskan secara kimia, namun kecamuk cinta tidak semata-mata hanya ditentukan oleh aktivitas hormon, dan manusia tidak berdaya mengatasinya. Juga tidak selalu berarti bila kadar hormon berkurang, berarti getarannya pun berkurang.

Memang, pemacu semburan cinta (PEA) tadi, memiliki pengaruh kerja yang tidak tahan lama. Hormon yang secara ilmiah memiliki kesamaan dengan amfetamin ini, hanya efektif bekerja selama 2-3 tahun saja. Lama kelamaan, tubuh pun bagaikan imun, `kebal’ terhadap si pemicu gelora.

Masih menurut Diane, proses jatuh cinta itu tidak semata-mata hanya dipengaruhi hormon dengan reaksi kimianya. Apalagi dalam proses orang bercinta hingga menikah, banyak faktor sosial lainnya yang menentukan. Contohnya proses jatuh cinta yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai ananing tresno jalaran soko kulino (cinta datang karena biasa berinteraksi). Demikian pula ketika kita marah dan ingin memaki orang lain, hormon memang punya pengaruh khusus, namun tetap ada faktor lain yang ikut menentukanya.

Manusia merupakan makhluk yang paling kompleks. Jika proses reaksi kimia terjadi pada hewan, barulah teori rendahnya daya tahan PEA ini boleh dipercayai. Jadi, teori Helen Fiscer yang disebut Four Years Itch juga boleh dipatahkan. Pendeknya, teori PEA dilandaskan pada pendekatan ilmu eksakta, sedangkan teori Four Years Itch oleh Fischer yang lingkaran penelitiannya mencakup 62 jenis kultur ini, lebih menggunakan pendekatan sosial. Fischer, yang juga penulis buku ” Anatomy of Love “, menemukan betapa kasus perceraian mencapai puncaknya ketika usia perkawinan mencapai usia empat tahun. Kalaupun masa empat tahun itu telah dilalui, katanya, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kondisi ini membuat perkawinan mereka boleh bertahan hingga empat tahun lebih.

Menurut pandangan Diane, dalam hubungan suami istri atau bercinta, selain cinta, ada hubungan lain yang sifatnya friendship, (persahabatan). Kalau setelah beberapa waktu cinta itu menipis – mungkin karena tersisihkan hal-hal lain, misalnya karena rutin yang dilakukan adalah hal-hal yang sama juga setiap hari, lalu segalanya jadi terasa membosankan.

Nah tentunya sekarang kita sadar, bahwa begitulah proses mengembang-meredupnya cinta. Dengan demikian ini dapat menjadi bahan antisipasi bagi pasangan menikah dan menjadi bahan untuk menemukan cara agar cinta selalu hangat di tengah perjalanan hubungan.

Wallahu a'lam.

Monday, 5 September 2011

Go North

Selesai sudah libur lebaran.... dan juga libur terakhir kita di taon 2011 ini...

Ah kaya gua ikut libur aja huehehe... tapi lumayan juga sih libur kemaren, walaupun gua gak full libur seminggu, tapi cukup menikmatilah gua lah, dateng ke kantor masih wangi, pulang kantor masih ada matahari, ternyata yang bikin capek ke kantor itu perjalanannya ya, kalo gak macet mah kerja gak stress2 amat ;)

Tadi pagi sih jalanan masih blom terlalu ganas, orang masih kecapekan kali ya pulang liburan, anak sekolah juga blom masuk, tunggu nanti anak2 udah mulai sekolah.. hmmm... gua pasti bakal memohon2 minta lebaran lagi :P

Untuk merayakan hari terakhir libur lebaran, kita kemaren makan di hakata ikkousha. Gua udah baca resto ini dimana2, jadi latah pengen cobain juga. Apalagi gua udah males masak, david juga gua kira udah males makan masakan gua (cuma gak berani ngomong aja), stok makanan di kulkas juga udah menipis, ke mall bosen, yasud akhirnya makan di situ deh kita.

Restonya di muara karang, di sebelah kiri jalan kalo dari mega mall, persis sebelum sky tour. Baru sampe udah susah cari parkir. Begitu menginjakkan kaki ke depan restonya udah ada antrian panjang. David langsung menyesal mau kesini, untung ada bangku2 kecil yang masih kosong, jadi gak berdiri antrinya, duduk di bangku kayu yang dialasin busa, cuma gak ada ac ajah.

Setelah kita datang dan duduk antri, ada pasangan juga yang datang, dan tampang cowonya persis kaya david waktu datang hahaha... perpaduan antara tak percaya melihat antrian di depan pintu dan merutuki diri knapa tadi mau diajak ke sini, tapi hopeless gak bisa berbuat apa2, jadi tampangnya lucu banget dah, gua liatnya langsung ketawa sambil bisik2 unjukin ke david, tampang orang itu persis kaya lu tadi deh kikikik :D

Gua duduk di depan sekitar 15 menit, abis itu dipanggil masuk deh ke dalam. Tempatnya gak gede, suasananya kayu2 gitu, gua dapet tempat duduk di depan dapur, jadi gua bisa liat kokinya masak.
Kesan pertama gua disini adalah pegawainya buanyaak. Jadi walaupun rame dan suasana hingar bingar, kita gak bakal tereak2 panggil pelayan minta menu, minta refill, karena mereka selalu beredar di sekeliling kita.

Tukang masaknya juga banyak, di tengah2 resto yang lagi rame2nya mereka masih sempet berdiri2 santai. Gak semuanya pontang panting masak, karena ya itu tadi, pegawainya banyak. Mungkin pikir orang jepang, gapa2 banyak, bayarnya murah ini wuehehe..

Begitu kita duduk, langsung disodorin menu, gak berapa lama, menunya datang. Cepet banget. Makanya walaupun rame, antrinya juga gak lama. Karena udah laper dan males liat2 menu lagi, kita pesen menu favoritnya aja deh, pork ramen, ama pork gyoiza. Minumnya ocha dingin refill.

Kuah ramennya gurih banget, enak. Telornya juga enak, 7/8 matang, putihnya masih lembut, tapi kuningnya gak cair luber2, gimana caranya yah bisa bikin telor kaya gitu, ada alatnya kali ya, kalo gak masa semua telornya sama tingkat kematangannya.

Sedangkan kuahnya sebenernya rasanya udah cukup gurih sih, gak usah ditambahin apa2 juga udah enak, tinggal kasih sambel doank. Tapi karna banyak add ons di depan gua, yah tergelitik lah gua untuk mencoba hehe.. gua tambahin kecaplah, gua tambahin bawang putih lah, jadi makin asinlah kuah gua hihihi..

Bawang putihnya disedian bulet2, ama crushernya, gua jadi pengen beli crusher bawang putih jadinya, kayanya enak tinggal dipencet doank bawang putihnya langsung crot keluar. Gak usah dipotong2 lagi kalo masak.

Kalo david gak usah ditanya, dari liat dia makan seru begitu juga gua tau dia suka. Untunglah ya, kalo gak bisa nyap2 dia, udah macet2 antri2 tapi makanannya gak enak. Tapi mestinya gua pesen chicken ramen aja kali yah.. abis porknya ada lemaknya, gua kan gak doyan lemak (kecuali garing), jadinya lemaknya gua lungsurin ke david deh.

Selagi makan, minuman kita direfill terus, gak usah tereak2 manggil mbaknya. Pelayanan memuaskan deh. Sepertinya yang masak orang indo, tapi supervisornya orang jepang. Jadi abis mereka masak, dikasih icip ke orang jepang itu, kalo orang jepangnya udah bilang ok dengan tanda jempol dan telunjuk membentuk lingkaran, baru deh makanannya disajikan.

Gua jadi keingat si tan - suaminya si nat, kalo ke sana diajakin ngomong bahasa jepang gak ya hahaha.. abis dia lebih mirip orang jepang daripada orang jepang disana :P

Walaupun cuma makan ramen 1 mangkok tapi gua kenyang banget loh. Kata david kuahnya yang bikin kenyang. Mungkin karna kuahnya berasa banget ya, jadinya bikin kenyang. Sebenernya asik juga kalo besok2 balik lagi buat nyobain menu laen, tapi karna masih rame jadi kurang begitu menikmati suasana jadinya. Makannya keburu2, trus penuh jadi berisik banget.

Kelar makan, bawa bill yang ditempel di meja ke kasir. Pertanyaannya berapakah total bill yang harus gua bayar?
Jawabannya 133 ribu hakhakhak.. bukan kuis koookk :D
Pork ramen 38K, ocha 9K, gyoiza 25K.

Abis makan kita pulang deh. Bener2 keluar cuma buat makan siang doank :)

Kenapa warga rohingya diusir dari negaranya

  Warga Rohingya telah mengalami pengusiran dan diskriminasi di Myanmar selama beberapa dekade. Konflik terhadap etnis Rohingya bersumber da...